Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2009

PENGARUH LIRIK LAGU TERHADAP PERILAKU PACARAN REMAJA


Tadi pagi sebelum mulai mengajar saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid-murid saya di SMP Ta’miriyah Surabaya.
Teh botol ?...
Pasta gigi ?...
Yamaha ?...

Anda pasti tau jawaban apa yang diberikan oleh murid-murid saya, sebab kalau pertanyaan ini saya ajukan kepada anda, anda pun pasti akan memberikan jawaban yang sama kepada saya. Mereka serentak memberikan jawaban:
Sosro
Pepsoden
Jupiter

Saya yakin saat ini anda sedang menganggukkan kepala tanda setuju, bahwa anda juga memiliki jawaban yang sama terhadap beberapa pertanyaan di atas. Lalu kenapa semua murid saya, anda dan bahkan mungkin juga saya memiliki jawaban yang sama atas pertanyaan tersebut ?. Tidak lain karena iklan teh botol sosro, iklan pasta gigi pepsoden, dan iklan Yamaha Jupiter telah mempengaruhi alam bawah sadar kita. Salah satu ungkapan yang sangat populer dari Sigmund Freud pendiri aliran psikologi analisis adalah apa yang disebutnya dengan FENOMENA GUNUNG ES. Menurut Freud, alam kesadaran atau perilaku yang tampak dari individu hanyalah bagian kecil dari pribadi individu tersebut, bagian terbesar dari pribadi atau kepribadian atau diri atau aku atau Ego (istilah Freud) adalah apa yang disebut sebagai alam bawah sadar (kondisi ini dalam istilah Freud disebut dengan FENOMENA GUNUNG ES).

Menurut Freud, alam bawah sadar inilah yang mempengaruhi munculnya sebuah perilaku dan menurut Freud sumber alam bawah sadar dapat diperoleh melalui introjeksi dari nilai-nilai sosial oleh orang tua atau lingkungan. Dengan kata lain semua yang pernah dialami oleh seseorang, baik pengalaman yang menyenangkan maupun pengalaman yang tidak menyenangkan, selanjutnya akan disimpan dalam alam bawah sadar. Semua pengalaman yang telah disimpan dalam alam bawah sadar tersebut selanjutnya akan muncul kedalam bentuk perilaku jika mendapat rangsangan atau stimulasi dari luar yang memiliki asosiasi atau hubungan dengan pengalaman tersebut. Sebagai contoh: Anna O tiba-tiba teriak histeris saat melihat darah, kenapa perilaku tersebut dapat terjadi ?...Beberapa tahun yang lalu pada saat Anna O pulang dari sekolah dia mendapati kedua orang tuanya terkapar di lantai dengan berlumuran darah, sejak saat itu Anna O tidak berani melihat darah…Jadi perilaku histeris pada Anna O adalah disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang telah disimpan di bawah kesadaran. Kenapa pada saat ada ungkapan teh botol para murid serempak menjawab sosro ? karena para murid telah memiliki pengalaman mengenai iklan teh botol sosro.




BAGAIMANA PROGRAM MUSIK DI TV DAPAT MEMPENGARUHI PERILAKU PACARAN DIKALANGAN REMAJA ?

Anda pasti ingat dengan penggalan lirik lagu berikut “…so what gitu loh..”. Anda juga pasti belum lupa, pada saat lagu tersebut lagi booming, sedikit-sedikit para remaja kita berceloteh so what gitu loh, so what gitu loh, so what gitu loh, mungkin anda juga termasuk yang terpengaruh dengan lirik lagu tersebut atau mungkin anda termasuk dari beberapa orang yang dibuat risih oleh celotehan tersebut. Kenapa para remaja ketika itu selalu berceloteh so what gitu loh?..karena lirik lagu tersebut telah menjadi pengalaman dan telah tersimpan dalam alam bawah sadar setiap orang yang mendengar lagu tersebut, dan pengalaman tersebut akan muncul kedalam bentuk perilaku berceloteh so what gitu loh pada saat mendapat rangsangan yang berasosiasi dengan pengalaman tersebut.

Menurut Brofenbrenner, dikenal sebagai seorang Ekolog melalui salah satu karyanya yang dipublikasikan pada tahun 1979 – 1989). Faktor-faktor dari luar diri yang dapat mempengaruhi perilaku tersusun dalam lingkaran-lingkaran yang berlapis.
1.Lingkaran pertama, disebut dengan lingkaran mikro-sistem yang terdiri atas keluarga, sekolah, guru, tempat penitipan anak, teman sebaya, tetangga, dst.
2.Lingkaran ke dua, disebut dengan meso-sistem yaitu interaksi antara faktor-faktor dalam lingkaran pertama.
3.Lingkaran ke tiga, disebut dengan exo sistem, yaitu lingkaran yang tidak langsung menyentuh diri anak tetapi masih besar pengaruhnya, seperti media massa, televisi, dll.
4.Lingkaran ke empat, disebut dengan makro sistem, yaitu hokum, adat, tradisi, dst.

Berdasar pada pandangan Brofenbrenner diatas, telah sangat jelas bahwa tayangan program musik seperti Tangga lagu, Missing Lyric, Happy Song dan seabrek program musik lain yang saat ini sedang mendominasi tayangan televisi kita akan berpengaruh terhadap perilaku pacaran dikalangan remaja. Lirik lagu yang saat ini lebih didominasi oleh tema-tema percintaan tentu sangat pas dengan kondisi dan kebutuhan remaja yang secara psikologis sedang mengalami perkembangan psikoseksual dan secara biologis telah mengalami kematangan secara hormonal. Dimana remaja telah mengalami ketertarikan dengan lawan jenis dan memiliki dorongan seksual yang begitu kuat.

Dalam pandangan Freud, seabrek program musik di atas, yang secara umum didominasi oleh lirik dengan tema-tema percintaan selanjutnya akan memberi pengalaman pada pendengarnya, pengalaman-pengalaman tersebut selanjutnya akan disimpan ke dalam alam bawah sadar dan akan muncul dalam bentuk perilaku jika memperoleh rangsangan dari luar. Sebagai contoh: banyak sekali remaja kita yang hari ini telah bertekat bulat memutuskan hubungannya dengan pacar, dia bilang pacarnya bajingan (pada saat menggunakan kata bajingan, saya terpengaruh dengan lirik lagu wali), tetapi keesokan harinya dia nyambung kembali dengan sang pacar (mungkin terpengaruh dengan penggalan lagu putus nyambung putus nyambung).

Percaya?.......tidak percaya?....... coba introspeksi diri anda sebentar saja, benarkah anda tidak terpengaruh dengan lirik lagu ?, benarkah kalau anda tidak pernah merasakan bahwa ada salah satu lirik lagu yang mewakili perasaan anda?. Kalau saya seratus persen percaya bahwa lirik lagu dapat berpengaruh terhadap perilaku pacaran dikalangan remaja. Coba anda amati, sepuluh tahun yang lalu jumlah remaja yang berpacaran tidak sebanyak saat sekarang karena sepuluh tahun lalu program musik di TV tidak sebanyak sekarang. Sepuluh tahun lalu remaja masih malu jika sudah punya pacar saat duduk di bangku SMP, tetapi sekarang ini remaja SMP yang tidak punya pacar yang akan malu dengan teman-temannya. Sepuluh tahun lalu mengungkapkan cinta tidak mesti harus dengan ciuman, tapi bagaimana dengan sekarang ?......tanyakan saja pada lirik lagu dan tayangan sinetron yang saat ini didominasi oleh sinetron dengan tema percintaan. Sepuluh tahun lalu pacaran masih sedikit malu, tapi bagaimana dengan sekarang?.. tanyakan saja pada program CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali), Back Street, Mak…Jomblangin Doonk DE EL EL.

AKHIRNYA SEMOGA BERMANFAAT AMIN……
Continue Reading...

PERKEMBANGAN KOGNITIF PADA USIA PERTENGAHAN


KETRAMPILAN OPERASIONAL KONKRET

Selama usia pertengahan, anak menjadi terampil pada opersional konkret, dimana aktivitas mental difokuskan pada kenyataan, merasakan obyek dan peristiwa. Operasi konkret mempunyai tiga kualitas yang saling berkaitan : desentrasi, sensitivitas untuk transformasi dan resersibilitas (Piaget, 1965).

Desentrasi artinya memperhatikan dengan banyak perencanaan pada suatu masalah pada satu waktu. Pada mengestimasikan jumlah uang sen yang terpencar pada sebuah meja, sebagai contoh, seorang anak usia sekolah mungkin akan sekali menghitungnya tidak hanya berdasar seberapa besar barisannya tetapi juga seberapa jauh jarak tiap kancing terlihat.

Sensitivitas untuk transformasi artinya memperhatikan dan mengingat perubahan yang signifikan pada obyek. Ketika memutuskan apakah cairan pada sebuah gelas yang sama setelah dituangkan pada sebuah wadah yang baru, seorang anak usia sekolah memusatkan pada proses perubahan aktual yang terjadi – transformasi – memperhatikan bagaimana cairan terlihat sebelum dan sesudah dituangkan.

Reversibilitas dapat diartikan pemecahan masalah secara mental kembali untuk memulainya. Dalam memutuskan jumlah cairan pada suatu wadah, anak dapat membayangkan penuangan kembali ke gelas semula tanpa peragaan secara nyata.

Dalam beberapa cara, operasi hitungan konkret untuk penemuan kembali ketrampilan yang membentuk anak-anak dalam masa praoperasional dalam istilah ketrampilan klasifikasi, sekitar usia 7 tahun, anak-anak telah meningkatkan kemampuan klasifikasi atau mengelompokan mereka, secara substansial atas apa yang mereka dapat lakukan sebagai anak pra sekolah.

Secara khusus mereka sedikit bingung daripada menggunakan kelas inklusi – mengelompokkan dimana satu jenis obyek dibandingkan dengan yang lebih besar, tipe obyek yang lebih inklusif. Contohnya anak laki dan perempuan keduanya dikelompokkan ke kategori yang lebih besar – anak-anak.

