Tampilkan postingan dengan label Delinkuen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Delinkuen. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2009

DAMPAK POLAH ASUH AGRESI TERHADAP PSIKOLOGIS ANAK


ASW , 36 warga jalan Nangka, Kecamatan Magersari, Kota mojokerto ini memang keterlaluan. Betapa tidak hanya karena nilai ulangan anaknya jelek, ia tega menganiaya anak kandungnya sendiri bernama GTS, 8, akibatnya, ASW pun harus berurusan dengan pihak kepolisian setelah dilaporkan oleh Sud, 36, ayah korban yang juga mantan suami pelapor (Radar Mojokerto, Kamis 21 Mei 2009).

Model polah asuh agresi seperti kasus ASW di atas kelihatannya masih sering terjadi di sekitar kita, terlebih dalam keluarga dengan tingkat pendidikan rendah. Dalam keluarga dengan tingkat pendidikan rendah biasanya lebih sering menerapkan polah asuh yang otoriter dalam mendidik anak, dan tidak jarang anak mendapatkan perlakuan agresi dari orang tua sebagai akibat dari kesalahan yang telah diperbuat, seperti yang dialami oleh GTS di atas. Namun demikian bukan berarti dalam keluarga dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi tidak pernah terjadi perilaku agresi, karena tidak sedikit juga keluarga yang katanya berpendidikan tinggi tetapi masih menerapkan polah asuh yang otoriter dan kerap kali menggunakan cara agresi dalam menyelesaikan masalah dalam keluarga. BACA TULISAN SAYA TENTANG JENIS POLAH ASUH DAN DAMPAKNYA DISINI.

APA AGRESI ITU ?
Perilaku agresi adalah perilaku fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain (Myers, 1996). Dengan demikian perilaku yang dilakukan oleh ASW di atas adalah tergolong perilaku agresi, karena dilakukan dengan sengaja dan dengan maksud untuk menyakiti orang lain (anaknya GTS).

DAMPAK PERILAKU AGRESI
Perilaku agresi yang dilakukan oleh ASW terhadap anaknya GTS di atas, tentu bukan merupakan sebuah solusi dari masalah yang sedang dihadapi oleh ASW. Dengan berperilaku agresi terhadap GTS, ASW justru menghadirkan sebuah masalah baru bagi dia dan bagi perkembangan kepribadian GTS. Menurut Fox & Gilbert (1994) agresi yang dilakukan berturut-turut dalam jangka lama, apalagi jika terjadi pada anak-anak atau sejak masa kanak-kanak, dapat mempunyai dampak pada perkembangan kepribadian. Misalnya, wanita yang pada masa kanak-kanaknya mengalami salah perlakuan fisik dan atau seksual, pada masa dewasanya (18-44 tahun) akan menjadi depresif, mempunyai harga diri yang rendah, sering menjadi korban serangan seksual, terlibat dalam penyalah gunaan obat, atau mempunyai pacar yang terlibat dalam penyalah gunaan obat. Penelitian yang dilakukan oleh Bryant (1995) menginformasikan, mesikup tidak mengalami agresivitas dalam jangka lama wanita di Amerika Serikat yang pernah mengalami pelecehan seksual menderita berbagai gangguan, seperti tidak mau sekolah, tidak mau bicara di kelas, membolos sekolah, nilai ulangannya jelek, tidak dapat berkonsentrasi di kelas dan nilai rapornya turun.

Melihat dampak perilaku agresi yang begitu besar terhadap perkembangan kepribadian anak, tentu saja sebagai orang tua dituntut untuk lebih memahami anak-anaknya, lebih mendengarkan keluhan-keluhan anaknya, dan menyelesaikan setiap masalah dengan cara yang lebih bijak. Dalam kasus ASW misalnya, seharusnya ASW perlu menanyakan kepada GTS apa yang menyebabkan nilainya jelek, mengingat banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar DOWNLOAD MATERI TENTANG FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL BELAJRA DISINI.
, baru kemudian ASW mengupayakan langkah-langkah yang mesti dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar GTS.
Continue Reading...

PENGARUH LIRIK LAGU TERHADAP PERILAKU PACARAN REMAJA


Tadi pagi sebelum mulai mengajar saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid-murid saya di SMP Ta’miriyah Surabaya.
Teh botol ?...
Pasta gigi ?...
Yamaha ?...

Anda pasti tau jawaban apa yang diberikan oleh murid-murid saya, sebab kalau pertanyaan ini saya ajukan kepada anda, anda pun pasti akan memberikan jawaban yang sama kepada saya. Mereka serentak memberikan jawaban:
Sosro
Pepsoden
Jupiter

Saya yakin saat ini anda sedang menganggukkan kepala tanda setuju, bahwa anda juga memiliki jawaban yang sama terhadap beberapa pertanyaan di atas. Lalu kenapa semua murid saya, anda dan bahkan mungkin juga saya memiliki jawaban yang sama atas pertanyaan tersebut ?. Tidak lain karena iklan teh botol sosro, iklan pasta gigi pepsoden, dan iklan Yamaha Jupiter telah mempengaruhi alam bawah sadar kita. Salah satu ungkapan yang sangat populer dari Sigmund Freud pendiri aliran psikologi analisis adalah apa yang disebutnya dengan FENOMENA GUNUNG ES. Menurut Freud, alam kesadaran atau perilaku yang tampak dari individu hanyalah bagian kecil dari pribadi individu tersebut, bagian terbesar dari pribadi atau kepribadian atau diri atau aku atau Ego (istilah Freud) adalah apa yang disebut sebagai alam bawah sadar (kondisi ini dalam istilah Freud disebut dengan FENOMENA GUNUNG ES).

Menurut Freud, alam bawah sadar inilah yang mempengaruhi munculnya sebuah perilaku dan menurut Freud sumber alam bawah sadar dapat diperoleh melalui introjeksi dari nilai-nilai sosial oleh orang tua atau lingkungan. Dengan kata lain semua yang pernah dialami oleh seseorang, baik pengalaman yang menyenangkan maupun pengalaman yang tidak menyenangkan, selanjutnya akan disimpan dalam alam bawah sadar. Semua pengalaman yang telah disimpan dalam alam bawah sadar tersebut selanjutnya akan muncul kedalam bentuk perilaku jika mendapat rangsangan atau stimulasi dari luar yang memiliki asosiasi atau hubungan dengan pengalaman tersebut. Sebagai contoh: Anna O tiba-tiba teriak histeris saat melihat darah, kenapa perilaku tersebut dapat terjadi ?...Beberapa tahun yang lalu pada saat Anna O pulang dari sekolah dia mendapati kedua orang tuanya terkapar di lantai dengan berlumuran darah, sejak saat itu Anna O tidak berani melihat darah…Jadi perilaku histeris pada Anna O adalah disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang telah disimpan di bawah kesadaran. Kenapa pada saat ada ungkapan teh botol para murid serempak menjawab sosro ? karena para murid telah memiliki pengalaman mengenai iklan teh botol sosro.




BAGAIMANA PROGRAM MUSIK DI TV DAPAT MEMPENGARUHI PERILAKU PACARAN DIKALANGAN REMAJA ?

Anda pasti ingat dengan penggalan lirik lagu berikut “…so what gitu loh..”. Anda juga pasti belum lupa, pada saat lagu tersebut lagi booming, sedikit-sedikit para remaja kita berceloteh so what gitu loh, so what gitu loh, so what gitu loh, mungkin anda juga termasuk yang terpengaruh dengan lirik lagu tersebut atau mungkin anda termasuk dari beberapa orang yang dibuat risih oleh celotehan tersebut. Kenapa para remaja ketika itu selalu berceloteh so what gitu loh?..karena lirik lagu tersebut telah menjadi pengalaman dan telah tersimpan dalam alam bawah sadar setiap orang yang mendengar lagu tersebut, dan pengalaman tersebut akan muncul kedalam bentuk perilaku berceloteh so what gitu loh pada saat mendapat rangsangan yang berasosiasi dengan pengalaman tersebut.

Menurut Brofenbrenner, dikenal sebagai seorang Ekolog melalui salah satu karyanya yang dipublikasikan pada tahun 1979 – 1989). Faktor-faktor dari luar diri yang dapat mempengaruhi perilaku tersusun dalam lingkaran-lingkaran yang berlapis.
1.Lingkaran pertama, disebut dengan lingkaran mikro-sistem yang terdiri atas keluarga, sekolah, guru, tempat penitipan anak, teman sebaya, tetangga, dst.
2.Lingkaran ke dua, disebut dengan meso-sistem yaitu interaksi antara faktor-faktor dalam lingkaran pertama.
3.Lingkaran ke tiga, disebut dengan exo sistem, yaitu lingkaran yang tidak langsung menyentuh diri anak tetapi masih besar pengaruhnya, seperti media massa, televisi, dll.
4.Lingkaran ke empat, disebut dengan makro sistem, yaitu hokum, adat, tradisi, dst.

Berdasar pada pandangan Brofenbrenner diatas, telah sangat jelas bahwa tayangan program musik seperti Tangga lagu, Missing Lyric, Happy Song dan seabrek program musik lain yang saat ini sedang mendominasi tayangan televisi kita akan berpengaruh terhadap perilaku pacaran dikalangan remaja. Lirik lagu yang saat ini lebih didominasi oleh tema-tema percintaan tentu sangat pas dengan kondisi dan kebutuhan remaja yang secara psikologis sedang mengalami perkembangan psikoseksual dan secara biologis telah mengalami kematangan secara hormonal. Dimana remaja telah mengalami ketertarikan dengan lawan jenis dan memiliki dorongan seksual yang begitu kuat.

Dalam pandangan Freud, seabrek program musik di atas, yang secara umum didominasi oleh lirik dengan tema-tema percintaan selanjutnya akan memberi pengalaman pada pendengarnya, pengalaman-pengalaman tersebut selanjutnya akan disimpan ke dalam alam bawah sadar dan akan muncul dalam bentuk perilaku jika memperoleh rangsangan dari luar. Sebagai contoh: banyak sekali remaja kita yang hari ini telah bertekat bulat memutuskan hubungannya dengan pacar, dia bilang pacarnya bajingan (pada saat menggunakan kata bajingan, saya terpengaruh dengan lirik lagu wali), tetapi keesokan harinya dia nyambung kembali dengan sang pacar (mungkin terpengaruh dengan penggalan lagu putus nyambung putus nyambung).

Percaya?.......tidak percaya?....... coba introspeksi diri anda sebentar saja, benarkah anda tidak terpengaruh dengan lirik lagu ?, benarkah kalau anda tidak pernah merasakan bahwa ada salah satu lirik lagu yang mewakili perasaan anda?. Kalau saya seratus persen percaya bahwa lirik lagu dapat berpengaruh terhadap perilaku pacaran dikalangan remaja. Coba anda amati, sepuluh tahun yang lalu jumlah remaja yang berpacaran tidak sebanyak saat sekarang karena sepuluh tahun lalu program musik di TV tidak sebanyak sekarang. Sepuluh tahun lalu remaja masih malu jika sudah punya pacar saat duduk di bangku SMP, tetapi sekarang ini remaja SMP yang tidak punya pacar yang akan malu dengan teman-temannya. Sepuluh tahun lalu mengungkapkan cinta tidak mesti harus dengan ciuman, tapi bagaimana dengan sekarang ?......tanyakan saja pada lirik lagu dan tayangan sinetron yang saat ini didominasi oleh sinetron dengan tema percintaan. Sepuluh tahun lalu pacaran masih sedikit malu, tapi bagaimana dengan sekarang?.. tanyakan saja pada program CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali), Back Street, Mak…Jomblangin Doonk DE EL EL.

AKHIRNYA SEMOGA BERMANFAAT AMIN……
Continue Reading...

