ESTIMASI RELIABILITAS


Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh sarjana psikologi adalah kemampuan dalam mengkonstruksi suatu alat tes psikologi. Keharusan penguasaan dalam mengkonstruksi suatu alat tes, tidak lain karena sarjana psikologi akan selalu dihadapkan pada sebuah tugas yang berkaitan dengan diagnosis terhadap atribut-atribut psikologis. Meskipun alat tes bukan merupakan satu-satunya instrumen yang dapat digunakan dalam melakukan diagnosis, karena seorang psikolog bisa melakukan diagnosis hanya dengan melakukan interview & observasi. Namun dalam kenyataannya alat tes psikologi lebih sering digunakan untuk tujuan diagnosis ketimbang metode lainnya.

Mengingat begitu pentingnya penguasaan konstruksi tes psikologi, maka semua mahasiswa psikologi diharapkan mampu menguasai tahapan-tahapan dalam konstruksi tes psikologi, diantaranya adalah penguasaan dalam estimasi reliabilitas suatu alat tes.

Selanjutnya, ada beberapa rumus yang dapat digunakan untuk keperluan estimasi reliabilitas:
  1. Formula Spearman Brown
  2. Formula Rulon
  3. Formula Flanagan
  4. Formula KR 20 & KR21
  5. Analisis Varian
  6. Koefisien Alpha
  7. Formula Kristof
  8. Formula Feld

Tugas Untuk semester III

  1. Beri penjelasan kegunaan masing-masing formula di atas.
  2. Buatlah data fiktif dengan jumlah subjek atau N=10 dan jumlah Item = 10, kemudian lakukan penghitungan reliabilitas dengan salah satu formula di atas.
  3. Buatlah data fiktif dengan N= 10 dan jumlah item = 9, kemudian lakukan penghitungan reliabilitas dengan salah satu formula di atas.
Tugas dikumpulkan minggu depan, Selamat belajar dan mengerjakan

MENGATASI PERILAKU ANAK AUTIS


Pendahuluan
Pembaca mungkin tidak asing lagi dengan gangguan Autis, itu karena akhir-akhir ini gangguan pada anak yang dicirikan dengan ketidak mampuan dalam interaksi sosial, perilaku yang mal adapatif, tidak adanya kemampuan dalam berbahasa verbal dan non-verbal, ketertinggalan dalam perkembangan kemampuan motorik kasar dan motorik halus, serta ditandai dengan ketidak mampuan dalam kontrol bina diri ini sedang banyak dibicarakan dimana-mana, mulai di Televisi, koran, dan….tentu saja di blog kesayanganku ini.

Baiklah para pembaca yang budiman, kali ini saya ingin berbagi dengan anda dalam menangani perilaku-perilaku mal adaptif pada anak Autis, seperti teriak-teriak tanpa sebab (bagi orang yang melihat), agresif, tantrum (menyakiti diri sendiri), tertawa tanpa sebab, mengompol, dan perilaku-perilaku serupa lainnya.

Seperti telah saya jelaskan diatas, salah satu gangguan pada anak autis adalah ketidak mampuan mereka dalam berbahasa verbal dan non-verbal. Ketidak mampuan anak autis dalam berbahasa inilah yang menyebabkan anda dan kebanyakan orang yang terlibat dalam pendidikan anak autis, selalu mengatakan “Dia (si autis) tak bisa bicara, jadi dia tak dapat berkomunikasi” . Perkataan seperti ini tentu tidak sepenuhnya benar, kenapa demikian, bukankah semua tingkah laku anak adalah suatu bentuk komunikasi. Tomi (autis) selalu menutup telinga saat mendengar suara bising, Tomi selalu teriak jika dibawa ke kamar mandi, Tomi selalu meronta jika dipeluk. Ini semua adalah cara Tomi untuk mengatakan pada orang lain tentang hal-hal yang tidak dia sukai.
Mungkin anda belum sepenuhnya setuju dengan pendapat saya di atas ?. Baik, saya akan coba jelaskan kembali. Kebanyakan orang mengatakan anak autis sering melakukan perilaku-perilaku mal adaptif tanpa ada sebab, perkataan seperti ini tentu juga tidak sepenuhnya benar. Pada dasarnya semua perilaku anak autis tidak ada yang tanpa sebab. Semua dilakukan karena sebuah sebab yang jelas, hanya saja anda, dan sebagian besar dari mereka yang bergelut dibidang autis kurang dapat memahami penyebab dari kemunculan perilaku tersebut. Sebagai contoh, Ibu Tomi selalu bilang kalau anaknya selalu tertawa dan teriak tanpa sebab. Sebenarnya bukan tanpa sebab, hanya Ibu Tomi belum dapat menemukan sebab dari kemunculan perilaku tertawa dan teriak tersebut.