Konservasi pada Usia Pertengahan

Beberapa ketrampilan kognitif membuat penampilan nyata mereka selama usia pertengahan. Kemungkinan pengetahuan terbaik ini adalah konservasi, dimana sebuah kepercayaan terhadap kepemilikan tertentu dari sebuah obyek meninggalkan atau menyisakan beberapa perubahan yang sama atau konstan dalam penampilan obyek.

Sebuah contoh konservasi kuantitas adalah salah meliputi 2 gelas pipih dan tinggi dengan jumlah air yang persis sama di dalamnya. Jika kamu mengosongkan satu gelas ke dalam gelas yang lebar lebih pendek, kamu menciptakan perubahan perseptual substansial terhadap air; hal ini terlihat sangat berbeda dari sebelumnya dan sangat berbeda dari air di dalam gelas yang tinggi. Akankah seorang anak percaya bahwa gelas yang lebar mempunyai jumlah air yang sama seperti gelas yang tinggi? Jika iya, kemudian ia konserv, mengartikan bahwa ia, menunjukkan suatu kepercayaan dalam konstansi air ke dalam perubahan perseptual.

Piaget menemukan bahwa setelah usia sekitar tujuh tahun kebanyakan anak sudah bisa konserv kuantitas dalam eksperimen gelas air (1965). Bola tanah liat. Dimulai dengan dua tanah liat yang sama. Gilas salah satu sehingga terlihat seperti kue pipih. Tanyakan “Apakah dua bola ini mempunyai berat yang sama, atau apakah yang satu lebih berat dari yang lainnya?”

Beberapa dari tugas ini menjelaskan sebuah kepercayaan dalam beberapa contoh konservasi. Bola tanah liiat, seperti air dalam gelas, menjelaskan konservasi massa; Kawat bengkok dan pensil, konservasi jarak dan panjang; dan koin, konservasi jumlah. Anak-anak usia pertengahan cenderung mengkonserv dalam berbagai segi.

Secara khusus, seorang anak tidak membutuhkan semua konservasi ini pada waktu yang sama, suatu fenomena yang disebut Piaget sebagai decalage.

Ketrampilan Operasional Konkret Lainnya

Piaget menggambarkan beberapa bentuk lain dari pengetahuan yang muncul selama usia pertengahan (Piaget, 1983). Diantara beberapa benda-benda, anak usia sekolah dapat menyusun atau mengatur obyek dalam baris, lebih baik; mereka memahami waktu lebih lengkap dan akurat; dan mereka dapat memahami sebagian hubungan dengan lebih baik. Marilah kita melihat pada masing-masing bagiannya.

Seriasi. Istilah seriasi mengaju pada kemampuan untuk mengambil item-item ke dalam suatu rangkaian atau baris. Memberikan satu lusin tongkat dengan panjang yang yang berbeda, seorang anak berusia 8 tahun biasanya menyusunnya dengan mudah sesuai panjangnya. Anak usia 4 tahun sering mempunyai kesulitan dalam tugas ini; mereka mungkin menyusun beberapa secara benar tetapi yang lainnya. Atau mereka mungkin memasukkan pengukuran mereka, membuat satu dari ujung akhir tongkat tampak urut tetapi membuat ujung lainnya terlihat acak.

Perasaan akan Waktu. Anak usia sekolah mengerti waktu ‘alami’ lebih baik daripada yang lebih muda. Anak usia delapan tahun umumnya mengetahui bahwa waktu mengarah pada suatu aliran peristiwa yang tunggal dan konstan yang ditandai oleh kalender, jam, dan penanggalan lainnya. Pemahaman ini membantu mereka menyadari bahwa orang tua mereka lebih tua daripada anak-anak, bahwa ‘besok’ biasanya lebih cepat daripada ‘minggu depan’ dan bahwa setengah jam acara televisi lebih pendek daripada yang dua jam.

Relasi Spasial. Meskipun anak usia prasekolah biasanya dapat menemukan cara mereka mengelilingi rumah mereka, hanya anak dengan operasional konkret dapat membimbing dengan reliable dalam ruang yang kompleks dan tidak familiar, seperti pada sebuah mall pembelanjaan sekitar rumah.

Pengaruh Teori Piaget dalam Pendidikan

Teori kognitif Piaget mempunyai pengaruh penting dalam pendidikan dan sekolah. Pendidik telah melibatkan program yang banyak yang merefleksikan prinsip dan temuan aliran Piaget atau paling sedikit mencoba untuk konsisten.

Bentuk dan Urutan mengajar. Pendidik telah meminjam ide teori Piaget bahwa pengetahuan yang benar berasal dari manipulasi material secara aktif. Anak belajar tentang berat, secara cepat, dengan obyek yang beragam beratnya secara aktual pada sebuah skala daripada dengan membaca tentang berat dalam buku atau mendengarkan guru mereka berbicara tentang beberapa aktivitas. Suatu komitmen untuk belajar aktif mengarahkan guru dan perancang kurikulum untuk meletakkan aktivitas yang dapat diraba ke dalam program pendidikan sebisa mungkin, seperti terhadap aktiivtas yang urut dari yang dapat diraba ke abstrak.

Isi kurikulum. Teori aliran Piaget telah mempengaruhi konten kurikulum tertentu dengan memberikan beberapa area spesifik tentang kompetensi kognitif apa yang diharapkan dari anak-anak pada usia tertentu atau tahap perkembangan tertentu.

KETRAMPILAN MEMPROSES INFORMASI

Selama usia pertengahan, anak-anak memperlihatkan perubahan yang penting dalam bagaimana mereka mengorganisasikan dan mengingat informasi. Ingatan jangka pendek mereka selalu telah berkembang dengan baik meskipun pada usia 5 tahun.

Kapasitas Memori
Menurut konsep populer, anak-anak mengingat dengan lebih baik seperti saat mereka dapat lebih tua. Meski dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak secara nyata tidak tampil seperti orang dewasa pada beberapa tugas.

Short-term memory (STM). Beberapa dari perbedaan memori ini mungkin tergantung pada bagian model proses informasi anak-anak terjadi setelah digunakan. Beberapa tugas bertumpu pada secara utama pada short term memory (ingatan jangka pendek), dimana suatu penandaan untuk tetap memikirkan informasi itu hanya untuk jangka pendek – mungkin sampai 20 detik. Pada tugas yang menenkankan STM anak usia sekolah – dan juga anak usia pra sekolah – memperlihatkan seperti orang dewasa.

Long-term memory (LTM). LTM adalah pemikiran masa depan yang membawa informasi untuk waktu lama – mungkin tidak terdefinisikan. Kapasitas LTM berkembang lebih lambat daripada STM, mungkin karena hal ini memancar lebih sering pada metode menyimpan dan perolehan kembali yang komplek. Hal ini merupakan proses mengundang ingatan yang lebih sulit, dimana kita membawa informasi kembali pada kesadaran yang menggunakan berapa isyarat eksternal.

Pengaruh-pengaruh pada Perkembangan Memori

Seperti contoh yang ditunjukkan oleh cerita yang dipanggil kembali, LTM berkembang sebagian karena lainnya, perubahan kognitif yang berhubungan berubah selama masa anak. Satu dari peningkatan dalam alasan yang logis ini, seperti yang digambarkan Piaget. Lainnya adalah suatu peningkatan dalam pengetahuan atau “kenyataan” yang khusus. Masih yang lainnya adalah sebuah peningkatan dalam stategi belajar yang digunakan dalam pemecahan masalah – termasuk masalah yang tergantung pada STM.

Mekanisme untuk Memperoleh Strategi Belajar. Anak-anak sedikitnya dari 3 cara : trial and error (mencoba dan gagal), konstruksi logika, dan belajar observasional (Shatz, 1983; Brown dkk, 1983). Masing-masing dapat dilihat dalam aktivitas anak-anak yang terjadi secara alami, dan dapat dibantu oleh orang tua dan guru.

1.Trial and error, beberapa anak mempunyai strategi yang efektif kurang lebih dengan kecelakaan, atau mencoba dan gagal. Sering proses ini terjadi di tengah-tengah dari yang sudah ada sebelumnya, lebih banyak strategi belajar logis. Beberapa anak usia sekolah menulis beberapa essay dan mengikuti semua saran guru mereka sebelum mereka menemukan, secara kebetulan, metode yang bekerja bagi mereka.
2.Konstuksi logis. Banyak yang disebut strategi belajar acak dapat secara nyata merefleksikan konstruksi logis pengetahuan daripada. Pengetahuan yang dibangun secara logis mengacu pada suatu bentuk usaha aktif anak untuk memahami dunia – pembelajaran singkat yang ditekankan oleh teori perkembangan Piaget. Seperti berpikir dapat membantu secara khusus anak untuk memperluas strategi belajar kepada situasi yang baru.
3.Belajar observasional. Contoh ini juga dapat termasuk belajar observasional, seperti yang digambarkan pada Bab 2. Dalam banyak situasi, anak melihat pembicaraan dan akting lain dan juga menyaksikan konsekuensi aktivitas ini. Beberapa observasi memberikan model untuk strategi belajar anak pada lain waktu dan tempat, meskipun jauh dari demonstrasi aslinya.


Pemikiran Konvergen dan Divergen

Satu cara dimana anak sekolah berbeda adalah dalam mereka menggunakan pemikiran konvergen dan divergen.
Pemikiran konvergen mengacu pada terfokus, pengambilan alasan deduktif yang mengacu pada suatu solusi tertentu suatu masalah. Memecahkan masalah aritmatika membutuhkan pemikiran konvergen; begitu juga bekerja dengan puzzle. Banyak pembelajaran sekolah memerlukan pemikiran konvergen karena hanya ada 1 jawaban benar, dimana siswa harus menentukannya. Angka kejadian pemikiran konvergen dalam sekolah kenyataannya mungkin sebagian menjelaskan mengapa hampir semua anak dapat menggunakan bentuk berpikir ini sedikitnya beberapa waktu. Setelah beberapa tahun, mereka secara sederhana menerima banyak latihan.