Selasa, 28 April 2009

TIPS BERTEMAN


Perkembangan teknologi yang begitu pesat saat ini sedang dan bahkan mungkin telah menenggelamkan nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat. Coba simak disekitar kita !!!, sekarang ini sangat sulit menemukan orang dengan kepedulian yang sangat tinggi dan tulus terhadap orang lain yang mungkin sedang membutuhkan pertolongannya atau terhadap lingkungan sosialnya. Kenapa kondisi demikian dapat terjadi?, tidak lain karena pada zaman sekarang ini semua kebutuhan manusia hampir dikendalikan oleh teknologi, dengan kata lain mereka merasa tidak membutuhkan bantuan orang lain karena semua kebutuhan telah dipenuhi oleh teknologi. Coba tengok para pelajar kita sekarang, mereka lebih suka menghabiskan waktunya untuk berlama-lama di tempat rental internet, mulai dari bermain game online, Friendster (FS), Face book, download lagu, dll daripada harus bergabung dalam organisasi intra sekolah (OSIS) atau bergabung dalam kelompok belajar, atau bergabung dalam kelompok-kelompok sosial lainnya, semisal karang taruna, ikatan pelajar NU atau ikatan pelajar Muhammadiyah, dll. Tidak lain karena mereka merasa teknologi telah dapat memenuhi kebutuhan sosialnya.

Karena larut "dalam pelukan teknologi", sebagian dari kita telah lupa bahwa EL. Thorndike pada tahun 1920 yang lalu telah menegaskan, bahwa manusia memiliki social intelligence atau kecerdasan sosial atau suatu kemampuan untuk menghadapi orang lain disekitar diri sendiri dengan cara yang efektif. Thorndike percaya bahwa kecerdasan sosial tersebut merupakan syarat penting dari keberhasilan seseorang diberbagai aspek kehidupan. Sayangnya pelukan teknologi telah membekukan dan telah mengkerdilkan kemampuan kita dalam berinteraksi sosial, akibatnya kita menjadi manusia yang sepertinya serba tercukupi, tetapi pada dasarnya kita telah teralienasi (meminjam istilah Eric From). Bagaimana tidak teralienasi......selama ini kita berkomunikasi dengan teknologi yang selalu meminta untuk kita fahami. Sementara teknologi tidak pernah mau memahami keadaan kita. Karena kecantikan teknologi tanpa kita sadari selama ini kita telah dicuekin oleh teknologi....cinta bertepuk sebelah tangan tepatnya he he he.

Dampak psikologis yang paling berbahaya adalah....KARENA TERBIASA KOMUNIKASI SATU ARAH DENGAN TEKNOLOGI AKIBATNYA KITA MENJADI MINDER, CEMAS, TAKUT BERHADAPAN DENGAN ORANG LAIN, TIDAK MAU MEMAHAMI ORANG LAIN DAN SETERUSNYA DAN SETERUSNYA. Untuk mengembangkan kembali kecerdasan sosial yang kita miliki, tidak ada salahnya jika pembaca menyimak beberapa tips berteman yang saya ambil dari buku dengan label international bestseller "Making Friends" karangan Andrew Mathews berikut ini:

1. Jangan takut berhadapan dengan orang lain, karena setiap orang selalu memiliki pikiran bahwa "saya tidak cukup baik". Kita sering mengira bahwa orang lain lebih pandai, lebih tegar dari kita sehingga kita merasa minder dan takut. Kenyataannya, sebenarnya mereka juga berfikir yang sama tentang kita. Mereka juga berfikir kalau kita lebih pandai.

2. Tanyakan pada teman yang dapat dipercaya "siapa sebenarnya anda". Karena kita sering tidak sadar akan kebiasaan-kebiasaan buruk kita.

3. Belajarlah untuk mencintai diri sendiri. Bila kita terlampau kritis atau tidak puas dengan diri sendiri, kita akan cenderung membenci orang lain yang dapat berbuat lebih baik.

4. Buatlah diri anda bahagia dan jangan berfikir " kalau saya dapat bertemu dengan orang yang dapat menyayangi dan membahagiakan saya". Ingat kalau anda terpuruk tidak akan ada orang lain yang akan mendekatimu.

5. Jangan membuat jarak dengan orang lain "Kita semua selalu bersama-sama, tetapi kita semua merasa kesepian" Dr. Albert Schweitzer.

6. Jangan berpura-pura bahwa anda dapat mengerjakan semuanya sendiri. Kita semua pasti membutuhkan orang lain.


7. Teman yang membosankan, teman yang menyebalkan, teman yang menyenangkan....kita pasti akan menemui tipe tipe teman yang seperti itu. Jangan takut !!!. Hidup memang terkadang menyenangkan terkadang sedikit membosankan, tapi semua bisa diatasi

8. Jangan menyalahkan orang lain, menyalahkan bukanlah solusi. Setiap kali anda menyalahkan orang lain, berarti anda tidak belajar dan keadaan tidak akan berubah. Ingat yang terpenting dalam hidup adalah belajar, belajar menghadapi lingkungan.

9. Anda yang memutuskan perasaan anda. Jangan biarkan orang lain menguasai perasaan anda.

10. Katakan pada orang lain apa yang anda inginkan.

11. Cobalah untuk bersikap tegas dan mengatakan apa adanya. Kejujuran terhadap orang lain merupakan pertanda penghargaan dan pertanda kita menghormati diri sendiri.

12. Hormati diri sendiri, orang lain akan menghormati kita sejauh kita menghormati diri sendiri.
Continue Reading...

Minggu, 22 Maret 2009

PERILAKU SEKS SISWA SMA SURABAYA (PENELITIAN KUALITATIF)


BAB I

PENDAHULUAN

Revolusi dunia pengetahuan ilmiah yang ditandai dengan teori Evolusi-nya Darwin telah menghasilkan konsep spesialisasi dibidang ilmu pengetahuan. Spesialisasi dibidang ini membawa perubahan yang sangat pesat diberbagai bidang dan aspek kehidupan manusia. Jaman menjadi sangat cepat berubah sejak digulirkannya globalisasi dengan dukungan penuh dari teknologi.

Globalisasi lengkap dengan teknologinya tentu membawa dampak yang bersifat positif dan tidak sedikit pula dampak negatif yang ditimbulkan. Salah satu kelompok yang rentan untuk terbawa arus adalah para remaja. Kenapa? Tak lain karena mereka memiliki karakteristik sendiri yang unik:labil, sedang pada taraf mencari identitas, mengalami masa transisi dari remaja menuju status dewasa, dan sebagainya. Orang Barat menyebut periode ini dengan Sturm Und Drung.

Pertumbuhan fisik yang terjadi pada remaja mengakibatkan remaja mengalami kebingungan akan identitas dirinya, satu hal yang pasti tentang aspek-aspek psikologis dari perubahan fisik pada remaja adalah bahwa remaja disibukkan dengan tubuh mereka dan mengembangkan citra individual mengenai gambaran tubuh mereka yang tidak jarang bertentangan dengan orang tua, para pendidik, dan lingkungan sosial. Remaja adalah sosok individu yang sedang dalam proses perubahan dari masa anak ke dewasa. Secara umum dan dalam kondisi normal sekalipun, masa ini merupakan periode yang sulit ditempuh, baik secara individual ataupun kelompok, sehingga remaja sering dikatakan sebagai kelompok umur bermasalah (the trouble teens).

Diberbagai kota besar, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ulah remaja belakangan ini makin mengerikan dan mencemaskan masyarakat. Mereka tidak lagi sekedar terlibat dalam aktivitas nakal seperti membolos sekolah, merokok, minum minuman keras, atau menggoda lawan jenisnya, tetapi tidak jarang mereka terlibat dalam aksi tawuran layaknya “preman”, atau terlibat dalam penggunaan NAPZA, terjerumus dalam kehidupan seksual pranikah dan berbagai bentuk perilaku menyimpang lainnya.

Kehidupan remaja sepertinya tidak pernah terlepas dari persoalan perilaku seksual pranikah, terlebih remaja kota. Pengaruh informasi global (paparan audio visual) yang semakin mudah diakses diakui atau tidak telah memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman beralkohol, dan penyalah gunaan obat terlarang. Pada akhirnya secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantar mereka pada berperilaku seksual yang berisiko tinggi. DWONLOAD TULISAN LENGKAP DISINI SEMOGA BERMANFAAT.



KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT
.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF
.
Continue Reading...

Selasa, 24 Februari 2009

PENDIDIKAN SEKS:UPAYA PREVENTIF TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRA-NIKAH



Buku Pendidikan Seks untuk Anak dalam Islam ini sangat bagus untuk digunakan sebagai pedoman oleh para orang tua dan para pendidik dalam mengajarkan masalah seks pada para remaja. Buku ini tidak hanya diperuntukkan bagi keluarga yang mempunyai latar belakang Muslim saja karena bahasan yang ada dalam buku ini sangat sesuai dan tidak bertentangan dengan pemikiran-pemikiran para tokoh dalam bidang psikologi dan tidak bertentangan dengan hasil penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para seksolog Barat dan Eropa. Meskipun ada beberapa konsep, ide, atau gagasan-gagasan dalam buku ini yang kebenarannya belum dapat dibuktikan secara ilmiah....Tetapi pembaca tidak perlu apatis, karena tidak semua kebenaran dapat dibuktikan secara ilmiah dan tidak semua yang ilmiah adalah suatu kebenaran bukan?. Konsep id (libido sexual), ego (diri), dan superego (introyeksi nilai) dan juga konsep bahwa semua individu lahir dengan membawah dorongan negatif yang dikemukakan oleh Freud juga bukan sesuatu yang ilmiah...tetapi tidak sedikit dari kita yang menggunakan gagasan Freud tersebut sebagai dasar dalam menganalisis suatu masalah. Sebaliknya gagasan Darwin tentang manusia berasal dari kera yang didasari dengan cara berfikir ilmiah...pada akhirnya juga disangsikan dan mendapat perlawanan dari para ilmuwan.He he he kok jadi ngelantur ya....yang jelas buku ini patut dijadikan referensi sebagai pedoman untuk memberikan pendidikan seks pada para remaja. Nah....bagi yang tertarik lanjutkan pembacaan Jenengan, semoga bermanfaat.


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUMBUHNYA PERMASALAHAN
Dalam buku ini Madani menjelaskan bahwa pada dasarnya tidak hanya faktor lingkungan saja yang dapat mempengaruhi muculnya perilaku seks menyimpang dikalangan remaja, tetapi juga dapat disebabkan oleh faktor gangguan hormonal dan faktor genetik untuk faktor genetik ini pembaca harus menggunakan paradigma bahwa tidak semuanya yang benar itu harus dapat dibuktikan secara ilmiah.

1. Gangguan hormonal
Temperamen seseorang baik anak-anak maupun dewasa berkaitan dengan hormon, begitu juga dengan perilaku seks. Aktivitas seksual sangat berkaitan dengan terpendamnya kedua kelenjar anak-anak, yaitu thymus dan pineal. Ketika kedua kelenjar tersebut dinonaktifkan maka timbuhlah kelenjar-kelenjar seksual. Tumbuhnya kelenjar seksual yang terlalu dini akan mengakibatkan anak untuk berperilaku seksual menyimpang.

2. Faktor genetik
Faktor genetik ini mencakup sifat-sifat orang tua dan orang yang menyusui anak serta hubungan seksual (yang dilakukan oleh orang tua saat memproduksi anak). Artinya bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh orang tua dan sifat-sifat yang dimiliki oleh orang yang menyusui itu juga sangat berpengaruh terhadap perilaku anak. Selain itu Waktu, tempat dan kondisi saat orang tua melakukan hubungan seksual juga sangat berpengaruh terhadap perilaku anak. Nabi Muhammad pernah menjelaskan kepada Ali bahwa situasi yang dilarang melakukan hubungan seksual adalah saat takut, gelisah, telah mengkonsumsi hal-hal yang memabukkan, karena hal tersebut dapat menghasilkan perangai negatif pada aspek biologis seperti cacat mental dan lain sebagainya. Saya bribadi sangat yakin semua agama akan melarang hubungan seksual dalam kondisi seperti diatas.