Nah, anggapan anda dan sebagian orang bahwa anak autis itu tidak bisa berkomunikasi, bahwa anak autis itu selalu tertawa dan teriak tanpa sebab…dan pernyataan-pernyataan negatif lainnya inilah yang pada akhirnya mendorong anda dan sebagian besar dari mereka yang bergelut dibidang pendidikan anak autis, kerap menggunakan pendekatan yang kurang humanis atau tidak berpusat pada anak dalam menangani perilaku-perilaku mal adaptif pada anak autis. Sebagai contoh, saya sering menjumpai seorang terapis yang hanya menggunakan kata “tidak” untuk menangani perilaku agresi pada anak autis, tanpa berusaha memahami sumber permasalahannya (kapan anak berperilaku agresif, pada situasi seperti apa anak berperilaku agresif dan seterusnya). Bahkan dibeberapa tempat masih ada terapis yang menggunakan kekerasan fisik dalam mendidik anak autis. Saya pernah menjumpai seorang Ibu yang selalu mengikat anak autisnya dengan rantai, supaya tidak berperilaku agresif, ini sungguh sangat memprihatinkan.

Lalu Cara Apa yang Mesti Digunakan?
Sebenarnya cara ini sudah sering anda praktekkan pada anak non-autis. Lalu kenapa anda tidak pernah tau bahwa cara tersebut juga dapat diterapkan pada anak autis ?, karena selama ini anda terlalu negatif thinking pada anak autis, dengan mengatakan anak autis tidak bisa berkomunikasi dan berperilaku tanpa sebab. Pada saat anak anda, adik anda, atau sepupu anda yang masih kecil menangis pasti anda akan menanyakan apa yang menyebabkan dia menangis, dan setelah mendapatkan jawabannya anda akan berusaha menghilangkan penyebab tersebut, dan kemudian anda akan melihat adik anda tersenyum kembali. Anak autis juga demikian, dia juga akan berhenti dari perilaku agresifnya, jika anda menghilangkan penyebab dari perilaku tersebut. Tentu saja untuk menemukan penyebab kemunculan perilaku pada anak non-autis jauh lebih mudah jika dibandingkan pada anak autis.

Ada beberapa pertanyaan yang harus kita jawab untuk tujuan mengidentifikasi penyebab munculnya perilaku mal adaptif pada anak autis:

1.Apa masalahnya?
2.Situasi dan tempat munculnya perilaku.
3.Pemicu dan waktu, Kapan ini terjadi ?.
4.Buta pikiran.
5.Memahami inti situasi.
6.Imajinasi.
7.Ketertarikan dan pengalaman sensori.
8.Interaksi sosial.
9.Komunikasi.
10.Emosi.

Lebih jelas mengenai form instrument identifikasi dan aplikasinya
dapat anda download DISINI.karena materinya terlalu banyak dan sangat tidak mungkin saya posting semua disini. Semoga bermanfaat bagi semua.

KRITERIA DIAGNOSIS UNTUK SINDROM ASPERGER DARI GILLBERG DAN GILLBERG (1989)


KRITERIA DIAGNOSIS UNTUK SINDROM ASPERGER DARI GILLBERG DAN GILLBERG (1989)

Ketidak Cakapan Sosial (Egosentrisitas yang ekstrem)

(setidaknya ditunjukkan oleh dua dari empat criteria berikut):

1. Tidak mampu berinteraksi dengan rekan-rekan sebaya.

2. Tidak memiliki hasrat untuk berinteraksi dengan rekan-rekan sebaya.

3. Tidak memiliki apresiasi terhadap isyarat-isyarat sosial.

4. Perilakunya, secara sosial dan emosi tidak tepat.


Minat yang Terbatas

(Setidaknya ditunjukkan oleh satu dari tiga criteria berikut):

1. Pengabaian aktivitas-aktivitas lainnya.

2. Kepastian yang berulang.

3. Lebih banyak hafalan daripada pemahaman makna.


Rutinitas yang Berulang

(Setidaknya ditunjukkan oleh satu dari criteria berikut):

1. Pada diri sendiri, dalam aspek-aspek kehidupan.

2. Pada orang lain.


Keanehan-keanehan Ujaran dan Bahasa

(setidaknya ditunjukkan oleh tiga dari lima criteria berikut ini):

1. Perkembangan yang tertunda.

2. Bahasanya tampak ekspresif dan sempurna.

3. Bahasanya terlalu ilmiah dan formal.

4. Intonasinya ganjil dan nada suaranya aneh.

5. Pemahamannya sangat lemah, termasuk salah tafsir makna harfiah atau implicit.


Permasalahan-permasalahan Komunikasi nonverbal

(Setidaknya ditunjukkan oleh satu dari lima criteria berikut ini):

1. Terbatasnya penggunaan gerak atau isyarat.

2. Bahasa tubuh yang kikuk atau kaku.

3. Ekspresi wajah yang terbatas.

4. Perilaku yang tidak tepat.

5. Tatapan yang kaku dan aneh.


Kekikukan Gerak

Hasil yang buruk dari pemeriksaan perkembangan syaraf.

 
Powered By Blogger | Portal Design By Trik-tips Blog © 2009 | Resolution: 1024x768px | Best View: Firefox | Top