Pemikiran divergen mengacu pada produksi variasi tipe yang luas, secara lengah mungkin mereka tidak biasa atau tidak berhubungan. Hal ini dekat dengan menyerupai tanda “kreativitas” tetapi kurang penekanannya dalam kualitas; pemikiran divergen secara sederhana menyebar, dan dalam mengerjakannya dapat selesai dengan baik atau dapat dinilai unik. Pemikir divergen cenderung untuk menghasilkan ide-ide dengan lancar dan elaborasi, dan mereka cenderung untuk membentuk hubungan antar ide relatif fleksibel. Kebanyakan dari kita menggunakan bentuk berpikir ini dari waktu ke waktu.

KESULITAN BELAJAR

Selama usia pertengahan, sekitar lima persen anak mengembangkan kesulitan belajar, dimana gangguan dalam proses kognitif dasar yang berhubungan dengan pemahaman atau penggunaan bahasa, juga menulis atau berbicara (Lerner, 1988). Biasanya suatu kesulitan belajar menyebabkan pencapaian akademik yang buruk, dan ketidakmamopuan belajar bukan merupakan hasil dari kelambatan berpikir umum, seperti retardasi mental.
Kesulitan belajar mempunyai banyak bentuk yang sulit diklasifikasikan, untuk mudahnya pendidik sering membedakan antara kesulitan belajar perkembangan dan kesulitan belajar akademik. Kesulitan belajar perkembangan adalah kekurangan dalam proses psikologis, seperti ingatan yang buruk atau ADHD. Kesulitan belajar akademik merupakan kesulitan dalam mempelajari subyek atau tugas akademik tertentu, seperti membaca, mengeja, menulis tangan, atau aritmatika. Mereka sering lebih tampak pada dua jenis akibat kesulitan, dengan definisi, mereka termasuk kurang dalam penampilan di sekolah.
Satu bentuk umum dari kesulitan akademik disebut disleksia – suatu kesulitan membaca. Perbedaan gejala antar anak dengan disleksia diwakili dari perbedaan kesulitan belajar secara umum.


Sebab-sebab Kesulitan Belajar

Apa yang menyebabkan anak mempunyai kesulitan belajar?
1. Gejala mereka menyerupai apa yang terjadi terhadap individu yang menderita trauma pada bagian otak tertentu mereka (Rutter & Garmezy, 1983). Untuk alasan ini, beberapa profesional telah menyarankan bahwa kesulitan belajar termasuk disleksia dapat merefleksikan kerusakan otak minimal yang tidak terdeteksi yang terjadi selama proses kelahiran atau juga sebelum kelahiran.
2. Kesulitan belajar berfokus pada fungsi otak daripada anatomi otak. Dalam pandangan ini, kesulitan mungkin hasil dari perbedaan yang tidak diketahui dalam bagaimana otak mengorganisasikan secara normal dan memproses informasi (Ceci, 1987).

Pertama mereka harus mengamati huruf-huruf dan kata-kata sebagai bentuk visual. Kemudian mereka harus mengkombinasikan bentuk ini kepada rangkaian yang menyusun frase dan kalimat. Akhirnya mereka harus menghubungkan rangkaian ini dengan arti dari bentuk ide-ide, ketika semua langkah ini dilewati, mereka juga harus melihat ke depan untuk mengakui bentuk visual selanjutnya pada halaman. Jika beberapa langkah ini gagal atau terjadi dalam baris yang salah atau pada kecepatan yang salah, dapat muncul disleksia pada seorang anak (Siegler, 1983).

PERKEMBANGAN BAHASA PADA USIA PERTENGAHAN

Bahasa terus berkembang selama usia pertengahan masa anak-anak. Perbenda-bendaharaan kata terus tumbuh, tentu saja, tetapi lebih penting, arti kata menjadi lebih yang tidak diketahui dan kompleks dan lebih seperti orang dewasa.

MENDEFINISIKAN DAN MENGUKUR INTELIGENSI

Intelgensi mengacu pada kemampuan adaptasi atau memecahkan masalah secara berbeda, terhadap sebuah kemampuan umum untuk belajar dari pengalaman. Biasanya intelegensi juga mengacu pada kemampuan untuk beralasan secara abstrak kadang menggunakan bahasa juga; dan hal ini meliputi kemampuan untuk mengintegrasikan pengetahuan lama dan baru.

Konsep-Konsep Inteligensi

Satu kemampuan atau beberapa? Beberapa psikolog (dan tes-tes mereka) menekankan ketrampilan khusus secara relatif; lainnya menekankan satu daripada kemampuan umum, kadang disebut g (Sternberg, 1988). Kebanyakan tes (dan psikolognya) mengakui adanya faktor umum dan spesifik (s factor), meskipun mereka berbeda dalam penekanan.

Kesalahan Interpretasi Tes Inteligensi Bersama

Banyak kritik yang diberikan dari interpretasi yang salah dari hasil tes intelegensi. Dalam satu sisi atau lainnya, semua kesalahan berikut telah digantikan dengan yang lebih mudah untuk mengerjakannya.
1.Menyamakan skor tes dengan intelegensi sebenarnya. Seperti yang telah kita diskusikan di awal, tes intelegensi utamanyahanya mengukur bakat akademiki
2.Perbedaan intelektual dan intelegensi yang membingungkan. Kebanyakann skor tes intelegensi merefleksikan seberapa banyak anak berbeda dari lainnya, membandingkan anak-anak. Mereka biasanya tidak melaporkan seberapa banyak anak sebenarnya mengetahui beberapa poin yang diberikan pada suatu saat. Pengetahuan aktual dapat perihal lebih banyak daripada perbedaan pengetahuan dalam banyak situasi, seperti ketika anak mencoba untuk menstabilkan sepedanya atau mencoba untuk menemukan jalan ke rumah sepanjang jalan yang tidak falmiliar.
3.Mengasumsi terlalu banyak precision. Karena tes intelegensi memberikan skor numerik, orang dewasa diusahakan untuk berpikir bahwa mereka lebih dihargai daripada mereka sebenarnya. Dalam kenyataannya, bagaimanapun, perbedaan kecil dalam skor antar anak sering merefleksikan variasi acak daripada perbedaan intelegensi sebenarnya. Tes manual biasanya menunjukkan fakta ini, tetapi sayangnya, informasi kadang tidak dapat sampai ke orang tua, dan juga guru atau psikolog sekolah mungkin melupakannya.

Implikasi untuk Guru dan Orang Tua. Bila digunakan, tes intelegensi dan kemampuan umum dapat membantu orang tua dan guru untuk memahami anak. Tetapi tes tidak dpat menggantikan beberapa cara untuk mencapai banyak pemahaman, seperti melalui perluasan, oebservasi informal di kelas atau rumah atau hanya menjelaskan percakapan. Umumnya, tes intelegensi secara sederhana menambahkan semua informasi yang telah diketahui dan diharapkan; mereka tidak menggantikan informasi tersebut. Tes intelegensi memberikan sedikit informasi yang sangat berguna dalam merencanakan pendidikan pribadi di masa mendatang.

PERKEMBANGAN MORAL

Selama usia sekolah, perkembangan kognitif juga mempengaruhi kehidupan emosional dan sosial anak. Satu dari cara yang paling penting dalam hal ini adalah dengan mempengaruhi perkembangan moralitas.

Moralitas mengarah pada suatu perasaan etik, atau benar dan salah. Pertanyaan moralitas datang ketika seorang anak dapat membantu atau melukai anak lain. Karena anak dekat dalam kontak dengan kelompok mereka, pertanyaan membantu dan melukai lebih sering muncul : dalam memutuskan apakah berbagi makan siang dengan teman sekelas, contohnya, atau apakah mengambil buku kesukaan sibling tanpa permisi.
Tahapan Pemikiran Moral Piaget

Anak yang lebih muda, usia sekitar 6-9 tahun, cenderung untuk menggunakan apa yang Piaget sebut dengan moralitas heteronomi, atau suatu “moralitas paksaan”. Dalam cara pikir ini, anak mematuhi peraturan suatu permainan yang asli dan tidak dapat diubah, kemudian mereka sangat lemah mengenai peraturan sebenarnya berikut. Pelanggaran diputuskan sesuai dengan jumlah kerusakan objektif yang dibuat oleh anak, tanpa mempedulikan apakah kerusakan terjadi secara disengaja atau tidak. Memukul semua marmer anak lain keluar dari lingkaran permainan lebih buruk daripada memukul hanya satu marmer yang keluar, contohnya, apakah bertujuan seperti itu atau tidak. Anak pada usia ini akan sering berkomitmen dengan penghargaan seperti sebuah “dosa” ketika mereka dapat keluar dengannya dalam keputusan ini daripada secara kasar.

Pada usia SD selanjutnya (sekitar 9-12 tahun), bagaimanapu, anak bergantian menuju apa yang disebut Piaget sebagai moralitas otonomi, atau suatu “moralitas kerja sama”. Dalam filsafat yang lebih matang ini, anak mulai untuk meletakkan keinginan dan perhatian kelompok ke dalam hitungan dalam menilai tindakan mereka. Sekarang, merusak lingkaran marmer yang dimasuki mungkin diputuskan kurang secara kasar jikan terjadi secara tidak disengaja, dan memindahkan hanya 1 marmer secara tidak sah mungkin dinilai lebih kasar jika anak sengaja melakukannya. Pada waktu yang sama, anak-anak yang diamati Piaget merasa bahwa mereka dapat mengubah aturan jika mereka inginkan melalui diskusi dan keputusan kelompok; peraturan tidak dipastikan atau asli lebih lama. Mungkin sebagai hasilnya, anak-anak pada tahap selanjutnya mengubah peraturan lebih hati-hati karena mereka merasa bertanggung jawab dalam menciptakannya. Peraturan yang sangat dasyat mungkin telah mencegah anak yang lebih mudah dari mengambil tanggung jawab untuk mengikutinya.

Piaget berpendapat bahhwa anak-anak pada usia pertengahan berpindah dari moralitas heteronomi menjadi moralitas otonomi. Menurut Piaget tentang pembagian 2 jenis moralitas: moralitas heteronomi muncul lebih sering pada anak yang lebih muda, dan moralitas otonomi lebih sering muncul pada anak yang lebih tua.