3.Faktor lingkungan
a. Ketidak tahuan orang tua akan pendidikan seks. Banyak orang tua yang tidak mengerti konsep pendidikan seks, sehingga mereka cenderung menyembunyikan masalah seks dari anak-anak, dan membiarkan mereka mencari informasi diluar rumah yang justru sering mengarahkan mereka pada solusi yang menjerumuskan. Para seksolog Barat menganjurkan agar anak dikenalkan dengan pendidikan seks sejak dini.
b. Rangsangan seksual dalam keluarga. Kebanyakan para orang tua kurang mampu menjaga perilaku seksualnya dihadapan anak, misalnya: Bermesraan didepan anak, berciuman didepan anak atau perilaku-perilaku kecil lainnya yang dapat menimbulkan rasa penasaran dan rangsangan seks pada anak.
c. Anak tidak terlatih untuk meminta izin. Masih banyak orang tua yang tidak membiasakan anak untuk meminta ijin ketika masuk kamar orang tua, sehingga terkadang anak dapat melihat aktivitas seksual orang tua.
d. Tempat tidur yang berdekatan. Kebanyakan orang tua belum mengerti, bahwa membiarkan anak tidur dalam satu selimut dengan saudaranya, atau membiarkan anak laki-lakinya yang sudah remaja tidur dengan anak perempuannya dapat menyebabkan munculnya perilaku seks menyimpang.
e. Orang tua memandang remeh ciuman anak laki-laki dan perempuan pada periode terakhir masa kanak-kanak, padahal hal ini juga dapat memicu munculnya perilaku seks penyimpang.
f. Keluarga mengabaikan pengawasan terhadap media informasi, sehingga anak mudah meniru perilaku-perilaku berciuman bermesraan dan lain sebagainya yang tidak jarang diperagakan oleh artis-artis di TV.
g. Teman yang tidak baik juga sangat berpengaruh terhadap munculnya perilaku seks menyimpang.


MEMPERSIAPKAN PENDIDIKAN SEKS BAGI ANAK
Pendidikan seks harus dipersiapkan sejak dini sebelum anak memasuki masa remaja, hal ini dimaksudkan untuk mempersipakan anak dalam menghadapi gejolak-gejolak seksual yang diakibatkan oleh tumbuhnya kelenjar seks pada periode itu. Persiapan pendidikan anak tersebut dapat berupa menghindarkan anak dari melihat sesuatu yang dapat merangsang tumbuhnya kelenjar seksual, memberikan penjelasan kepada anak tentang bertumbuhan fisik yang dialaminya, mengajarkan anak bagaimana cara menggunakan "pembalut" yang baik pada saat haid dan lain sebagainya. Para ilmuwan Barat dan para perumus hukum Islam telah menekankan pentingnya kedua orang tua untuk bersikap sopan dihadapan anak-anaknya yang masih kecil, karena hal tersebut mempunyai pengaruh positif dalam membentuk perilaku seksual bagi setiap individu ketika dia telah mancapai usia matang. Namun demikian yang perlu ditekankan disini bahwa pendidikan seks harus terus diberikan sampai anak menginjak dewasa.

Freud dalam gagasannya tentang libido sexual yang walaupun sulit dibuktikan secara ilmiah, menegaskan bahwa manusia lahir dengan membawah dorongan-dorongan seksual. Menurut Freud ada tiga fase dalam penyaluran dorongan seksual yaitu fase oral (kepuasan terletak di mulut), fase anal (pada fase ini anak sangat suka memainkan "dubur" atau anus) dan fase phalic (pada fase ini kepuasan seksual ada pada kelamin). Para seksolog Barat dan Islam sepakat dengan gagasan Freud tersebut, sehingga mereka menekankan pentingnya mempersiapkan pendidikan sejak dini. Tetapi para seksolog Islam tidak sepakat dengan gagasan Freud bahwa pendidikan seksual harus lebih difokuskan pada periode awal masa anak. Sebaliknya para seksolog Islam lebih sepakat untuk memfokuskan pendidikan seks pada periode akhir masa anak, dengan dasar-dasar sebagai berikut:

Nabi Muhammad saw. bersabda, anak-anak adalah raja pada usia 7 tahun (7 tahun pertama), hamba pada 7 tahun kedua dan menteri pada 7 tahun berikutnya. Kamu harus merasa senang kalau pada usia 11 tahun akhlaknya baik. Jika tidak pukullah perutnya, karena kamu harus telah meluruskan akhlaknya pada usia 11 tahun. Al-Hadist


Maksud hadis diatas adalah: Pada 7 tahun pertama anak dimanjakan, pada 7 tahun kedua anak diajarkan disiplin, dan pada 7 tahun ketiga anak diperlakukan layaknya teman (untuk berdiskusi, diseri tanggung jawab, dan lain sebagainya).


TUJUAN PENDIDIKAN SEKS
Mungkin sebagian dari kita masih menganggap bahwa pendidikan seks justru akan mengarahkan anak pada perilaku seksual penyimpang, pandangan seperti ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengertian tentang tujuan dari pendidikan seks itu sendiri. Pendidikan seks bukan berarti mengajarkan anak untuk berperilaku seksual penyimpang, tetapi sebaliknya memberikan pengertian yang benar kepada anak tentang aturan-aturan dalam berhubungan seksual, apa saja yang boleh dilakukan dan apa saja yang boleh dilakukan oleh anak sesuai dengan tingkat perkembanganny. Menurut Profesor Gawshi, pendidikan seks adalah bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang benar kepada anak dan menyiapkannya untuk beradaptasi secara baik dengan sikap-sikap seksual dimasa depan kehidupannya; dan pemberian pengetahuan ini menyebabkan anak memperoleh kecenderungan logis yang benar terhadap masalah-masalah seksual dan reproduksi.


BEBERAPA ASPEK YANG PERLU DIBERIKAN DALAM PENDIDIKAN SEKS
Dalam memberikan pendidikan seks orang tua harus memasukkan aspek-aspek ketuhanan, misalnya memberikan penjelasan kepada anak, tentang asal mula kehidupan ini, apa yang harus dilakukan oleh manusia di dunia dan kemana manusia akan kembali untuk mempertanggung jawabkan perilaku yang telah diperbuat semasa hidupnya. Hal ini perlu diberikan sebagai doktrin dan sekaligus sebagai energi yang akan mengarahkan arah perilaku anak. Selain itu orang tua juga perlu memasukkan aspek kemanusiaan, menjelaskan tentang pentingnya menjaga kehormatan diri dihadapan orang lain, seperti tidak membiarkan orang lain melecehkannya secara seksual, tidak memperlihatkan bagian tubuhnya yang sesual kepada orang lain (dalam Islam telah diatur tentang perlunya menjaga aurat).


UPAYA PREVENTIF UNTUK MENCEGAH PERILAKU SEKSUAL PENYIMPANG
Upaya pendegahan dapat dilakukan sejak dini oleh orang tua, dengan memperhatikan faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya perilaku seksual penyimpang sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Penggunaan sentuhan spiritualitas ketika orang tua melakukan hubungan seksual juga sangat dianjurkan sebagai upaya preventif, seperti membaca do'a sebelum bersenggama, membaca do'a memohon anak dan lain sebagainya.

Agar pemahaman pembaca tentang pendidikan seks untuk anak lebih lengkap, tidak ada salahnya jika pembaca membeli bukunya he he he bukan promosi lho...

Judul Asli: Attarbiyah Al-Jinsiyah Lil-Athfaal Wa Al-Baalighiin
Judul Terjm : Pendidikan Seks Untuk Anak dalam Islam
Penerbit : Pustaka Zahra:Jakarta
Tebal : 262 halaman.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...

Senin, 23 Februari 2009

BROKEN WINDOWS UNTUK MELAWAN EPIDEMI PERILAKU DELINKUEN DIKALANGAN REMAJA



Broken Windows merupakan salah satu teori yang cukup efektif digunakan untuk mengurangi perilaku kriminal atau perilaku delinkuen dikalangan remaja. Teori ini merupakan buah pikiran kriminolog James Q. Wilson dan George Kelling. Wilson dan Kelling berpendapat bahwa kriminalitas merupakan akibat tak terelakkan dari ketidakteraturan. Jika jendela rumah pecah namun dibiarkan saja, siapapun yang lewat cenderung menyimpulkan pastilah disitu tidak ada yang peduli atau bahwa rumah itu tidak berpenghuni. Dalam waktu singkat akan ada lagi jendela yang pecah, dan belakangan berkembang anarki yang menyebar kesekitar tempat itu.

CONTOH KEBERHASILAN PENGGUNAAN TEORI BROKEN WINDOWS
William Bratton adalah seorang polisi, dia diangkat sebagai komandan oleh Transit Authority pada kisaran tahun 1990-an, tugas utama Bratton adalah membasmi tindak kejahatan yang begitu marak di sistem kereta bawah tanah. Kita mungkin berpikir Bratton akan membawa pasukannya ke sistem kereta bawah tanah dan menghabisi semua pelaku kejahatan disana. Tetapi yang dilakukan Bratton justru kebalikannya, karena Bratton adalah salah satu dari penganut teori Broken Windows yang beranggapan bahwa perilaku kriminalitas diakibatkan oleh adanya ketidakteraturan. Bratton memulai tugasnya dengan memutuskan untuk membasmi kebiasaan naik kereta tanpa karcis karena menurutnya naik kereta tanpa karcis juga merupakan simbul ketidakteraturan yang bisa menjadi pangkal pelanggaran-pelanggaran yang lebih serius. Dalam sehari sekitar 170.000 orang menggunakan jasa kereta tanpa membayar ongkos. Sebagian adalah anak-anak yang sengaja melompati palang pintu pemasukan karcis turnstile. Lainnya adalah orang-orang dewasa yang sengaja mengakali mesin penjual karcis atau bahkan mendobrak palang pintu. Orang-orang dibelakang mereka, tanpa merasa bersalah, ikut-ikutan masuk kereta tanpa membayar. Alasan mereka sederhana sekali: kalau ada beberapa orang naik kereta tanpa membayar ditambah beberapa orang lagi tentu bukan masalah.

Langkah yang dilakukan Bratton ternyata membuahkan hasil yang gemilang, tidak ada lagi orang yang naik kereta tanpa membeli karcis, tidak ada lagi para penumpang yang membawah senjata, tidak ada lagi orang mabuk didalam kereta. Penangkapan terhadap para pelaku kejahatan ringan juga meningkat lima kali lipat selama kurun waktu 1990 - 1994, yang pada tahun-tahun sebelumnya tidak pernah dihiraukan. Berkat penggunaan teori Broken Windows ini pada tahun 1994 setelah Rudolph Giuliani terpilih sebagai wali kota New York, Bratton diangkat sebagai kepala kepolisian New York City.

BAGAIMANA MENGAPLIKASIKAN TEORI BROKEN WINDOWS UNTUK MENGURANGI PERILAKU DELINKUEN DIKALANGAN REMAJA KITA
Sesuai dengan gagasan teori ini, maka perilaku-perilaku delinkuen seperti membolos sekolah, keluyuran dijalanan pada jam sekolah, mencuri, perkelahian antar pelajar, seks bebas, penyalah gunaan narkoba dan lain sebagainya adalah disebabkan oleh adanya ketidakteraturan dlam lingkungan dimana remaja berada. Adanya ketidakteraturan di lingkungan rumah, lingkungan sekolah, dan lingkungan antara sekolah dan rumahlah yang menjadikan remaja berperilaku delinkuen. Dengan demikian untuk mengurangi atau mengatasi perilaku delinkuen dikalangan remaja para orang tua harus dapat menciptakan keteraturan di rumah, seperti tidak membiarkan anak menonton TV pada jam-jam belajar, tidak membiarkan anak tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengharuskan anak mengulang pelajaran sepulang sekolah, tidak membiarkan anak melanggar aturan-aturan yang ada dalam keluarga, tidak membiarkan anak bermain pada jam-jam belajar, tidak membiarkan anak meninggalkan sholat, tidak membiarkan anak melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat dan lain sebagainya. Karena perilaku menonton TV pada jam-jam belajar, perilaku tidak mengerjakan (PR), perilaku meninggalkan sholat dan ...adalah suatu ketidakteraturan yang jika dibiarkan akan mengakibatkan terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang lebih serius, seperti perilaku membolos, perkelahian pelajar dan lain sebagainya.

Para guru atau pendidik juga harus mampu menciptakan suatu keteraturan di lingkungan sekolah, dengan memberi sangsi yang tegas bagi siswa yang melanggar aturan-aturan sekolah, seperti membuat gaduh di kelas, tidak serius dalam mengikuti pelajaran, tidak mendengarkan penjelasan guru, terlambat masuk, tidak mengerjakan pekerjaan rumah dan lain sebagainya. Karena perilaku-perilaku tersebut adalah merupakan suatu ketidakteraturan sehingga perlu mendpat perhatian yang ketat, karena jika dibiarkan tentu saja akan mengakibatkan pelanggaran yang lebih serius, seperti yang baru baru ini kita saksikan di TV berupa perilaku agresiv dengan menelanjangi teman di kelas, perkelahian pelajar dan lain sebagainya.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...

TIPPING POINT:MENINGKATNYA EPIDEMI PERILAKU DELINKUEN DIKALANGAN PELAJAR-2



3. KEKUATAN KONTEKS
Pada awal 1970-an, sekelompok sosiolog di Stanford University, dibawah pimpinan Philip Zimbardo, memutuskan membuat semacam penjara di basement gedung Fakultas Psikologi. Penjara ini tidak digunakan untuk memenjarakan orang, tetapi akan digunakan sebagai eksperimen untuk menjawab pertanyaan "kenapa penjara sering menjadi tempat menjijikkan dan tidak menyenangkan". Setelah memasang iklan dibeberapa surat kabar lokal akhirnya diperoleh 75 orang yang bersedia menjadi subjek penelitian, dari 75 orang tersebut kemudian melalui prosedur pengetesan ditentukan 21 orang diantara mereka dengan kondisi psikologis yang paling normal dan paling sehat untuk menjadi subjek penelitian.Dari 21 subjek yang ada kemudian dibagi menjadi dua kelompok secara acak, dimana kelompok pertama akan berperan sebagai polisi dan kelompok kedua akan berperan sebagai tahanan. Hasil dari penelitian ini sungguh sangat mengejutkan, subjek-subjek penelitian yang berperan sebagai polisis yang pada awalnya mengaku sebagai orang yang paling pasif, tiba-tiba dapat menjadi orang yang sangat agresif dan sadis, pada tengah malam mereka membangunkan para tahanan dan menyuruh mereka untuk push up. Kemudia pada pagi harinya para polisis tersebut melucuti pakaian para tahanan karena para tahanan memberontak dan pada hari-hari berikutnya perilaku para polisi tersebut semakin bertambah sadis.

Kenapa orang-orang yang pada awalnya memiliki kepribadian paling normal dan paling sehat, ketika diberi peran sebagai polisi dalam penjara tiba-tiba berubah menjadi seorang yang sadis. Menurut Zimbardo ada situasi-situasi khusus dengan pengaruh begitu hebat sehingga mampu mengalahkan predisposisi yang telah ada sejak lahir. Kata kunci dalam hal ini adalah situasi. Zimbardo tidak menyangkal bahwa cara kita dibesarkan oleh orang tua kita berpengaruh terhadap perilaku dan kepribadian kita, tetapi menurutnya sekolah tempat kita belajar, teman sepergaulan, dan tentangga yang tinggal disekitar rumah kita juga sangat berpengaruh terhadap perilaku kita.

YANG BISA DIAMBIL PELAJARAN BAGI ORANG TUA & PARA PENDIDIK
Situasi dimana para pelajar dan remaja kita berada juga sangat berpengaruh terhadap kepribadian dan perilaku mereka. Untuk itu sebagai orang tua dan sebagai pendidik kita dituntut untuk selalu menghadirkan sebuah situasi lingkungan yang sehat , nyaman dan tidak membuat para pelajar dan remaja kita merasa tertekan (lingkungan sekolah, lingkungan rumah, lingkungan antara sekolah dan rumah). Suatu kondisi atau situasi yang menekan akan dapat memunculkan perilaku-perilaku yang tidak kita inginkan.Oleh karena itu sebagai orang tua tentunya sangat dituntut untuk mampu menghadirkan situasi atau kondisi lingkungan rumah yang menyenangkan, hangat dan tidak kaku, jika tidak ingin para remajanya melakukan perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma sosial, disebabkan oleh kondisi rumah yang tidak menyenangkan dan tidak hangat.SUHADIANTO.BLOGSPOT.COM.


KENAPA PEMBERITAAN PERILAKU DELINKUEN DI TV DAN MEDIA CETAK JUSTRU MENINGKATKAN JUMLAH KASUS-KASUS PERILAKU DELINKUEN

Mungkin sebagaian dari kita pernah mengalami hal ini. Pada saat kita sedang berhenti di lampu merah, terkadang kita berfikir untuk menerobos lampu merah karena terburu-buru atau merasa jenuh menunggu lampu merah yang terlalu lama. Tiba-tiba ada seseorang yang menerobos lampu merah tersebut dan sadar atau tanpa sadar tiba-tiba kita melakukan hal yang sama.Kenapa pada saat melihat orang lain menerobos lampu merah, tiba-tiba kita meniru melakukan hal yang sama. Jawabannya adalah KARENA KITA MERASA MEMPEROLEH PEMBENARAN DARI ORANG LAIN ATAS PERILAKU MELANGGAR YANG BARU SAJA KITA LAKUKAN. Disinilah jawabannya mengapa setiap pemberitaan tentang perkelahian pelajar oleh televisi maupun media cetak selalu diikuti oleh kasus yang serupa di tempat lain, karena pemberitaan tentang perkelahian pelajar, pencurian yang dilakukan oleh pelajar dan lain sebagainya justru dapat menjadi pembenaran bagi para pelajar lain yang mempunyai pikiran untuk melakukan hal yang sama.

David Philips, seorang sosiolog di University of California di San Diego, yang telah memimpin sejumlah penelitian tentang bunuh diri. Ia diantaranya menyimpulkan bahwa setiap pemberitaan tentang bunuh diri di televisi, selalu diikuti oleh kasus bunuh diri di tempat lain dengan modus yang lebih canggih daripada kasus sebelumnya. Kenapa ini bisa terjadi, jawabannya adalah setiap pemberitaan tentang bunuh diri justru dianggap sebagai pembenaran terhadap perilaku bunuh diri.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...

TIPPING POINT:MENINGKATNYA EPIDEMI PERILAKU DELINKUEN DIKALANGAN PELAJAR-1



Setelah menyaksikan berita tentang perilaku agresivitas, perilaku mencuri, perilaku seks bebas, perilaku membolos sekolah, perilaku merokok ,perilaku perkelahian pelajar dan bentuk-bentuk perilaku delinkuen yang lain, yang kian hari kian meningkat dilakalangan pelajar kita. Membuat saya terusik, dan selanjutnya merenung serta berfikir untuk mencari jawaban dari fakta tersebut. Satu hal yang membuat saya dan mungkin "para pembaca" bingung adalah KENAPA SEMAKIN BANYAK PEMBERITAAN TENTANG ADANYA PELAJAR-PELAJAR YANG DITANGKAP OLEH POLISI AKIBAT PERILAKU KENAKALAN YANG DILAKUKAN JUSTERU PERILAKU KENAKALAN DIKALANGAN PELAJAR SEMAKIN MENINGKAT?. Pertanyaan ini mengingatkan kepada saya dengan salah satu koleksi buku yang saya miliki. ,TIPPING POINT, itulah judul buku tersebut, pengarang buku ini adalah Malcolm Gladwell, buku yang dialihbahasakan oleh Alex Tri Kantjino Widodo dan diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta ini adalah salah satu buku yang masuk dalam kategori Bestseller.

TIPPING POINT menggambarkan dan menjelaskan bagaimana sebuah ide, sebuah pesan, dan sebuah perilaku tiba-tiba menyebar seperti wabah penyakit menular yang menjangkiti semua orang yang ikut melihat dan menerima pesan tersebut. Pada bagian buku ini Malcolm Gladwell menggambarkan bagaimana perilaku kriminalitas yang dilakukan oleh Bernhard Goetz pada tanggal 22 Desember 1984, tiba-tiba menyebarkan epidemi perilaku kriminal disemua penjuru kota New York City, tepatnya setelah perilaku kriminal Goetz tersebut diberitakan disemua media masa yang ada di New York City. Akibat pemberitaan tersebut angka kriminalitas tiba-tiba meningkat drastis. Selama tahun 1980-an, di New York City, rata-rata lebih dari 2000 pembunuhan dan 600.000 tindak kekerasan telah terjadi dalam setahun.

Lalu apa hubungannya TIPPING POINT dengan pertanyaan saya diatas?, jawabannya ada dalam buku ini. Dalam buku ini Malcolm Gladwell memberikan penjelasan dengan gamblang, BAGAIMANA SEBUAH PESAN, BAGAIMANA SEBUAH IDE DAN BAGAIMANA PERILAKU YANG DIBERITAKAN dapat dengan cepat mempengaruhi perilaku orang lain.

TIGA KAIDAH EPIDEMI
Pada bagian ini Gladwell menjelaskan tentang kaidah-kaidah yang harus ada dalam pesan, ide dan perilaku tertnetu. Jika ide, pesan atau perilaku tersebut diharapkan dapat mempengaruhi perilaku orang lain. Ada tiga kaidah epidemi menurut Gladwell:

1. HUKUM TENTANG YANG SEDIKIT
Pada suatu petang tanggal 18 April 1775 ada desas desus bahwa Inggris akan segera melakukan serangan besar-besaran Ke Lexington, di barat daya Boston, untuk menangkap para pemimpin gerakan kemerdekaan John Hancock dan Samuel Adams, yang akan diteruskan ke kota Concord. Mendengar berita tersebut kelompok gerakan gemerdekaan segera mengutus dua orang untuk menyebarkan informasi tentang penyerangan yang akan dilakukan oleh Inggris kepada semua rakyat Amerika. William Dawes dan Paul Revere adalah dua orang yang dipilih untuk melaksanakan tugas tersebut. Namun demikian dua orang tersebut menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda, Revere mampu menumbuhkan semangat disemua kota yang dilewatinya sehingga kota-kota yang dilewati oleh Revere hampir semua memenangkan peperangan dan membuat pihak Inggris dipermalukan, tetapi hal serupa tidak terjadi di kota-kota yang dilewati oleh Dawes. Kenapa hal ini bisa terjadi, jawabannya adalah bahwa keberhasilan seseorang dalam memberikan pesan sangat ditentukan oleh keterampilan sosial yang dimiliki, dan popularitas yang dimiliki. Revere memiliki keterampilan sosial dan popularitas yang luar biasa, sehingga dia diidolahkan oleh hampir semua rakyat Lexington, itulah sebabnya kenapa pesan yang disampaikan oleh Revere dapat menjadi suatu epidemi "ketok tular" (word of-mouth) dan mampu mempengaruhi perilaku semua orang.

YANG BISA DIAMBIL PELAJARAN BAGI ORANG TUA & PARA PENDIDIK
Sebuah pesan, ide dan perilaku, menurut kaidah diatas, akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain, apabila ide tersebut disampaikan oleh orang yang memiliki keterampilan sosial luar biasa dan memiliki popularitas (atau diidolahkan). Jika kita mengacu pada kaidah ini, tentu saja sebagai orang tua dan pendidik kita dituntut untuk memiliki suatu keterampilan yang baik dalam berhubungan dengan para remaja atau pelajar kita, selain itu kita juga dituntut untuk mampu menjadi sebagai sosok yang dapat diidolahkan oleh para remaja atau para pelajar kita, kalau kita ingin semua pesan, ide dan contoh perilaku yang kita berikan dapat diterima oleh para remaja atau palajar kita. Tentu saja kita tidak mungkin bisa memiliki keterampilan yang baik dalam menjalin hubungan sosial dengan para pelajar dan remaja kita, jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang perkembangan fisik maupun psikis yang sedang dialami oleh para remaja kita.