Enam Tahapan Keputusan Moral Kohlberg

Lawrence Kohlberg memperluas ide Piaget dengan mengajukan 6 tahap keputusan moral
Pada usia pertengahan, kebanyakan anak umumnya memperlihatkan pemberian alasan etika pada tahap 2, tetapi minoritas dapat mulai menampakkannya pada Tahap 3 atau 4 pemberian alasan menuju akhir dari periode ini (Colby dkk, 1983). Dalam tahap 3 (orientasi interpersonal), sebuah perhatian utama anak adalah dengan opini kelompoknya : suatu tindakan benar jika teman-teman sekitarnya berkata benar. Sering cara pikir ini mengarah pada tindakan membantu, seperti bergiliran atau berbagi mainan atau materi. Tetapi sering juga tidak, ketika sekelompok teman memutuskan mengeluarkan udara dari ban mobil seseorang. Pada tahap 4 (orientasi simelawan sosial), anak berganti dari perhatian dengan kelompoknya untuk menaruh perhatian dengan opini komunitas yang lebih luar mereka atau masyarakat keseluruhan : sekarang sesuatu benar jika kelompok yang lebih luas ini membuktikan.

Evaluasi Teori Kognitif pada Perkembangan Moral

Meskipun penelitian telah cenderung untuk menemukan teori teori Piaget yang 2 tahap terlalu simpe, teori 6 tahap Kohlberg telah terbukti ketika diujikan pada varietas anak yang lebih luas, remaja dan orang dewasa (Colby dkk, 1983). Namun tahapan Kohlberg hanya menggambarkan bentuk pemikiran bukan isinya.
Continue Reading...

Perkembangan Sosial Dewasa Awal


KETERTARIKAN DENGAN ORANG LAIN

Mengapa orang tertarik untuk menjalin hubungan dengan orang lain?

  • dorongan untuk dekat dengan orang punya banyak kesamaan dengannya. Misal kesamaan sikap, perilaku, kesukaan, kecerdasan, kepribadian, nilai-nilai gaya hidup.

  • Namun terkadang terdorong oleh karena perbedaan

  • Implikasi dari kesamaan adalah mereka dapat menikmati interaksi dengan orang lain dalam kegiatan yang saling menguntungkan, yang sebagian besar memerlukan

PERSAHABATAN

Suatu bentuk hubungan dekat yang melibatkan kenikmatan, penerimaan (menerima teman tanpa mencoba mengubah, kepercayaan (menganggap teman bertindak tulus pada kita), respek, saling tolong menolong (saling mendukung), dan spontan (bebas untuk jadi diri sendiri di depan teman)

Apa beda persahabatan dan cinta?

Persahabatan= menerima keberadaan orang lain, mencakup penilaian positif

Cinta = melibatkan kedekatan seseorang, ada keterdekatan, tidak berorientasi pada diri sendiri, kualitas dari penerimaan, kekaguman dan eksklusivitas. Lebih mendatangkan depresi daripada persahabatan.

Persamaannya

Sama-sama memiliki sifat menerima, percaya hormat, sponta, saling menolong, terus terang.

Hubungan dengan teman lebih stabil, terutama pada individu yang tidak menikah

Romantic love

Disebut cinta yang bergairah, cinta tersebut memiliki elemen seksual dan kekanak-kanakan, dan sering mendominasi bagian awal suatu hubungan cinta.

Mencakup jalinan yang rumit dari emosi-emosi: takut, gairah seksual, senang, cemburu.

Meurut Berscheid, Romantic love = 90% adalah gaerah seksual. menurutnya bicara tentang cinta yang romantis tanpa menyebut peran dorongan seksual didalamnya ama saja membuat resep hebat dan meninggalkan bahan pokoknya.

Affection love

Adalah tipe cinta yang terjadi ketika hasrat individu untuk dekat dengan orang lain dan melibatkan perasaan yang mendalam dan saying terhadap orang tersebut.

Ada yang bercaya tahap awal dari cinta adalah berisi elemen romantis, tetapi saat cinta terus bertahan, gairah atau rasa romantis berubah jadi afeksi.

Shaver mengatakan bahwa tahap awal cinta romantis dipenuhi oleh campuran dari daya tarik seksual dan pemuasan, berkurangnya rasa kesepian, berkembangnya attachment. Berjalannya waktu daya tarik seksual berkurang, hal ini bisa berubah jadi keakraban yang mendalam, tetapi bisa juga muncul rasa tertekan, kecewa, marah, withdrawal. Ini yang memunculkan orang mencari hubungan dekat dengan yang lain.

Setiap pasangan telah menginternalisasi hubungan dengan orangtua (hangat/akrab atau dingin/longgar), jadi pengalaman hubungan dg ortu dibawa sampai dewasa.

Orang dewasa yang securely attached dg ortunya cenderung mencari hubungan emosional yang lekat secara secure dg pasangannya, demikian sebaliknya.

Sternberg mengatakan bahwa affection love sebenarnya ada 2 tipe cinta:

  1. keintiman

  2. komitmen

Teorinya disebut the triangular theory of love, dikatakan bahwa cinta memiliki 3 bentuk utama, gairah, keintiman, dan komitmen.


The triangular theory of love (Sterberg)



Keintiman komitmen






Gairah




Gairah

komitmen

Keintiman

Keterangan

Kekanak-kenakanan

V

O

O

Bisa terjd perselingkuhan

Cinta penuh perasaan

O

V

V

Pd pasangan yg berbahagia bertahun-tahun

Cinta konyol

V

O

V

Memuji dari jauh

Cinta yang sempurna

V

V

V

Cinta paling kuat


Gairah= daya tarik fisik dan seksual pada pasangan

Keintiman = perasaan emosional tentang kehangatan, kedekatan, dan perasaan berbagi dg pasangan

Komitmen = penilaian kognitif atas hubungan dan niat untuk mempertahankan hubungan, bahkan bila ada masalah.


Loneliness

Suatu perasaan :

  • tidak ada orang yang memahami kita dengan baik

  • merasa terisolasi


Individu yang kesepian seringkali memiliki harga diri yang rendah, cenderung menyalahkan diri sendiri atas kekurangannya. Tidak memiliki ketrampilan social (social skills), atau tidak mampu mengembangkan intimacy.

Untuk menghilangkan kesepian:

  1. mengubah hubungan social yang sekarang,

  2. mengubah/meningkatkan kebutuhan dan keinginan melakukan kontak social


PERKEMBANGAN GENDER

    1. perkembangan gender pada perempuan dewasa

  • banyak (kaum feminis) yang berpendapat bahwa dalam politik, ekonomi, pendidikan perempuan sering dianggap beban daripada asset, ini terutama di Negara berkembang.

  • Banyak perempuan yang mengalami kekerasan fisik dan psikologis oleh laki-laki

  • Perempuan memiliki harga diri rendah, lebih banyal depresi daripada laki-laki

  • Dari hasil penelitian menunjukkan perempuan dalam hidup mereka sebagian besar terlibat aktif dalam perkembangan orang lain, mereka berinteraksi menbantu perkembangan emosi, intelektual dan social orang lain

Perlu untuk lebih mandiri, asertif. Jadi diri sendiri.


    1. perkembangan gender pada laki-laki dewasa

  • laki-laki ternyata lebih emosional, gerakan spiritual yg menekankan kembali nilai penting maskulinitas

  • pada laki-laki ada sebuah pelindung maskulinitas yang bersifat bertahan dan kuat dalam pola yang menghancurkan.

  • Goldberg mengatakan bahwa sebagian besar laki-laki adalah pekerja yang efektif tetapi sebagian besar hidupnya menyedihkan. Laki-laki meninggal lebih cepat dari perempuan, lebih sering masuk rumah sakit. Goldberg percaya, berjuta laki-laki membunuh dirinya sendiri dengan berjuang menjadi laki-laki sejati (etos laki-laki itu maskulin dan berkuasa).

Menurut Goldberg sebaiknya laki-laki:

  • mengenali dan menghindari sindrom “sukses” yang membunuh.

  • Menyadari kebutuhan dan hasratnya

  • Mengembangkan rasa emosional yang jujur

  • Membangun persahabatan yang positif

  • Menghindari permainan peran maskulin



PERAN GENDER PADA USIA DEWASA LANJUT

Terjadi penuruan femininitas pada wanita pada masa dewasa lanjut, juga terjadi maskulinitas pada laki-laki dewasa lanjut.

Terlihat laki-laki usia lanjyt menjadi lebih feminine, berjiwa pengasuh (nurturant). Sensitive. Dsb

Perkembangan Emosi-Sosio dewasa lanjut]

  • Kebahagiaan pernikahan orang dewasa lanjut dipengaruhi pasangannya (menyangkut konflik personal, penuaan, sakit da kematiannya)

  • Orang dws lanjut yg menikah cenderung lebih bahagia drpd yg sendiri.

  • Menjadi nenek atau kakek merupakan sumber pemenuhan emosional, menimbulkan perasaan persahabatan

  • Persahabatan dengan teman sebaya muncul lagi.

Continue Reading...

Selasa, 28 April 2009

TIPS BERTEMAN


Perkembangan teknologi yang begitu pesat saat ini sedang dan bahkan mungkin telah menenggelamkan nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat. Coba simak disekitar kita !!!, sekarang ini sangat sulit menemukan orang dengan kepedulian yang sangat tinggi dan tulus terhadap orang lain yang mungkin sedang membutuhkan pertolongannya atau terhadap lingkungan sosialnya. Kenapa kondisi demikian dapat terjadi?, tidak lain karena pada zaman sekarang ini semua kebutuhan manusia hampir dikendalikan oleh teknologi, dengan kata lain mereka merasa tidak membutuhkan bantuan orang lain karena semua kebutuhan telah dipenuhi oleh teknologi. Coba tengok para pelajar kita sekarang, mereka lebih suka menghabiskan waktunya untuk berlama-lama di tempat rental internet, mulai dari bermain game online, Friendster (FS), Face book, download lagu, dll daripada harus bergabung dalam organisasi intra sekolah (OSIS) atau bergabung dalam kelompok belajar, atau bergabung dalam kelompok-kelompok sosial lainnya, semisal karang taruna, ikatan pelajar NU atau ikatan pelajar Muhammadiyah, dll. Tidak lain karena mereka merasa teknologi telah dapat memenuhi kebutuhan sosialnya.

Karena larut "dalam pelukan teknologi", sebagian dari kita telah lupa bahwa EL. Thorndike pada tahun 1920 yang lalu telah menegaskan, bahwa manusia memiliki social intelligence atau kecerdasan sosial atau suatu kemampuan untuk menghadapi orang lain disekitar diri sendiri dengan cara yang efektif. Thorndike percaya bahwa kecerdasan sosial tersebut merupakan syarat penting dari keberhasilan seseorang diberbagai aspek kehidupan. Sayangnya pelukan teknologi telah membekukan dan telah mengkerdilkan kemampuan kita dalam berinteraksi sosial, akibatnya kita menjadi manusia yang sepertinya serba tercukupi, tetapi pada dasarnya kita telah teralienasi (meminjam istilah Eric From). Bagaimana tidak teralienasi......selama ini kita berkomunikasi dengan teknologi yang selalu meminta untuk kita fahami. Sementara teknologi tidak pernah mau memahami keadaan kita. Karena kecantikan teknologi tanpa kita sadari selama ini kita telah dicuekin oleh teknologi....cinta bertepuk sebelah tangan tepatnya he he he.

Dampak psikologis yang paling berbahaya adalah....KARENA TERBIASA KOMUNIKASI SATU ARAH DENGAN TEKNOLOGI AKIBATNYA KITA MENJADI MINDER, CEMAS, TAKUT BERHADAPAN DENGAN ORANG LAIN, TIDAK MAU MEMAHAMI ORANG LAIN DAN SETERUSNYA DAN SETERUSNYA. Untuk mengembangkan kembali kecerdasan sosial yang kita miliki, tidak ada salahnya jika pembaca menyimak beberapa tips berteman yang saya ambil dari buku dengan label international bestseller "Making Friends" karangan Andrew Mathews berikut ini:

1. Jangan takut berhadapan dengan orang lain, karena setiap orang selalu memiliki pikiran bahwa "saya tidak cukup baik". Kita sering mengira bahwa orang lain lebih pandai, lebih tegar dari kita sehingga kita merasa minder dan takut. Kenyataannya, sebenarnya mereka juga berfikir yang sama tentang kita. Mereka juga berfikir kalau kita lebih pandai.

2. Tanyakan pada teman yang dapat dipercaya "siapa sebenarnya anda". Karena kita sering tidak sadar akan kebiasaan-kebiasaan buruk kita.

3. Belajarlah untuk mencintai diri sendiri. Bila kita terlampau kritis atau tidak puas dengan diri sendiri, kita akan cenderung membenci orang lain yang dapat berbuat lebih baik.

4. Buatlah diri anda bahagia dan jangan berfikir " kalau saya dapat bertemu dengan orang yang dapat menyayangi dan membahagiakan saya". Ingat kalau anda terpuruk tidak akan ada orang lain yang akan mendekatimu.

5. Jangan membuat jarak dengan orang lain "Kita semua selalu bersama-sama, tetapi kita semua merasa kesepian" Dr. Albert Schweitzer.

6. Jangan berpura-pura bahwa anda dapat mengerjakan semuanya sendiri. Kita semua pasti membutuhkan orang lain.


7. Teman yang membosankan, teman yang menyebalkan, teman yang menyenangkan....kita pasti akan menemui tipe tipe teman yang seperti itu. Jangan takut !!!. Hidup memang terkadang menyenangkan terkadang sedikit membosankan, tapi semua bisa diatasi

8. Jangan menyalahkan orang lain, menyalahkan bukanlah solusi. Setiap kali anda menyalahkan orang lain, berarti anda tidak belajar dan keadaan tidak akan berubah. Ingat yang terpenting dalam hidup adalah belajar, belajar menghadapi lingkungan.

9. Anda yang memutuskan perasaan anda. Jangan biarkan orang lain menguasai perasaan anda.

10. Katakan pada orang lain apa yang anda inginkan.

11. Cobalah untuk bersikap tegas dan mengatakan apa adanya. Kejujuran terhadap orang lain merupakan pertanda penghargaan dan pertanda kita menghormati diri sendiri.

12. Hormati diri sendiri, orang lain akan menghormati kita sejauh kita menghormati diri sendiri.
Continue Reading...

PENINGKATAN STATUS MENTAL ATLET DIY DENGAN MENTAL TRAINING


PENINGKATAN STATUS MENTAL ATLET DIY DENGAN MENTAL TRAINING
Singgih Santoso
Universitas Gajah Mada
MATERI TEMU ILMIAH IPPI V

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Olahraga merupakan aktivitas yang bersifat multidimensional sehingga banyak faktor ikut berperan dalam mewujudkan keberhasilannya. Di samping faktor fisik, faktor mental pun memiliki peran yang sangat menentukan terutama ketika atlet melakukannya untuk
mencapai puncak prestasi dalam situasi yang sangat kompetitif. Di lapangan sering kita lihat seorang atlet atau tim yang sudah mempunyai kemampuan fisik yang baik, teknik yang sempurna, dan sudah dibekali berbagai taktik, tetapi tidak dapat mewujudkannya dengan baik di arena pertandingan/perlombaan, dan akhirnya mengalami kekalahan. Banyak ahli olahraga berpendapat bahwa tingkat pencapaian prestasi puncak sangat ditentukan oleh kematangan dan ketangguhan mental atlet dalam mengatasi berbagai kesulitan selama bertanding. Salah satu aspek kematangan mental ditentukan oleh tingkat kematangan emosi. Banyak atlet yang tidak sukses mewujudkan kemampuan
optimalnya hanya karena rasa cemas dan takut gagal yang berlebihan. Ketakutan atau kecemasan yang melampaui batas ambang control seseorang mengakibatkan kehilangan konsentrasi dan justru menurunkan kemampuannya. Ada lima kondisi yang menghambat pencapaian prestasi optimal yaitu: (1) takut untuk gagal; (2) takut akan penilaian negative; (3) khawatir terjadi cidera; (4) situasi yang tidak pasti, dan (5) takut untuk mencoba hal yang baru (Cox, 2002). Adapun tingkat kematangan emosi terdiri atas empat tahap yang saling berkaitan yaitu: (1) emotional awareness, (2) emotional acceptance, (3) emotional affection, dan (4) emotional affirmation (Martin, 2003). Pada prinsipnya tahap yang terdahulu menjadi dasar kuat untuk menuju tahap berikutnya. Tingkat kematangan emosi ini dapat diukur melalui serangkaian tes yang disebut Emotional Maturity Assessment (Martin, 2003). DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT
.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF
.
Continue Reading...

PERBEDAAN TINGKAT KEBERMAKNAAN HIDUP ANTARA KELOMPOK PENGGUNA NAPZA DENGAN KELOMPOK NON-PENGGUNA NAPZA.


PERBEDAAN TINGKAT KEBERMAKNAAN HIDUP ANTARA KELOMPOK PENGGUNA NAPZA DENGAN KELOMPOK NON-PENGGUNA NAPZA.
Triantoro Safaria
Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Di Indonesia pada tahun 1980-an hanya terdapat 80.000 sampai 130.000 kasus penyalahgunaan napza, namun pada saat ini telah meningkat menjadi sekitar 5 juta kasus penyalahgunaan napza. Pemerintah melihat semakin berbahayanya persoalan napza ini, kemudian membentuk badan nasional untuk menanggulangi masalah napza ini. Hal ini dikemudian hari mendorong lembaga-lembaga swadaya masyarakat untuk ikut terlibat dalam menanggulangi masalah napza ini seperti Granat, kelompok No-Drugs, dan lain-lain. Kelompok yang menjadi sasaran napza ini adalah generasi muda
yang merupakan calon-calon pemimpin bangsa. Apa jadinya jika generasi muda tidak sibuk untuk meraih prestasi tertinggi, tetapi malah asik penyalahgunaan napza. Di antara generasi muda ini adalah mahasiswa yang sebenarnya merupakan calon intelektual yang akan memajukan pembangunan bangsa. Resiko terhadap HIV/AIDS juga mengancam para pecandu narkoba. Penggunaan narkoba dengan cara suntikan berisiko untuk menularkan penyakit karena biasanya jarum suntik digunakan secara bersama. Selain itu, jarum yang tidak steril dapat mengakibatkan berbagai kuman penyakit masuk tubuh dan menimbulkan infeksi di katup jantung, paru-paru, atau organ tubuh lainnya. Data sementara menunjukkan, 25 persen pengguna narkoba tertular HIV, dan 75-90 persen tertular Hepatitis B dan C. Sebanyak lima persen mengalami gangguan kejiwaan atau skizofrenia dan harus menjadi pasien rumah sakit jiwa (Kompas Cyber Media, 2002). Krisis makna hidup diduga juga ikut mendorong para remaja menggunakan narkoba. Keadaan hidup yang kosong dan hampa menyebabkan munculnya perasaan sepi dan bosan. Hal ini mendorong mereka mencari jalan pintas untuk mengatasinya. Melalui penggunaan narkoba mereka berusaha untuk memperoleh hidup yang bebas dari kecemasan, kekosongan dan kehampaan. Keadaan di atas ditegaskan oleh Frankl (1977; dalam Koeswara, 1992; Bastaman, 1996). DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF
.
Continue Reading...