Kaidah hukum yang sedikit ini tampaknya telah digunakan oleh para perusahaan TV swasta dan para perusahaan dibidang media, baik cetak maupun elektronik untuk mendongkrak keuntungan usaha mereka. Lihat saja iklan-iklan di TV semua menggunakan orang-orang yang dianggap memiliki keterampilan sosial dan memiliki popularitas atau diidolahkan oleh para pelajar kita. Sehingga tidak heran pesan, ide dan perilaku-perilaku mereka kerap kali dijadikan referensi oleh para remaja kita yang tidak jarang ide, pesan atau perilaku-perilaku tersebut "sangat bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan yang kita berikan". TENTU SAJA DENGAN DEMIKIAN BERKURANG ATAU SEMAKIN MENINGKATNYA PERILAKU DELINKUEN DIKALANGAN REMAJA AKAN SANGAT TERGANTUNG DENGAN KETERAMPILAN KITA DALAM BERHUBUNGAN SOSIAL DENGAN MEREKA. JIKA KITA TIDAK DAPAT MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN TERSEBUT, TENTU PERILAKU REMAJA KITA AKAN DIKENDALIKAN OLEH PARA ARTIS IDOLAH MEREKA.

2. FAKTOR KELEKATAN
Disekitar penghujung tahun 1960-an, seorang produser televisi bernama Joan Gantz Cooney berniat memicu sebuah epidemi. Cooney berniat membuat sebuah program televisi yang fokus pada mengajarkan anak-anak usia tiga, empat dan liam tahun untuk membaca dan menulis. Program tersebut diberi nama Sesame Street dan untuk tujuan tersebut Cooney mengajak para profesional untuk bergabung. Cooney juga melibatkan seorang psikolog dari Harvad University yaitu Gerald Lesser. Lesser yang notabene adalah seorang psikolog pada mulanya merasa pesimis bahwa program Sesame Streeet ini akan berhasil, karena menurutnya untuk mengembangkan keterampilan membaca dan menulis butuh banyak proses, mulai dari identifikasi kapasitas intelektual anak sampai pada pengenalan pribadi masing-masing anak.
Tetapi yang sangat mengejutkan, ternyata program ini berhasil, tidak hanya berhasil menciptakan budaya membaca dan menulis pada anak-anak, program ini juga berhasil meningkatkan prestasi belajar anak di sekolah. Apa rahasia dari keberhasilan ini?, jawabannya adalah Sesame Street mampu menjadikan program yang dibuatnya menjadi sesuatu yang melekat sticky dikalangan anak-anak. Kelekatan itu terbentuk dari penggunaan animasi hidup ala kartun-kartun yang ada di surat kabar untuk mengajarkan cara belajar alfabet, program ini juga menghadirkan para selebriti untuk berdansa dan bernyanyi, selain itu program ini juga melibatkan komedian untuk mengajarkan manfaat kerjasama atau bicara soal emosi.

YANG BISA DIAMBIL PELAJARAN BAGI ORANG TUA & PARA PENDIDIK
Sebuah pesan akan mampu mempengaruhi perilaku, jika pesan tersebut disampaikan dengan memanfaatkan media atau sesuatu yang dapat menciptakan kelekatan pada orang yang menerima pesan, sebagaimana telah digambarkan oleh Gladwell diatas. Coba kita perhatikan sekarang, kenapa para remaja dan pelajar kita lebih suka menghabiskan waktunya untuk mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Pasyah ungu, Peterpan, The Titan, Kangen Band, Ada Band, Hijau Daun, D' Masiv, Changcutter, St-12 dan masih banyak lagi dan kenapa para pelajar kita lebih suka dan lebih mudah menghafalkan lagu-lagu percintaan daripada harus menghafal materi pelajaran di sekolah. Jawabannya adalah, karena para group band yang saya sebutkan diatas mampu menghadirkan sesuatu yang melekat pada remaja dan para pelajar kita lewat lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Tentu saja sebagai orang tua dan para pendidik pada akhirnya kita dituntut untuk mampu menghadirkan sesuatu yang dapat membuat para pelajar dan remaja kita lekat dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Untuk tujuan ini tentu saja orang tua dan para pendidik harus memiliki pemahaman tentang minat, kepribadian, serta bakat yang dimiliki mereka, sehingga kita dapat mengarahkan mereka pada suatu kegiatan yang melekat pada diri mereka.

Kalau sebagai orang tua dan para pendidik kita tidak mampu menghadirkan sesuatu yang melekat pada diri mereka. Tentu saja mereka akan lebih memilih pesan-pesan yang disampaikan lewat lagu-lagu yang dinyanyikan oleh band-band kesukaannya daripada harus mendengarkan psan-pesan yang kita sampaikan yang menurut mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan (tidak ada kelekatan). Bisa dibayangkan kalau remaja kita lebih terpengaruh dengan pesan-pesan yang disampaikan lewat lagu-lagu group band idolah mereka, dimana pesan yang disampaikan tidak jarang bertentangan dengan nilai-nilai yang kita ajarkan. Ambil contoh lirik lagu berikut: "Putus nyambung-putus nyambung...." "Jadikan aku yang kedua..." dan masih banyak lagi, tentunya para pembaca lebih tau....belum lagi pesan-pesan yang disampaikan lewat film-film remaja yang belakangan ini semakin tidak mempertimbangkan dampak negatif terhadap perkembangan para remaja kita. Tentu saja tidak menjadi sesuatu yang mengherankan jika semakin hari kenakalan remaja semakin meningkat.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...

Senin, 16 Februari 2009

POLAH ASUH DAN PERILAKU DELINKUEN

PENDAHULUAN
Polah asuh dan perilaku delinkuen?...mungkin sebagian dari pembaca merasa kaget dengan judul posting saya kali ini? Mungkin sebagian dari pembaca merasa tidak percaya?..... atau bahkan ada yang marah dan tidak setuju dengan judul posting ini?....JANGAN APATIS DULU SAYA AKAN BERI PENJELASAN BUAT PENGUNJUNG SETIA BLOG INI.
Sebagian dari pembaca mungkin tidak asing lagi dengan kejadian-kejadian atau masalah-masalah berikut:

1. Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sering membolos sekolah karena disekolahkan oleh orang tua di sekolah yang bukan menjadi pilihannya, atau disuruh mengambil jurusan yang tidak sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan yang dimilikinya.

2. Siswa malas belajar di sekolah karena merasa kurang diperhatikan oleh orang tua.

3. Siswa terlibat perkelahian antar pelajar karena terpengaruh oleh temannya.

4. Siswa mendapatkan nilai jelek di sekolah karena lebih mementingkan hubungannya dengan sang pacar, daripada harus belajar.

5. Siswa lebih suka mencari solusi atas masalah yang dihadapinya kepada teman daripada harus bertanya kepada orang tua.

6. Siswa tidak betah di rumah dan tidak berani mengkomunikasikan permasalahan dengan orang tua, akibatnya siswa terjerumus kedalam solusi yang menyesatkan.

7. Siswa melakukan hubungan seks pra-nikah, karena tidak dapat mengontrol dorongan seksualnya.

8. Siswa terjebak pada penggunaan NARKOTIKA karena tidak memperoleh solusi dari masalah yang sedang dihadapinya.

9. Dan banyak lagi permasalahan siswa yang ada di sekitar kita, atau bahkan mungkin di rumah-rumah kita.

Pertanyaannya adalah, KENAPA REMAJA ATAU SISWA TIDAK PERNAH TERLEPAS DARI MASALAH?, KENAPA BANYAK ORANG TUA YANG MERASA TELAH MENDIDIK REMAJANYA DENGAN BAIK TETAPI REMAJANYA TETAP BERPERILAKU DELINKUEN?, KENAPA BANYAK PARA GURU YANG MENGELUH KARENA MURIDNYA TIDAK MAU MENDENGARKAN NASEHATNYA DAN SELALU MELANGGAR ATURAN-ATURAN SEKOLAH?, BAHKAN KENAPA PARA PENGASUH PESANTREN JUGA MASIH BISA MENGELUH KARENA MERASA GAGAL MENDIDIK SANTRINYA?, salah satu penyebab dari semua kegagalan itu tidak lain adalah disebabkan oleh kurangnya pengetahuan para orang tua, para pendidik, dan mohon maaf para empunya pesantren dalam memahami kondisi psikologis remaja sehingga cara pengasuhan yang diberikan justeru akan mendorong para remaja untuk melawan, membuat kelompok serta norma atau nilai-nilai sendiri yang tidak jarang mengantarkan mereka pada perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma agama dan sosial.Para orang tua dan pendidik selama ini masih mendasarkan cara pengasuhannya pada pemberian doktrin, perintah,tanpa memberi ruang untuk bertanya, harus melakukan apa yang diperintahkan oleh orang tua, orang tua lebih tau segalanya, dan.....sementara itu seiring dengan perkembangan remaja pada ranah fisik, kognitif, sosial, psikoseksual, dan emosi telah terjadi banyak pergeseran. Misalnya pada masa remaja lebih membutuhkan dukungan (support) daripada pengasuhan (nurturance), lebih membutuhkan bimbingan (guidance) daripada hanya perlindungan (protection), dan remaja lebih membutuhkan pengarahan (direction) daripada sosialisasi (socialization) (Steinberg, 1993, Rice, 1996, Conger 1977 dalam Aspin 2007).


LEBIH DEKAT DENGAN REMAJA

Definisi remaja
Menurut Hurlock masa remaja adalah masa peralihan dari anak menuju dewasa (Hurlock, 1993), disebut masa peralihan karena pada fase ini remaja secara fisik telah mengalami perkembangan sebagaimana layaknya orang dewasa dan perkembangan fisik ini selanjutnya mengarahkan remaja kepada pembentukan dan pencarian identitas dirinya (Santrock, 1995). Perkembangan fisik membuat remaja merasa dirinya telah dewasa dan harus mendapat peran yang sama sebagaimana orang dewasa dalam membuat keputusan, menentukan kegiatan, menentukan tempat sekolah dan lain sebagainya. Sementara disisi lain perkembangan fisik yang telah matang pada remaja tersebut tidak diikuti dengan kematangan emosi, kognitif dan ranah psikologis yang lain, sehingga para orang dewasa masih menganggap mereka sebagai anak-anak yang membutuhkan pengasuhan bukan dukungan, yang membutuhkan perlindungan bukan bimbingan dan membutuhkan sosialisasi bukan pengarahan. Kekaburan peran ini menjadikan masa remaja menjadi masa yang penuh dengan goncangan (orang barat menyebutnya dengan sturm und drung), masa peralihan dan masa pencarian identitas (Hurlock, 1993, Darajad, 1970,Bisri, 1995, Monks, 2002). LEBIH DETAIL DAN LEBIH JELASNYA TENTANG DEFINISI REMAJA DAPAT DILIHAT DISINI.

Perkembangan kognitif, emosi, sosial, psikoseksual

Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka (Setiono, 2002).

PERKEMBANGAN EMOSI REMAJA DAPAT DILIHAT DISINI.

PERKEMBANGAN SOSIAL REMAJA DAPAT DILIHAT DISINI.

PERKEMBANGN PSIKOSEKSUAL REMAJA DAPAT DILIHAT DISINI.