BUNUH DIRI (Studi Kasus Tentang Etiologi Dan Profil Kepribadian Remaja Dengan Percobaan Bunuh Diri)


BUNUH DIRI (Studi Kasus Tentang Etiologi Dan Profil Kepribadian Remaja Dengan Percobaan Bunuh Diri)
Ichlas Nanang Afandi
Diah Karmiyati
Cahyaning Suryaningrum
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

PENDAHULUAN

Bunuh diri dewasa ini menjadi suatu trend. Jumlah kasus bunuh diri bertambah tiap tahun. Jika dulu bunuh diri hanya marak terjadi di dunia barat, maka kasus serupa menjadi begitu mudah kita jumpai di Indonesia. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Polda Metro Jaya, selama tahun 2003 tercatat ada 62 kasus bunuh diri. Jumlah tersebut lebih besar tiga kali lipat dibanding kasus serupa selama tahun 2002. Sementara pada Tahun 2004 hingga bulan Juni terdapat 38 kasus (Alia, September 2005). Di dunia barat sendiri, data penelitian yang dikemukakan oleh Marcott (dalam Nasution, 2003) menyebutkan jika dari 20 kasus percobaan bunuh diri di Amerika, ada satu kasus bunuh diri yang sukses. Lebih lanjut, 2,9 % populasi penduduk Amerika Serikat pernah melakukan percobaan bunuh diri, dan setidaknya ada 1.760 kasus percobaan bunuh diri perhari. Pada tahun 2001, setidaknya ada sekitar 3.971 kasus bunuh diri dan lebih dari 132.000 kasus percobaan bunuh diri di Amerika Serikat. Penelitian tentang bunuh diri sendiri telah banyak dilakukan, baik mengenai epidemiologi, faktor risiko (etiologi), terapi maupun prevensi. Namun untuk Indonesia, hal ini masih sangat terbatas (Fajar, Minggu 6 November 2005).
Salah satu fase perkembangan yang berisiko tinggi terjadinya perilaku bunuh diri adalah fase remaja-dewasa awal. Hal ini dapat dimengerti mengingat fase remaja-dewasa awal, merupakan fase perkembangan yang stresornya sangat banyak. Penelitian-penelitian tentang bunuh diri atau percobaan bunuh diri, juga banyak difokuskan pada usia remaja. Stuart dan Sundeen (dalam Keliat, 1994) menyatakan bahwa usia remaja merupakan usia di mana bunuh diri menjadi penyebab kematian nomor dua. Data tahun 1994 di Australia, menyebutkan jika paling kurang ada sekitar 430 penduduk Australia berusia 15-24 tahun. DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT
.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF
.
Continue Reading...

INTERNALISASI NILAI-NILAI HIDUP BEBAS REMAJA PENYALAHGUNA NAPZA MELALUI RETRIEVAL MEMORI OTOBIOGRAFI


INTERNALISASI NILAI-NILAI HIDUP BEBAS REMAJA PENYALAHGUNA NAPZA MELALUI RETRIEVAL MEMORI OTOBIOGRAFI
Eny Purwandari
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
MATERI TEMU ILMIAH IPPI V


PENDAHULUAN
Manusia di dalam perkembangannya melewati tahapan usia yang tidak bisa dibandingakan antara tahapan satu dengan tahapan lainnya. Pada tiap tahapan usia tersebut mempunyai keunikan dan development task yang berbeda. Remaja sebagai salah satu sebutan sebuah tahapan usia mempunyai masalah tersendiri. Menurut Raphael, 1996 (dalam Afiatin, 2003) menyatakan ada tujuh problem utama kesehatan remaja yakni : merokok, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, keselamatan di jalan, kesehatan seksualitas, aktifitas fisik, gizi dan berat badan, bunuh diri, dan kesehatan mental. Pada tulisan ini lebih difokuskan pada remaja yang bermasalah sebagai penyalahguna alkohol dan obat-obatan (NAPZA). Fenomena remaja pemakai NAPZA, keberadaannya bukan menjadi rahasia umum lagi. Hasil penelitian Purwandari (2004) menyebutkan bahwa 87,5% remaja pertama kali memakai NAPZA pada usia SLTP. Data kualitatif lain yang penulis dapatkan sebagai field test menyatakan bahwa pemakai NAPZA yang sudah mengikrarkan ingin sembuh kebanyakan setelah memakai 4 – 7 tahun. Sebuah jangka waktu yang tidak sebentar dalam perjalanan hidup manusia. Apabila dihitung dengan matematis berdasarkan data tersebut maka : usia SLTP ± 14 tahun + 7 tahun = 21 tahun. Rentang waktu 21 tahun tersebut tentunya telah banyak hal-hal, peristiwa, angan-angan, ide, dan bentuk lain yang tersimpan
dalam memori.
Memori adalah sebuah sistem penyimpanan informasi pada diri manusia yang berkaitan dengan peristiwa masa lalu. Menurut Sterrnberg (1999) memori diartikan sebagai gambaran dari pengalaman yang telah dilalui dengan informasi yang dapat diketahui pada saat ini. Sebagai sebuah proses, memori merupakan mekanisme yang dinamis yang dipanggil kembali dari pengalaman yang sudah berlalu (Crowder, 1976 dalam Sternberg, 1999). Memori ini tentunya juga dimiliki oleh remaja penyalahguna NAPZA.
DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT
.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF
.
Continue Reading...

Selasa, 17 Februari 2009

KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

Selain memberikan materi cara belajar efektif saya juga memberikan materi Kesehatan Reproduksi Remaja pada siswa siswi SMP Ta'miriyah, hal ini dilandasi oleh alasan pentingnya informasi tentang kesehatan reproduksi bagi para remaja, sebagai upaya pencegahan.

Rasional

Kesehatan Reproduksi adalah termasuk salah satu dari sekian banyak problem remaja yang perlu mendapat perhatian bagi semua kalangan, baik orang tua, guru, dan maupun konselor sekolah. Mengingat belakangan ini perilaku & pergaulan remaja dengan lawan jenisnya (pacaran) telah mengarah pada perilaku seks dan mengabaikan substansi dalam menjalin hubungan, yang pada dasarnya adalah sebagai ruang belajar dalam bersosialisasi, komunikasi, mengungkapkan emosi, dan berkomitmen.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh SMA Negeri 2 Denpasar kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, World Population Foundation (WPF), lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang berkantor pusat di Belanda, dan Kita Sayang Remaja (Kisara) Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali pada April 2007 yang lalu, diperoleh informasi bahwa dari 766 responden terdapat 526 responden yang menyatakan mereka telah melakukan aktivitas seksual seperti pelukan, 458 responden sudah berciuman bibir, 202 responden sudah pernah mencium leher (necking), disusul 138 responden sudah menggesek-gesekkan alat kelamin tanpa berhubungan seks (petting), 103 responden sudah pernah hubungan seksual, dan 159 menyatakan aktivitas seksual lain selain yang disebutkan tadi.

Hasil penelitian Persatuan Keluarga Berencana Indonesia pada tahun 2002 diperoleh informasi bahwa minimnya pengetahuan remaja mengenahi kesehatan reproduksi remaja dapat menjerumuskan remaja pada perilaku seks pra nikah dan sebaliknya, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja dapat menunda prilaku seks pra nikah dikalangan remaja. Sementara itu hasil penelitian Soetjiningsih terhadap 398 siswa SMA di Yogyakarta menunjukkan bahwa dari 84% siswa yang tidak setuju dengan perilaku seks pra nikah, 95% dari mereka menyatakan pernah mendapat pendidikan yang berkaitan dengan seksualitas, dan mereka (94.80%) juga setuju dengan pemberian pendidikan seks bagi kalangan remaja dan figure yang dianggap cocok memberikan pendidikan seks adalah dokter, psikolog dan seksolog.Berangkat dari fakta diatas maka sangat dianggap penting untuk memberikan materi KESPRO kepada peserta didik.


Tujuan

Siswa dapat memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta memiliki wawasan mengenai fungsi, peran, serta sistem reproduksi remaja.

Target

Siswa memiliki kesadaran pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta memiliki keberanian dalam mengkomunikasikan masalah-masalah yang berkaitan dengan reproduksi kepada orang tua dan guru pembimbing di sekolah.


Cara Pelaksanaan Kegiatan
Materi diberikan dalam bentuk ceramah dan diskusi agar dapat terjalin komunikasi dan diperoleh informasi yang akurat mengenai masalah-masalah kesehatan reproduski remaja yang sedang dialami oleh siswa-siswi. Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan program ini adalah sebagai berikut:
1) Penyampaian materi dan diskusi.
2) Melakukan evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami materi yang telah diberikan.
3) Meminta siswa untuk melaporkan masalah KESPRO yang sedang dialami dalam bentuk tulisan.
4) Melakukan konseling kepada siswa yang mempunyai permasalahan KESPRO.


Materi
Materi yang akan disampaikan terdiri dari beberapa sub pokok bahasan, sebagai berikut: Pengertian kesehatan reproduksi remaja, tumbuh kembang remaja, pacaran sehat, penyakit menular seksual MATERI KESPRO DAPAT DIUNDUH DISINI..

Alat yang Diperlukan
Laptop, LCD Prjector, Alat tulis.


DAFTAR PUSTAKA

Qomariyah, 2002. Siti Nurul, Ringkasan Penelitian Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Dikalangan Siswa SMP, dalam http://www.bkkbn.com, diakses 22 Oktober 2008.

Soetjiningsih, 2008, Remaja Usia 15 - 18 Tahun Banyak Lakukan Perilaku Seksual Pranikah, dalam http://www.gadjahmada.edu.

http://www.resep.web.id. (Menyuguhkan informasi seputar tips-tips untuk menjaga kesehatan reproduksi).

http://www.bnn.com. (Menyuguhkan informasi & video seputar peredaran narkoba di Indonesia dan bahaya penyalah gunaan narkoba).



KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.

Continue Reading...

KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA



Selain memberikan materi cara belajar efektif saya juga memberikan materi Kesehatan Reproduksi Remaja pada siswa siswi SMP Ta'miriyah, hal ini dilandasi oleh alasan pentingnya informasi tentang kesehatan reproduksi bagi para remaja, sebagai upaya pencegahan.