POLAH ASUH & DAMPAKNYA
Menurut Diana Baumrind (1971,1975,1978, 1987) seperti dikemukakan oleh G. Peterson dalam B. Furhman (1990) ada tiga macam gaya pengasuhan orang tua yakni:
1. Gaya pengasuhan authoritarian. Model komunikasi antar orang tua dan anak dalam gaya pengasuhan ini sangat kaku, dimana orang tua cenderung memberi perintah, tidak memberi kesempatan untuk bertanya, tidak memberikan penjelasan tentang tugas yang diberikan kepada anak, dan menghasruskan anak agar menjalankan semua perintah dan aturan yang diberikan tanpa harus mengetahui alasan, tujuan dan tanpa boleh bertanya. Orang tua yang menggunakan gaya pengasuhan ini cenderung menganggap bahwa anak pasti akan menerima dan menjalankan perintah yang dianggap baik oleh orang tua (Baumrind, 1968), meskipun "tidak dianggap baik oleh anak". Orang tua authoritarian adalah orang tua yang menuntut dan kurang memberikan otonomi, serta gagal memberikan kehangatan kepada anak/remaja mereka (Baumrind dalam Decey & Kenny, 1997). Gaya pengasuhan authoritarian cenderung menuntut anak untuk melakukan sesuatu yang disesuaikan dengan standart orang tua, berdasarkan atas keinginan dan kebutuhan orang tua, serta sangat dogmatis tanpa membuka ruang untuk kritik, alasan dan pertanyaan. Sehingga gaya pengasuhan authoritarian sangat potensial bagi munculnya konflik,penentangan atau perlawanan remaja, dan ketergantungan remaja terhadap orang tua(Rice, 1996).

2. Gaya pengasuhan permissive. Model komunikasi orang tua dalam gaya pengasuhan ini sangat longgar dan terlalu bebas, diaman orang tua memberikan kebebasan penuh kepada anak untuk memilih kegiatan, mengambil suatu keputusan tanpa adanya kontrol dari orang tua. Orang tua dengan gaya pengasuhan ini cenderung tidak menganjurkan anak untuk mematuhi aturan-aturan sosial dan tidak menggunakan wewenang serta kekuasaan dengan tegas dalam usaha membesarkan remajanya (Baumrind, 1968). Orang tua permissive meyakini bahwa kontrol atau pengendalian merupakan suatu pelanggaran terhadap kebebasan remaja yang dapat
menganggu perkembangan kesehatannya. Orang tua permissive longgar secara berlebihan dan disiplin yang tidak konsiste(Steinberg, 1993, Hetherington dan Parke, 1993, dalam Aspin, 2007). Dampak dari model pengasuhan ini adalah membuat remaja tidak matang dalam berbagai aspek sosial, cenderung impulsiv, tidak patuh terlalu menuntut, sangat bergantung pada orang lain dan kurang gigih dalam mengerjakan tugas-tugas (Baumrind, 1975). Remaja yang terlalu diberi kebebasan tanpa pembatasan yang jelas akan menjadi suka menang sendiri, egoistis, mementingkan diri sendiri, dan mengjengkelkan. Ketiadaan
bimbingan dan arahan dari orang tua dapat mengakibatkan mereka merasa tidak aman, tidak punya orientasi, dan penuh keraguan. Apabila remaja menafsirkan kelonggaran pengawasan orang tua sebagai tidak adanya perhatian atau penolakan,
maka remaja itu mempersalahkan orang tua karena dipandang lalai memperingatkan atau menuntun mereka (Rice, 1996).

3. Gaya pengasuhan Authoritative. Model komunikasi orang tua dengan gaya pengasuhan ini adalah bentuk interaksi antara orang tua dengan anak, dalam mana orang tua melibatkan anak dalam pengambilan-pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya dengan keluarga, orang tua dengan gaya ini memberikan kesempatan kepada anak untuk menanyakan alasan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Orang tua dengan gaya ini menerapkan aturan-aturan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak dan bukan berdasarkan kebutuhan orang tua, orang tua dengan gaya ini memiliki ketegasan dalam membimbing anak dan tetap memiliki komunikasi yang hangat terhadap anak.Orang tua selalu memberikan kesempatan kepada anak untuk membuat perencanaan-perencanaan kegiatan, meskipun keputusan tetap ada pada orang tua. Orang tua akan mendengarkan alasan-alasan anak dalam merencanakan suatu kegiatan dan akan meminta penjelasan kepada anak jika orang tua tidak setuju dengan kegiatan yang dilakukan anak.Remaja didorong untuk melepaskan diri (self-detach) secara berangsur-angsur dari keluarga (Steinberg, 1993, Rice, 1996, Thornburg
1982). Kualitas-kualitas gaya pengasuhan authoritative diyakini dapat lebih menstimulir keberanian, motivasi dan kemandirian remaja menghadapai masa depannya. Gaya pengasuhan ini mendorong tumbuhnya kemampuan sosial, meningkatkan rasa percaya diri, dan tanggung jawab sosial pada remaja (Santrock,1985). Remaja dari keluarga authoritative hidup penuh dengan semangat dan bahagia,percaya diri dalam penguasaan tugas-tugas baru, dan memiliki pengendalian diri
dalam mengelola kemampuan-kemampuan mereka untuk tidak bertindak anarkis (Baumring, 1967). Gaya pengasuhan authoritative membuat remaja memilikikemandirian yang tinggi, mampu menggalang persahabatan dan kerja sama, menumbuhkan harga diri yang tinggi, memiliki kematangan sosial dalam berinteraksi dengan lingkungannya maupun keluarganya (Berk, 1994, Lamborn et al, 1991).


POLAH ASUH DAN PERILAKU DELINKUEN
Telah saya jelaskan diatas bahwa remaja adalah masa peralihan dari anak menuju dewasa, dimana pada fase ini remaja telah mengalami perkembangan fisik layaknya orang dewasa, mengalami perkembangan emosi yang labil, mengalami perkembangan sosial dimana pada fase ini remaja cenderung membentuk kelompok-kelompok sosial yang tidak jarang bertentangan dengan norma sosial, perkembangan psikoseksual dimana pada fase ini remaja telah mengalami perkembangan hormon-hormon seks yang dapat mendorongnya pada perilaku seksual, perkembangan kognitif dimana pada fase ini remaja telah berada pada fase operasional formal suatu fase perkembangan kognitif yang secara ideal remaja telah mampu berfikir layaknya orang dewasa dan para ilmuwan yang selalu ingin tahu dan mencari jawaban atas informasi yang diterimanya.

Perkembangan-perkembangan yang terjadi pada remaja tersebut, jika tidak mendapat kontrol serta bimbingan dari orang tua justeru akan membawa remaja kepada perilaku-perilaku delinkuen, karena remaja akan mengambil keputusan-keputusan berdasarkan emosi, berdasar nilai kelompok remajanya, berdasar pemikirannya, yang tidak jarang bertentangan dengan norma-norma sosial. Sebagai contoh seorang pelajar yang terjebak dalam penyalah gunaan narkoba disebabkan oleh masalah yang dihadapinya, karena tidak dapat menyelesaikan masalahnya, takut bercerita kepada orang tua karena khawatir dihukum dan dimarahi, pada akhirnya pelajar tersebut menceritakan masalahanya kepada kelompok remajanya (masih ingat remaja telah mengalami perkembangan sosial) dan kemlompok remajanya memberikan solusi NARKOBA dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Disinilah peran polah asuh dalam membentuk perilaku delinkuen, polah asuh yang authoritarian (tidak memberikan ruang untuk bertanya, berdiskusi, tidak hangat, cenderng memerintah, memarahi tanpa membuka ruang untuk alasan) dan polah asuh yang permisive (terlalu memberikan kebebasan kepada remaja tanpa adanya kontrol) tentu saja hanya akan membuat remaja tidak betah di rumah, lebih suka bergaul dengan teman sebayanya daripada dengan keluarga, lebih berani menceritakan masalahnya dengan kelompok sebayanya daripada dengan orang tua, lebih suka mendengarkan kata teman sebayanya daripada kata orang tua yang dianggap tidak memahami keberadaan dirinya dan apa yang dirasakannya.........dan pada akhirnya remaja justeru terperangkap pada solusi-solusi pemecahan masalah yang menyesatkan (ingat remaja secara fisik memang telah menyamai orang dewasa tetapi secara psikologis mereka masih seperti anak-anak sehingga sangat membtuhkan bimbingan dan kontrol).

Akhirnya polah asuh yang authoritative, polah asuh yang mau melibatkan remaja dalam pengambilan keputusan-keputusan keluarga yang menyangkut dirinya, polah asuh yang memberi ruang untuk bertanya, berargumen dan memberikan rasa aman, kehangatan, kedekatan yang akan mampu mengarahkan remaja pada perilaku-perilaku yang konstruktif dan positif.



DAFTAR PUSTAKA
Baumrind, D., 1971, Current Patterns of Parental Authority, Developmental Psychology Monographs.
Fuhrmann, B.S., 1990, Adolescence, Adolescents, Second Edition, Scott,
Rice, F. P. 1996, The Adolescent : Development, Relathionship, and Culture. Massachusetts : Allyn and Bacon
Steinberg, 1993, Adolescence, Third Edition, New York: McGraw-Hill, Inc.
Thornburg,. H.D, 1982, Dvelopment in Adolescence. California : Brooks/Cole
Monks., F.J., dkk, 2002, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
Santrock., John W., 1995, Perkembangan Masa Hidup jilid 2. Terjemahan oleh Juda Damanika & Ach. Chusairi, Jakarta:Erlangga.
Hurlock., E. B., 1993, Psikologi Perkembangan Edisi ke-5, Jakarta:Erlangga.
Darajad., Zakiah, 1970, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta:Bulan Bintang.
_____________, 1995, Remaja Harapan dan Tantangan, Jakarta:Ruhana.
Bisri., Hasan, 1995, Remaja Berkualitas, Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Setiono., Lili H., 2002, Beberapa Permasalahan Remaja, Dalam http://www.e-psikologi.com.
Aspin, 2006, Hubungan Gaya Pengasuhan Orang Tua Authoritarian Dengan Kemandirian Emosi Remaja, Tesis: Program Pasca Sarjana Universitas Padjajaran Bandung.



KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...

Rabu, 10 Desember 2008

TEORI-TEORI PERILAKU DELINKUEN

Ada beberapa teori yang membahas mengenahi sebab-sebab terjadinya perilaku kenakalan remaja yang pada dasarnya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: teori yang mendasarkan pada pandangan bahwa manusia lahir bagaikan kertas putih (tabula rasa) yang dipelopori oleh John Locke dan teori yang mendasarkan pada pandangan bahwa manusia lahir telah membawa potensi-potensi psikis yang biasa disebut dengan aliran nativisme.

Teori Biologis
Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku sosiopatik atau delinkuen pada anak-anak dan remaja dapat muncul karena faktor-faktor fisiologis dan struktur jasmaniah seseorang, juga dapat oleh cacat jasmaniah seseorang, dan juga dapat oleh cacat jasmaniah yang dibawa sejak lahir. Kejadian ini berlangsung (Kartono, 2001):
a) Melalui gen atau plasma pembawa sifat dalam keturunan, atau melalui kombinasi gen; dapat juga disebabkan oleh tidak adanya gen-gen tertentu, yang semuanya bisa memunculkan penyimpangan perilaku, dan anak-anak menjadi delinkuen secara potensial.

b) Melalui pewarisan tipe-tipe kecenderungan yang luar biasa (abnormal), sehingga membuahkan tingkah laku delinkuen.

c) Melalui pewarisan kelemahan konstitusional jasmaniah tertentu yang menimbulkan perilaku delinkuen atau sosiopatik. Misalnya cacat jasmaniah bawaan bracydactylisme (berjari-jari pendek) dan diabetes mellitus (sejenis penyakit gula) itu erat berkorelasi dengan sifat-sifat kriminal serta penyakit mental.
Lebih jelas Jensen (1985) yang dikutip oleh Sarlito Wirawan Sarwono, menurutnya teori psikogenik menyatakan bahwa kelainan perilaku disebabkan oleh kelainan fisik atau genetic (Sarwono, 2001). Searah dengan Jensen, Sheldon dalam teori konstitusinya beranggapan bahwa faktor-faktor genetik dan faktor-faktor biologis lainnya memainkan peranan yang menentukan dalam perkembangan individu. Sheldon menjelaskan bahwa ada sejenis struktur biologis hipotesis (morfogenotipe) yang mendasari jasmani luar yang bisa diamati (fenotipe) dan yang memainkan peranan penting tidak hanya dalam menentukan perkembangan jasmani, tetapi juga dalam membentuk tingkah laku (Hall, 1993).