Rasional

Kesehatan Reproduksi adalah termasuk salah satu dari sekian banyak problem remaja yang perlu mendapat perhatian bagi semua kalangan, baik orang tua, guru, dan maupun konselor sekolah. Mengingat belakangan ini perilaku & pergaulan remaja dengan lawan jenisnya (pacaran) telah mengarah pada perilaku seks dan mengabaikan substansi dalam menjalin hubungan, yang pada dasarnya adalah sebagai ruang belajar dalam bersosialisasi, komunikasi, mengungkapkan emosi, dan berkomitmen.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh SMA Negeri 2 Denpasar kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, World Population Foundation (WPF), lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang berkantor pusat di Belanda, dan Kita Sayang Remaja (Kisara) Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali pada April 2007 yang lalu, diperoleh informasi bahwa dari 766 responden terdapat 526 responden yang menyatakan mereka telah melakukan aktivitas seksual seperti pelukan, 458 responden sudah berciuman bibir, 202 responden sudah pernah mencium leher (necking), disusul 138 responden sudah menggesek-gesekkan alat kelamin tanpa berhubungan seks (petting), 103 responden sudah pernah hubungan seksual, dan 159 menyatakan aktivitas seksual lain selain yang disebutkan tadi.

Hasil penelitian Persatuan Keluarga Berencana Indonesia pada tahun 2002 diperoleh informasi bahwa minimnya pengetahuan remaja mengenahi kesehatan reproduksi remaja dapat menjerumuskan remaja pada perilaku seks pra nikah dan sebaliknya, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja dapat menunda prilaku seks pra nikah dikalangan remaja. Sementara itu hasil penelitian Soetjiningsih terhadap 398 siswa SMA di Yogyakarta menunjukkan bahwa dari 84% siswa yang tidak setuju dengan perilaku seks pra nikah, 95% dari mereka menyatakan pernah mendapat pendidikan yang berkaitan dengan seksualitas, dan mereka (94.80%) juga setuju dengan pemberian pendidikan seks bagi kalangan remaja dan figure yang dianggap cocok memberikan pendidikan seks adalah dokter, psikolog dan seksolog.Berangkat dari fakta diatas maka sangat dianggap penting untuk memberikan materi KESPRO kepada peserta didik.


Tujuan

Siswa dapat memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta memiliki wawasan mengenai fungsi, peran, serta sistem reproduksi remaja.

Target

Siswa memiliki kesadaran pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta memiliki keberanian dalam mengkomunikasikan masalah-masalah yang berkaitan dengan reproduksi kepada orang tua dan guru pembimbing di sekolah.


Cara Pelaksanaan Kegiatan
Materi diberikan dalam bentuk ceramah dan diskusi agar dapat terjalin komunikasi dan diperoleh informasi yang akurat mengenai masalah-masalah kesehatan reproduski remaja yang sedang dialami oleh siswa-siswi. Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan program ini adalah sebagai berikut:
1) Penyampaian materi dan diskusi.
2) Melakukan evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami materi yang telah diberikan.
3) Meminta siswa untuk melaporkan masalah KESPRO yang sedang dialami dalam bentuk tulisan.
4) Melakukan konseling kepada siswa yang mempunyai permasalahan KESPRO.


Materi
Materi yang akan disampaikan terdiri dari beberapa sub pokok bahasan, sebagai berikut: Pengertian kesehatan reproduksi remaja, tumbuh kembang remaja, pacaran sehat, penyakit menular seksual MATERI KESPRO DAPAT DIUNDUH DISINI..

Alat yang Diperlukan
Laptop, LCD Prjector, Alat tulis.


DAFTAR PUSTAKA

Qomariyah, 2002. Siti Nurul, Ringkasan Penelitian Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Dikalangan Siswa SMP, dalam http://www.bkkbn.com, diakses 22 Oktober 2008.

Soetjiningsih, 2008, Remaja Usia 15 - 18 Tahun Banyak Lakukan Perilaku Seksual Pranikah, dalam http://www.gadjahmada.edu.

http://www.resep.web.id. (Menyuguhkan informasi seputar tips-tips untuk menjaga kesehatan reproduksi).

http://www.bnn.com. (Menyuguhkan informasi & video seputar peredaran narkoba di Indonesia dan bahaya penyalah gunaan narkoba).



KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT
.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF
.
Continue Reading...

Senin, 16 Februari 2009

POLAH ASUH DAN PERILAKU DELINKUEN

PENDAHULUAN
Polah asuh dan perilaku delinkuen?...mungkin sebagian dari pembaca merasa kaget dengan judul posting saya kali ini? Mungkin sebagian dari pembaca merasa tidak percaya?..... atau bahkan ada yang marah dan tidak setuju dengan judul posting ini?....JANGAN APATIS DULU SAYA AKAN BERI PENJELASAN BUAT PENGUNJUNG SETIA BLOG INI.
Sebagian dari pembaca mungkin tidak asing lagi dengan kejadian-kejadian atau masalah-masalah berikut:

1. Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sering membolos sekolah karena disekolahkan oleh orang tua di sekolah yang bukan menjadi pilihannya, atau disuruh mengambil jurusan yang tidak sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan yang dimilikinya.

2. Siswa malas belajar di sekolah karena merasa kurang diperhatikan oleh orang tua.

3. Siswa terlibat perkelahian antar pelajar karena terpengaruh oleh temannya.

4. Siswa mendapatkan nilai jelek di sekolah karena lebih mementingkan hubungannya dengan sang pacar, daripada harus belajar.

5. Siswa lebih suka mencari solusi atas masalah yang dihadapinya kepada teman daripada harus bertanya kepada orang tua.

6. Siswa tidak betah di rumah dan tidak berani mengkomunikasikan permasalahan dengan orang tua, akibatnya siswa terjerumus kedalam solusi yang menyesatkan.

7. Siswa melakukan hubungan seks pra-nikah, karena tidak dapat mengontrol dorongan seksualnya.

8. Siswa terjebak pada penggunaan NARKOTIKA karena tidak memperoleh solusi dari masalah yang sedang dihadapinya.

9. Dan banyak lagi permasalahan siswa yang ada di sekitar kita, atau bahkan mungkin di rumah-rumah kita.

Pertanyaannya adalah, KENAPA REMAJA ATAU SISWA TIDAK PERNAH TERLEPAS DARI MASALAH?, KENAPA BANYAK ORANG TUA YANG MERASA TELAH MENDIDIK REMAJANYA DENGAN BAIK TETAPI REMAJANYA TETAP BERPERILAKU DELINKUEN?, KENAPA BANYAK PARA GURU YANG MENGELUH KARENA MURIDNYA TIDAK MAU MENDENGARKAN NASEHATNYA DAN SELALU MELANGGAR ATURAN-ATURAN SEKOLAH?, BAHKAN KENAPA PARA PENGASUH PESANTREN JUGA MASIH BISA MENGELUH KARENA MERASA GAGAL MENDIDIK SANTRINYA?, salah satu penyebab dari semua kegagalan itu tidak lain adalah disebabkan oleh kurangnya pengetahuan para orang tua, para pendidik, dan mohon maaf para empunya pesantren dalam memahami kondisi psikologis remaja sehingga cara pengasuhan yang diberikan justeru akan mendorong para remaja untuk melawan, membuat kelompok serta norma atau nilai-nilai sendiri yang tidak jarang mengantarkan mereka pada perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma agama dan sosial.Para orang tua dan pendidik selama ini masih mendasarkan cara pengasuhannya pada pemberian doktrin, perintah,tanpa memberi ruang untuk bertanya, harus melakukan apa yang diperintahkan oleh orang tua, orang tua lebih tau segalanya, dan.....sementara itu seiring dengan perkembangan remaja pada ranah fisik, kognitif, sosial, psikoseksual, dan emosi telah terjadi banyak pergeseran. Misalnya pada masa remaja lebih membutuhkan dukungan (support) daripada pengasuhan (nurturance), lebih membutuhkan bimbingan (guidance) daripada hanya perlindungan (protection), dan remaja lebih membutuhkan pengarahan (direction) daripada sosialisasi (socialization) (Steinberg, 1993, Rice, 1996, Conger 1977 dalam Aspin 2007).


LEBIH DEKAT DENGAN REMAJA

Definisi remaja
Menurut Hurlock masa remaja adalah masa peralihan dari anak menuju dewasa (Hurlock, 1993), disebut masa peralihan karena pada fase ini remaja secara fisik telah mengalami perkembangan sebagaimana layaknya orang dewasa dan perkembangan fisik ini selanjutnya mengarahkan remaja kepada pembentukan dan pencarian identitas dirinya (Santrock, 1995). Perkembangan fisik membuat remaja merasa dirinya telah dewasa dan harus mendapat peran yang sama sebagaimana orang dewasa dalam membuat keputusan, menentukan kegiatan, menentukan tempat sekolah dan lain sebagainya. Sementara disisi lain perkembangan fisik yang telah matang pada remaja tersebut tidak diikuti dengan kematangan emosi, kognitif dan ranah psikologis yang lain, sehingga para orang dewasa masih menganggap mereka sebagai anak-anak yang membutuhkan pengasuhan bukan dukungan, yang membutuhkan perlindungan bukan bimbingan dan membutuhkan sosialisasi bukan pengarahan. Kekaburan peran ini menjadikan masa remaja menjadi masa yang penuh dengan goncangan (orang barat menyebutnya dengan sturm und drung), masa peralihan dan masa pencarian identitas (Hurlock, 1993, Darajad, 1970,Bisri, 1995, Monks, 2002). LEBIH DETAIL DAN LEBIH JELASNYA TENTANG DEFINISI REMAJA DAPAT DILIHAT DISINI.

Perkembangan kognitif, emosi, sosial, psikoseksual

Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka (Setiono, 2002).

PERKEMBANGAN EMOSI REMAJA DAPAT DILIHAT DISINI.

PERKEMBANGAN SOSIAL REMAJA DAPAT DILIHAT DISINI.

PERKEMBANGN PSIKOSEKSUAL REMAJA DAPAT DILIHAT DISINI.