Teori Psikogenis
Teori ini menekankan sebab-sebab perilaku delinkuen dari aspek psikologis. Antara lain faktor inteligensi, ciri kepribadian, motivasi, sikap-sikap yang salah, fantasi, rasionalisasi, internalisasi diri yang keliru, konflik batin, emosi yang kontroversial, kecenderungan psikopatologis dan lain-lain. Menurut Sigmund Freud, sebab-sebab kejahatan dan keabnormalan adalah karena pertempuran batin yang serius antara ketiga proses jiwa (Id, Ego, Superego) sehingga menimbulkan hilangnya keseimbangan dalam pribadi tersebut. Ketidak seimbangan itu menjurus pada perbuatan kriminal sebab fungsi Ego untuk mengatur dan memcahkan persoalan secara logis menjadi lemah (Mulyono, 1995). Argumen sentral dari teori ini adalah sebagai berikut: delinkuen merupakan bentuk penyelesaian atau kompensasi dari masalah psikologis dan konflik batin dalam menanggapi stimuli eksternal atau sosial dan pola-pola hidup keluarga yang patologis (Kartono, 1998).



Teori Sosiogenis
Teori sosiogenis yaitu teori-teori yang mencoba mencari sumber-sumber penyebab kenakalan remaja pada faktor lingkungan keluarga dan masyarakat. Termasuk dalam teori sosiogenis ini adalah teori Broken Home dari Mc. Cord, dkk (1959) dan teori "penyalah gunaan anak" dari Shanok (1981) (dalam Sarwono, 2001). Sutherland menyatakan bahwa anak dan para remaja menjadi delinkuen disebabkan oleh partisipasinya ditengah-tengah suatu lingkungan sosial, yang ide dan teknik delinkuen tertentu dijadikan sarana yang efesien untuk mengatasi kesulitan hidupnya (Dalam Kartono, 1998). Healy dan Bronner sarjana Ilmu sosial dari Universitas Chicago yang banyak mendalami sebab-sebab sosiogenis kenakalan remaja sangat terkesan oleh kekuatan kultural dan disorganisasi sosial dikota-kota yang berkembang pesat, dan banyak membuahkan perilaku delinkuen pada anak, remaja serta pola kriminal pada orang dewasa (Dalam Sarwono 2001). Argumen sentral dari teori ini menyatakan bahwa perilaku delinkuen pada dasarnya disebabkan oleh stimulus-stimulus yang ada diluar individu.


DAFTAR PUSTAKA

Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja,(Jakarta:Radja Grafindo Persada, 2001).

Calvin S. Hall & Gardner Lindzey, Teori-teori Sifat dan Behavioristik, (Yogyakarta:Kanisius, 1993).

Y. Bambang Mulyono, Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya, (Yogyakarta:Kanisius, 1995).
Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada, 1998).

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.
Continue Reading...

PENGERTIAN PERILAKU DELINKUEN

Ada beberapa pengertian tentang perilaku delinkuen, M. Gold dan J. Petronio mengartikan kenakalan remaja sebagai tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatan itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman (Sarwono, 2001). Keputusan Menteri Sosial (Kepmensos RI No. 23/HUK/1996) menyebutkan anak nakal adalah anak yang berperilaku

menyimpang dari norma-norma sosial, moral dan agama, merugikan keselamatan dirinya, mengganggu dan meresahkan ketenteraman dan ketertiban masyarakat serta kehidupan keluarga dan atau masyarakat (Depsos, 1999). B. Simanjutak memberi tinjauan secara sosiokultural tentang arti Juvenile Delinquency atau kenakalan remaja, suatu perbuatan itu disebut delinkuen apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat dimana ia hidup, atau suatu perbuatan yang anti-sosial dimana didalamnya terkandung unsur-unsur normative (Sudarsono, 1995).

Psikolog Bimo Walgito merumuskan arti selengkapnya dari Juvenile Delinquency sebagai tiap perbuatan, jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, jadi merupakan berbuatan yang melawan hukum yang dilakukan oleh anak, khususnya anak remaja (sudarsono, 1999). Fuad Hasan merumuskan definisi Delinquency sebagai perilaku anti sosial yang dilakukan oleh anak remaja yang bila mana dilakukan oleh orang dewasa dikualifikasikan sebagai tindak kejahatan (Sudarsono, 1999).

John W. Santrock mendefinisikan, kenakalan remaja (Juvenile Delinquency) mengacu pada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti bertindak berlebihan disekolah), pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah), hingga tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri) (Santrock, 1995). Menurut Kartini Kartono, Juvenile Delinquency adalah perilaku jahat (dursila), atau kejahatan atau kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangakan tingkah laku yang menyimpang (Kartono, 2001).

Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kenakalan remaja adalah perilaku yang dilakukan oleh remaja yang bertentangan dengan norma hukum yang telah dengan jelas ditentukan dalam KUHP, norma sosial dan norma agama yang telah diatur dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasul.

DAFTAR PUSTAKA
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja,(Jakarta:Radja Grafindo Persada, 2001).

Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial RI Jakarta, Pengertian-Pengertian Dibidang Kesejahteraan Sosial, (Jakarta:Departemen Sosial, 1999).

Sudarsono, Kenakalan Remaja, (Jakarta:Rineka Cipta, 1995).

John W. Santrock, Perkembangan Masa Hidup jilid 2. Terjemahan oleh Juda Damanika & Ach. Chusairi, (Jakarta:Erlangga, 1995).

Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada, 1998).

Continue Reading...

JENIS PERILAKU DELINKUEN

Berdasar pada beberapa pandangan teori mengenahi perilaku delinkuen diatas, maka delinkuensi remaja dapat dibagi dalam empat kelompok, yaitu (Kartono, 1998):

Delinkuensi individual, yaitu perilaku delinkuen anak merupakan gejalah personal atau individual dengan ciri-ciri khas jahat, disebabkan oleh predisposisi dan kecenderungan penyimpangan tingkah laku (psikopat, psokotis, neurotis, a-sosial) yang diperhebat oleh stimuli sosial dan kondisi kultural.

Delinkuensi situasional, yaitu delinkuensi yang dilakukan oleh anak yang normal; namun mereka banyak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan situasional, stimuli sosial, dan tekanan lingkungan, yang semuanya memberikan pengaruh "menekan-memaksa" pada pembentukan perilaku buruk.

Delinkuensi sistematik, yaitu delinkuensi yang telah disistematisir dalam suatu organisasi (gang). Semua kejahatn dirasionalisir dan dibenarkan sendiri oleh anggota gang, sehingga kejahatannya menjadi terorganisir atau menjadi sistematis sifatnya.
Delinkuensi kumulatif, yaitu delinkuensi yang sudah teresebar dihampir semua ibukota, kota-kota, bahkan sampai dipinggiran desa. Pada hakekatnya delinkuensi inimerupakan produk dari konflik budaya.

Hampir sama dengan pembagian jenis perilaku delinkuen diatas, Dadang Hawari & Marianti Soewandi dalam bukunya Remaja dan Permasalahannya membagi remaja yang melakukan perilaku delinkuen dalam tiga kategori, yaitu (Hawari, Tanpa Tahun):
Mereka yang berbuat nakal, disebabkan oleh karena memang kepribadiannya sudah "cacad" (psychopatic personality), sebagai akibat "deprivasi emosional" semasa kecilnya.
Mereka yang hanya ikut-ikutan, karena kebetulan sedang menginjak masa remaja. Sedangkan pada dasarnya anak itu sendiri baik (pengaruh lingkungan yang kurang baik).
Mereka yang nakal sebagai akibat suatu penyakit syaraf yang dideritanya, misalnya penyakit "ayan" atau "epilepsi".

Ernest R. Hilgard dalam bukunya "Introduction to Psychologi" mengelompokkan delinkuensi remaja dilihat dari pelaku perilaku tersebut kedalam dua golongan, yaitu (Andreyana, 1991):
Social delinquency, yaitu delinkuen yang dilakukan oleh sekelompok remaja, misalnya "gang".
Individual delinquency, yaitu delikuensi yang dilakukan oleh seorang remaja sendiri tanpa teman.

Wright membagi jenis kenakalan remaja dalam beberapa keadaan (Bisri, 1995):
Neurotic delinquency, remaja bersifat pemalu, terlalu perasa, suka menyendiri, gelisa dan mempunyai perasaan rendah diri. Mereka mempunyai dorongan yang kuat untuk berbuat suatu kenakalan seperti: mencuri sendirian, melakukan tindakan agresif secara tiba tanpa alasan karena dikuasai oleh fantasinya sendiri.
Unsocialized delinquency, suatu sikap yang suka melawan kekuasaan seseorang, rasa bermusuhan dan pendendam.
Pseudo social delinquency, remaja atau pemuda yang mempunyai loyalitas tinggi terhadap kelompok atau gang sehingga sikapnya tampak patuh, setia dan kesetiakawanan yang baik. Jika melakukan perilaku kenakalan bukan atas kesadaran diri sendiri yang baik tetapi karena didasari anggapan bahwa ia harus melaksanakan sesuatu kewajiban kelompok yang digariskan.

Jensen (1985) yang melihat perilaku delinkuen dari sigi bentuk dan dampak kenakalan, menggolongkan perilaku delinkuen dalam empat jenis, yaitu (Kartono, 1998):
Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan lain-lain.
Kenakalan yang menimbulkan korban materi: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, dan lain-lain.
Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban difihak orang lain: pelacuran, penyalah gunaan obat, hubungan seks pra-nikah.
Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah mereka dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada, 1998).

H. Dadang Hawari & CM. Marianti Soewandi, Remaja dan permasalahannya, (Surabaya:Badan Pelaksana Penanggulangan Narkotika dan Kenakalan Anak-Anak Remaja Jawa Timur, tanpa tahun).

Raema Andreyana, "Maslah-Masalah Delinkuensi Remaja" dalam Kartini Kartono, Bimbingan Bagi anak dan Remaja Yang Bermasalah, (Jakarta:Rajawali Pers, 1991).

Hasan Bisri, Remaja Berkualitas, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1995).

Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja,(Jakarta:Radja Grafindo Persada, 2001).

Continue Reading...

FAKTOR PENYEBAB PERILAKU DELINKUEN

Pada dasarnya faktor-faktor penyebab perilaku kenakalan remaja terdiri atas akumulasi berbagai macam faktor, baik internal maupun eksternal, seperti: pola asuh orang tua, lingkungan rumah, lingkungan sekolah dan lingkungan sosial.


Faktor internal.
Perilaku delinkuen pada dasarnya merupakan kegagalan sistem pengontrol diri anak terhadap dorongan-dorongan instingtifnya, mereka tidak mampu mengendalikan dorongan-dorongan instingtifnya dan menyalurkan kedalam perbuatan yang bermanfaat. Pandangan psikoanalisa menyatakan bahwa sumber semua gangguan psikiatris, termasuk gangguan pada perkembangan anak menuju dewasa serta proses adaptasinya terhadap tuntutan lingkungan sekitar ada pada individu itu sendiri, barupa (Kartono, 1998):
Konflik batiniah, yaitu pertentangan antara dorongan infatil kekanak-kanakan melawan pertimbangan yang lebih rasional.

Pemasakan intra psikis yang keliru terhadap semua pengalaman, sehingga terjadi harapan palsu, fantasi, ilusi, kecemasan (sifatnya semu tetapi dihayati oleh anak sebagai kenyataan). Sebagai akibatnya anak mereaksi dengan pola tingkah laku yang salah, berupa: apatisme, putus asa, pelarian diri, agresi, tindak kekerasan, berkelahi dan lain-lain.