POLAH ASUH & DAMPAKNYA
Menurut Diana Baumrind (1971,1975,1978, 1987) seperti dikemukakan oleh G. Peterson dalam B. Furhman (1990) ada tiga macam gaya pengasuhan orang tua yakni:
1. Gaya pengasuhan authoritarian. Model komunikasi antar orang tua dan anak dalam gaya pengasuhan ini sangat kaku, dimana orang tua cenderung memberi perintah, tidak memberi kesempatan untuk bertanya, tidak memberikan penjelasan tentang tugas yang diberikan kepada anak, dan menghasruskan anak agar menjalankan semua perintah dan aturan yang diberikan tanpa harus mengetahui alasan, tujuan dan tanpa boleh bertanya. Orang tua yang menggunakan gaya pengasuhan ini cenderung menganggap bahwa anak pasti akan menerima dan menjalankan perintah yang dianggap baik oleh orang tua (Baumrind, 1968), meskipun "tidak dianggap baik oleh anak". Orang tua authoritarian adalah orang tua yang menuntut dan kurang memberikan otonomi, serta gagal memberikan kehangatan kepada anak/remaja mereka (Baumrind dalam Decey & Kenny, 1997). Gaya pengasuhan authoritarian cenderung menuntut anak untuk melakukan sesuatu yang disesuaikan dengan standart orang tua, berdasarkan atas keinginan dan kebutuhan orang tua, serta sangat dogmatis tanpa membuka ruang untuk kritik, alasan dan pertanyaan. Sehingga gaya pengasuhan authoritarian sangat potensial bagi munculnya konflik,penentangan atau perlawanan remaja, dan ketergantungan remaja terhadap orang tua(Rice, 1996).

2. Gaya pengasuhan permissive. Model komunikasi orang tua dalam gaya pengasuhan ini sangat longgar dan terlalu bebas, diaman orang tua memberikan kebebasan penuh kepada anak untuk memilih kegiatan, mengambil suatu keputusan tanpa adanya kontrol dari orang tua. Orang tua dengan gaya pengasuhan ini cenderung tidak menganjurkan anak untuk mematuhi aturan-aturan sosial dan tidak menggunakan wewenang serta kekuasaan dengan tegas dalam usaha membesarkan remajanya (Baumrind, 1968). Orang tua permissive meyakini bahwa kontrol atau pengendalian merupakan suatu pelanggaran terhadap kebebasan remaja yang dapat
menganggu perkembangan kesehatannya. Orang tua permissive longgar secara berlebihan dan disiplin yang tidak konsiste(Steinberg, 1993, Hetherington dan Parke, 1993, dalam Aspin, 2007). Dampak dari model pengasuhan ini adalah membuat remaja tidak matang dalam berbagai aspek sosial, cenderung impulsiv, tidak patuh terlalu menuntut, sangat bergantung pada orang lain dan kurang gigih dalam mengerjakan tugas-tugas (Baumrind, 1975). Remaja yang terlalu diberi kebebasan tanpa pembatasan yang jelas akan menjadi suka menang sendiri, egoistis, mementingkan diri sendiri, dan mengjengkelkan. Ketiadaan
bimbingan dan arahan dari orang tua dapat mengakibatkan mereka merasa tidak aman, tidak punya orientasi, dan penuh keraguan. Apabila remaja menafsirkan kelonggaran pengawasan orang tua sebagai tidak adanya perhatian atau penolakan,
maka remaja itu mempersalahkan orang tua karena dipandang lalai memperingatkan atau menuntun mereka (Rice, 1996).

3. Gaya pengasuhan Authoritative. Model komunikasi orang tua dengan gaya pengasuhan ini adalah bentuk interaksi antara orang tua dengan anak, dalam mana orang tua melibatkan anak dalam pengambilan-pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya dengan keluarga, orang tua dengan gaya ini memberikan kesempatan kepada anak untuk menanyakan alasan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Orang tua dengan gaya ini menerapkan aturan-aturan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak dan bukan berdasarkan kebutuhan orang tua, orang tua dengan gaya ini memiliki ketegasan dalam membimbing anak dan tetap memiliki komunikasi yang hangat terhadap anak.Orang tua selalu memberikan kesempatan kepada anak untuk membuat perencanaan-perencanaan kegiatan, meskipun keputusan tetap ada pada orang tua. Orang tua akan mendengarkan alasan-alasan anak dalam merencanakan suatu kegiatan dan akan meminta penjelasan kepada anak jika orang tua tidak setuju dengan kegiatan yang dilakukan anak.Remaja didorong untuk melepaskan diri (self-detach) secara berangsur-angsur dari keluarga (Steinberg, 1993, Rice, 1996, Thornburg
1982). Kualitas-kualitas gaya pengasuhan authoritative diyakini dapat lebih menstimulir keberanian, motivasi dan kemandirian remaja menghadapai masa depannya. Gaya pengasuhan ini mendorong tumbuhnya kemampuan sosial, meningkatkan rasa percaya diri, dan tanggung jawab sosial pada remaja (Santrock,1985). Remaja dari keluarga authoritative hidup penuh dengan semangat dan bahagia,percaya diri dalam penguasaan tugas-tugas baru, dan memiliki pengendalian diri
dalam mengelola kemampuan-kemampuan mereka untuk tidak bertindak anarkis (Baumring, 1967). Gaya pengasuhan authoritative membuat remaja memilikikemandirian yang tinggi, mampu menggalang persahabatan dan kerja sama, menumbuhkan harga diri yang tinggi, memiliki kematangan sosial dalam berinteraksi dengan lingkungannya maupun keluarganya (Berk, 1994, Lamborn et al, 1991).


POLAH ASUH DAN PERILAKU DELINKUEN
Telah saya jelaskan diatas bahwa remaja adalah masa peralihan dari anak menuju dewasa, dimana pada fase ini remaja telah mengalami perkembangan fisik layaknya orang dewasa, mengalami perkembangan emosi yang labil, mengalami perkembangan sosial dimana pada fase ini remaja cenderung membentuk kelompok-kelompok sosial yang tidak jarang bertentangan dengan norma sosial, perkembangan psikoseksual dimana pada fase ini remaja telah mengalami perkembangan hormon-hormon seks yang dapat mendorongnya pada perilaku seksual, perkembangan kognitif dimana pada fase ini remaja telah berada pada fase operasional formal suatu fase perkembangan kognitif yang secara ideal remaja telah mampu berfikir layaknya orang dewasa dan para ilmuwan yang selalu ingin tahu dan mencari jawaban atas informasi yang diterimanya.

Perkembangan-perkembangan yang terjadi pada remaja tersebut, jika tidak mendapat kontrol serta bimbingan dari orang tua justeru akan membawa remaja kepada perilaku-perilaku delinkuen, karena remaja akan mengambil keputusan-keputusan berdasarkan emosi, berdasar nilai kelompok remajanya, berdasar pemikirannya, yang tidak jarang bertentangan dengan norma-norma sosial. Sebagai contoh seorang pelajar yang terjebak dalam penyalah gunaan narkoba disebabkan oleh masalah yang dihadapinya, karena tidak dapat menyelesaikan masalahnya, takut bercerita kepada orang tua karena khawatir dihukum dan dimarahi, pada akhirnya pelajar tersebut menceritakan masalahanya kepada kelompok remajanya (masih ingat remaja telah mengalami perkembangan sosial) dan kemlompok remajanya memberikan solusi NARKOBA dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Disinilah peran polah asuh dalam membentuk perilaku delinkuen, polah asuh yang authoritarian (tidak memberikan ruang untuk bertanya, berdiskusi, tidak hangat, cenderng memerintah, memarahi tanpa membuka ruang untuk alasan) dan polah asuh yang permisive (terlalu memberikan kebebasan kepada remaja tanpa adanya kontrol) tentu saja hanya akan membuat remaja tidak betah di rumah, lebih suka bergaul dengan teman sebayanya daripada dengan keluarga, lebih berani menceritakan masalahnya dengan kelompok sebayanya daripada dengan orang tua, lebih suka mendengarkan kata teman sebayanya daripada kata orang tua yang dianggap tidak memahami keberadaan dirinya dan apa yang dirasakannya.........dan pada akhirnya remaja justeru terperangkap pada solusi-solusi pemecahan masalah yang menyesatkan (ingat remaja secara fisik memang telah menyamai orang dewasa tetapi secara psikologis mereka masih seperti anak-anak sehingga sangat membtuhkan bimbingan dan kontrol).

Akhirnya polah asuh yang authoritative, polah asuh yang mau melibatkan remaja dalam pengambilan keputusan-keputusan keluarga yang menyangkut dirinya, polah asuh yang memberi ruang untuk bertanya, berargumen dan memberikan rasa aman, kehangatan, kedekatan yang akan mampu mengarahkan remaja pada perilaku-perilaku yang konstruktif dan positif.



DAFTAR PUSTAKA
Baumrind, D., 1971, Current Patterns of Parental Authority, Developmental Psychology Monographs.
Fuhrmann, B.S., 1990, Adolescence, Adolescents, Second Edition, Scott,
Rice, F. P. 1996, The Adolescent : Development, Relathionship, and Culture. Massachusetts : Allyn and Bacon
Steinberg, 1993, Adolescence, Third Edition, New York: McGraw-Hill, Inc.
Thornburg,. H.D, 1982, Dvelopment in Adolescence. California : Brooks/Cole
Monks., F.J., dkk, 2002, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
Santrock., John W., 1995, Perkembangan Masa Hidup jilid 2. Terjemahan oleh Juda Damanika & Ach. Chusairi, Jakarta:Erlangga.
Hurlock., E. B., 1993, Psikologi Perkembangan Edisi ke-5, Jakarta:Erlangga.
Darajad., Zakiah, 1970, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta:Bulan Bintang.
_____________, 1995, Remaja Harapan dan Tantangan, Jakarta:Ruhana.
Bisri., Hasan, 1995, Remaja Berkualitas, Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Setiono., Lili H., 2002, Beberapa Permasalahan Remaja, Dalam http://www.e-psikologi.com.
Aspin, 2006, Hubungan Gaya Pengasuhan Orang Tua Authoritarian Dengan Kemandirian Emosi Remaja, Tesis: Program Pasca Sarjana Universitas Padjajaran Bandung.



KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...
 

Daftar Blog

Daftar Blog

  • PROGRAM BANGKIT - Telah di buka Program Bangkit dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) yang merupakan program pembinaan talenta digital untuk mahasiswa ...
    4 tahun yang lalu

Daftar Blog

suhadianto.blogspot.com Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template