Menggunakan reaksi frustrasi negatif (mekanisme pelarian dan pembelaan diri yang salah), lewat cara-cara penyelesaian yang tidak rasional, seperti: agresi, regresi, fiksasi, rasionalisasi dan lain-lain.
Selain sebab-sebab diatas perilaku delinkuen juga dapat diakibatkan oleh (Kartono, 1998):
Gangguan pengamatan dan tanggapan pada anak-anak remaja.
Gangguan berfikir dan inteligensi pada diri remaja, hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang lebih 30% dari anak-anak yang terbelakang mentalnya menjadi kriminal.
Gangguan emosional pada anak-anak remaja, perasaan atau emosi memberikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebagahiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia, jika semua terpuaskan orang akan merasa senang dan sebaliknya jika tidak orang akan mengalami kekecewaan dan frustrasi yang dapat mengarah pada tindakan-tindakan agresif. Gangguan-gangguan fungsi emosi ini dapat berupa: inkontinensi emosional (emosi yang tidak terkendali), labilitas emosional (suasana hati yang terus menerus berubah, ketidak pekaan dan menumpulnya perasaan.
Cacat tubuh, faktor bakat yang mempengaruhi temperamen, dan ketidak mampuan untuk menyesuaikan diri (Philip Graham, 1983) (Dalam Sarwono, 2001).

Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, perilaku delinkuen merupakan kompensasi dari masalah psikologis dan konflik batin karena ketidak matangan remaja dalam merespon stimuli yang ada diluar dirinya. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat (Tambunan, 2006).
Faktor Eksternal
Disamping faktor-faktor internal, perilaku delinkuen juga dapat diakibatkan oleh faktor-faktor yang berada diluar diri remaja, seperti (Kartono, 1998):

Faktor keluarga, keluarga merupakan wadah pembentukan peribadi anggota keluarga terutama bagi remaja yang sedang dalam masa peralihan, tetapi apabila pendidikan dalam keluarga itu gagal akan terbentuk seorang anak yang cenderung berperilaku delinkuen, semisal kondisi disharmoni keluarga (broken home), overproteksi dari orang tua, rejected child, dll.
Faktor lingkungan sekolah, lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan, semisal: kurikulum yang tidak jelas, guru yang kurang memahawi kejiwaan remaja dan sarana sekolah yang kurang memadai sering menyebabkan munculnya perilaku kenakalan pada remaja. Walaupun demikian faktor yang berpengaruh di sekolah bukan hanya guru dan sarana serta perasarana pendidikan saja. Lingkungan pergaulan antar teman pun besar pengaruhnya.
Faktor milieu, lingkungan sekitar tidak selalu baik dan menguntungkan bagi pendidikan dan perkembangan anak. Lingkungan adakalanya dihuni oleh orang dewasa serta anak-anak muda kriminal dan anti-sosial, yang bisa merangsang timbulnya reaksi emosional buruk pada anak-anak puber dan adolesen yang masih labil jiwanya. Dengan begitu anak-anak remaja ini mudah terjangkit oleh pola kriminal, asusila dan anti-sosial.
Kemiskinan di kota-kota besar, gangguan lingkungan (polusi, kecelakaan lalu lintas, bencana alam dan lain-lain (Graham, 1983).
Faktor keluarga memang sangat berperan dalam pembentukan perilaku menyimpang pada remaja, gangguan-gangguan atau kelainan orang tua dalam menerapkan dukungan keluarga dan praktek-praktek manajemen secara konsisten diketahui berkaitan dengan perilaku anti sosial anak-anak remaja (Santrock, 1995). Semisal: overproteksi dari orang tua, rejected child, dll. Sebagai akibat sikap orang tua yang otoriter menurut penelitin Santrock & Warshak (1979) di Amerika Serikat maka anak-anak akan terganggu kemampuannya dalam tingkah laku sosial. Kempe & Helfer menamakan pendidikan yang salah ini dengan WAR (Wold of Abnormal Rearing), yaitu kondisi dimana lingkungan tidak memungkinkan anak untuk mempelajari kemampuan-kemampuan yang paling dasar dalam hubungan antar manusia (Sarwono, 2001).

Selain faktor keluarga dan sekolah, faktor milieu juga sangat berpengaruh terhadap perilaku kenakalan, karena milieu-milieu yang ada dalam masyarakat akan turut mempengaruhi perkembangan perilaku remaja. Menurut Sutherland perilaku menyimpang yang dilakukan remaja sesungguhnya merupakan sesuatu yang dapat dipelajari. Asumsi yang melandasinya adalah 'a criminal act occurs when situation apropriate for it, as defined by the person, is present' (Rose Gialombardo; 1972). Lebih lanjut menurutnya (Suyatno, 2006).

Perilaku remaja merupakan perilaku yang dipelajari secara negatif dan berarti perilaku tersebut tidak diwarisi (genetik). Jika ada salah satu anggota keluarga yang berposisi sebagai pemakai maka hal tersebut lebih mungkin disebabkan karena proses belajar dari obyek model dan bukan hasil genetik.
Perilaku menyimpang yang dilakukan remaja dipelajari melalui proses interaksi dengan orang lain dan proses komunikasi dapat berlangsung secara lisan dan melalui bahasa isyarat.

Proses mempelajari perilaku biasanya terjadi pada kelompok dengan pergaulan yang sangat akrab. Remaja dalam pencarian status senantiasa dalam situasi ketidaksesuaian baik secara biologis maupun psikologis. Untuk mengatasi gejolak ini biasanya mereka cenderung untuk kelompok di mana ia diterima sepenuhnya dalam kelompok tersebut. Termasuk dalam hal ini mempelajari norma-norma dalam kelompok. Apabila kelompok tersebut adalah kelompok negatif niscaya ia harus mengikuti norma yang ada.

Apabila perilaku menyimpang remaja dapat dipelajari maka yang dipelajari meliputi: teknik melakukannya, motif atau dorangan serta alasan pembenar termasuk sikap.
Arah dan motif serta dorongan dipelajari melalui definisi dari peraturan hukum.


DAFTAR PUSTAKA

Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada, 1998).

Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja,(Jakarta:Radja Grafindo Persada, 2001).

Raimon Tambunan, Perkelahian Pelajar, (http// e-psikologi.com, diakses 27 maret 2006).

John W. Santrock, Perkembangan Masa Hidup jilid 2. Terjemahan oleh Juda Damanika & Ach. Chusairi, (Jakarta:Erlangga, 1995).

Bagong Suyatno, Memahami Remaja Dari Berbagai Perspektif Kajian Sosiologis, (http://bkkbn.go.id, diakses 27 Maret 2006).

Hasbullah M. Saad, Perkelahian Pelajar;Potret Siswa SMU di DKI Jakarta, (Yogyakarta:Galang Press, 2003).

Continue Reading...

BENTUK-BENTUK PERILAKU DELINKUEN

William C. Kvaraceus membagi bentuk kenakalan menjadi dua, yaitu (Mulyono, 1995):
Kenakalan biasa seperti: Berbohong, membolos sekolah, meninggalkan rumah tanpa izin (kabur), keluyuran, memiliki dan membawa benda tajam, bergaul dengan teman yang memberi pengaruh buruk, berpesta pora, membaca buku-buku cabul, turut dalam pelacuran atau melacurkan diri, berpakaian tidak pantas dan minum minuman keras.


Kenakalan Pelanggaran Hukum, seperti: berjudi, mencuri, mencopet, menjambret, merampas, penggelapan barang, penipuan dan pemalsuan, menjual gambar-gambar porno dan film-film porno, pemerkosaan, pemalsuan uang, perbuatan yang merugikan orang lain, pembunuhan dan pengguguran kandungan.


DAFTAR PUSTAKA

Y. Bambang Mulyono, Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya, (Yogyakarta:Kanisius, 1995).

Continue Reading...

KECERDASAN EMOSI

Goleman (1995) mendefiniskan kecerdasan emosi adalah kecakapan emosional yang meliputi: a) kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan memiliki daya tahan ketika menghadapi rintangan, b). mampu mengendalikan impuls dan tidak cepat merasa puas, c). mampu mengatur suasana hati dan mampu mengelolah kecemasan agar tidak menggangu kemampuan berfikir, d). mampu berempati serta berharap (Setiadi, 2001).

Menurut Robert K. Cooper kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan, memahami, dam secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, koneksi, informasi dan pengaruh yang manusiawi (Ginanjar, 2001). Sedang Napoleon Hills menamakan EQ sebagai kekuatan berfikir alam bawah sadar yang berfungsi sebagai tali kendali atau pendorong (Ginanjar, 2001).

Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan, kecerdasan emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri sendiri dan mewujudkannya dalam perilaku yang konstruktif serta kemampuan untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain. Berbeda dengan pandangan masyarakat tentang emosi yang lebih mengarah pada emosionalitas sebaliknya pengertian emosi dalam lingkup kecerdasan emosi lebih mengarah pada kemampuan yang bersifat positif.

Aspek-Aspek Kecerdasan Emosi
Menurut Reuven Bar-On (1996) kecerdasan emosi dibagi menjadi empat bagian (Dalam Setiadi, 2001):



Intrapersonal
Kesadaran diri emosional (emotional self-awareness): kemampuan untuk mengenali perasaan diri. Memperjuangkan hak dan dengan terbuka mengekspresikan pikiran, keyakinan dan persaan dengan cara yang tidak destruktif.
Self- regard: Kemampuan untuk menghargai dan menerima diri sendiri yang pada dasarnya baik.
Aktualisasi diri: Kemampuan untuk menyadari kemampuan potensial yang dimiliki dengan cara melibatkan diri agar dapat menjalani hidup yang berarti, penuh dan kaya.
Kemandirian: kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan diri dalam berfikir dan bertindak, serta bebas dari ketergantungan emosional.

Interpersonal:
Empati: Kemampuan untuk menyadari, memahami, dan menghargai perasaan orang lain.
Hubungan interpersonal: Kemampuan untuk membangun dan membina hubungan yang sama-sama memuaskan yang tampak dari keintiman serta pemberian dan penerimaan afeksi.
Tanggung jawab sosial: Kemampuan untuk menampilkan diri sebagai anggota kelompok sosial yang kooperatif, kontributif dan konstruktif.
Orientasi kognitif
Kemampuan memecahkan masalah (problem solving): kemampuan untuk mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah serta dapat memunculkan dan menerapkan solusi yang efektif.
Menguji kenyataan (reality testing): kemampuan untuk melihat hubungan antara apa yang dialami dengan apa yang ada secara objektif.
Fleksibilitas: kemampuan untuk mengatur pikiran, emosi dan perilaku sesuai dengan situasi dan kondisi yang berubah-ubah.
Mengatasi stres: kemampuan untuk bertahan ketika menghadapi peristiwa yang sulit dan situasi yang menekan tanpa menjadi rapuh dengan menghadapi stres tersebut dengan aktif dan positif.
Mengendalikan impuls: kemampuan untuk menahan atau menghambat impuls, dorongan atau godaan untuk melakukan tindakan.
Afeksi:
Kebahagiaan: kemampuan untuk merasa puas dengan kehidupan yang dialami, menyenangi diri sendiri dan orang lain serta bisa bersenang senang.
Optimisme: kemampuan untuk melihat sisi positif dari kehidupan dan bisa menjaga sifat yang positif walau menghadapi situasi yang buruk.

DAFTAR PUSTAKA

A.V. Aryaguna Setiadi, "Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dengan Keberhasilan Bermain Game":, Jurnal Anima, (Vol. 17, 2001).

Ary Ginanjar Agustin, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi, (Jakarta:Arga, 2001).


Continue Reading...
 

Daftar Blog

Daftar Blog

  • PROGRAM BANGKIT - Telah di buka Program Bangkit dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) yang merupakan program pembinaan talenta digital untuk mahasiswa ...
    4 tahun yang lalu

Daftar Blog

suhadianto.blogspot.com Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template