Selasa, 24 Februari 2009

PENDIDIKAN SEKS:UPAYA PREVENTIF TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRA-NIKAH



Buku Pendidikan Seks untuk Anak dalam Islam ini sangat bagus untuk digunakan sebagai pedoman oleh para orang tua dan para pendidik dalam mengajarkan masalah seks pada para remaja. Buku ini tidak hanya diperuntukkan bagi keluarga yang mempunyai latar belakang Muslim saja karena bahasan yang ada dalam buku ini sangat sesuai dan tidak bertentangan dengan pemikiran-pemikiran para tokoh dalam bidang psikologi dan tidak bertentangan dengan hasil penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para seksolog Barat dan Eropa. Meskipun ada beberapa konsep, ide, atau gagasan-gagasan dalam buku ini yang kebenarannya belum dapat dibuktikan secara ilmiah....Tetapi pembaca tidak perlu apatis, karena tidak semua kebenaran dapat dibuktikan secara ilmiah dan tidak semua yang ilmiah adalah suatu kebenaran bukan?. Konsep id (libido sexual), ego (diri), dan superego (introyeksi nilai) dan juga konsep bahwa semua individu lahir dengan membawah dorongan negatif yang dikemukakan oleh Freud juga bukan sesuatu yang ilmiah...tetapi tidak sedikit dari kita yang menggunakan gagasan Freud tersebut sebagai dasar dalam menganalisis suatu masalah. Sebaliknya gagasan Darwin tentang manusia berasal dari kera yang didasari dengan cara berfikir ilmiah...pada akhirnya juga disangsikan dan mendapat perlawanan dari para ilmuwan.He he he kok jadi ngelantur ya....yang jelas buku ini patut dijadikan referensi sebagai pedoman untuk memberikan pendidikan seks pada para remaja. Nah....bagi yang tertarik lanjutkan pembacaan Jenengan, semoga bermanfaat.


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUMBUHNYA PERMASALAHAN
Dalam buku ini Madani menjelaskan bahwa pada dasarnya tidak hanya faktor lingkungan saja yang dapat mempengaruhi muculnya perilaku seks menyimpang dikalangan remaja, tetapi juga dapat disebabkan oleh faktor gangguan hormonal dan faktor genetik untuk faktor genetik ini pembaca harus menggunakan paradigma bahwa tidak semuanya yang benar itu harus dapat dibuktikan secara ilmiah.

1. Gangguan hormonal
Temperamen seseorang baik anak-anak maupun dewasa berkaitan dengan hormon, begitu juga dengan perilaku seks. Aktivitas seksual sangat berkaitan dengan terpendamnya kedua kelenjar anak-anak, yaitu thymus dan pineal. Ketika kedua kelenjar tersebut dinonaktifkan maka timbuhlah kelenjar-kelenjar seksual. Tumbuhnya kelenjar seksual yang terlalu dini akan mengakibatkan anak untuk berperilaku seksual menyimpang.

2. Faktor genetik
Faktor genetik ini mencakup sifat-sifat orang tua dan orang yang menyusui anak serta hubungan seksual (yang dilakukan oleh orang tua saat memproduksi anak). Artinya bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh orang tua dan sifat-sifat yang dimiliki oleh orang yang menyusui itu juga sangat berpengaruh terhadap perilaku anak. Selain itu Waktu, tempat dan kondisi saat orang tua melakukan hubungan seksual juga sangat berpengaruh terhadap perilaku anak. Nabi Muhammad pernah menjelaskan kepada Ali bahwa situasi yang dilarang melakukan hubungan seksual adalah saat takut, gelisah, telah mengkonsumsi hal-hal yang memabukkan, karena hal tersebut dapat menghasilkan perangai negatif pada aspek biologis seperti cacat mental dan lain sebagainya. Saya bribadi sangat yakin semua agama akan melarang hubungan seksual dalam kondisi seperti diatas.

3.Faktor lingkungan
a. Ketidak tahuan orang tua akan pendidikan seks. Banyak orang tua yang tidak mengerti konsep pendidikan seks, sehingga mereka cenderung menyembunyikan masalah seks dari anak-anak, dan membiarkan mereka mencari informasi diluar rumah yang justru sering mengarahkan mereka pada solusi yang menjerumuskan. Para seksolog Barat menganjurkan agar anak dikenalkan dengan pendidikan seks sejak dini.
b. Rangsangan seksual dalam keluarga. Kebanyakan para orang tua kurang mampu menjaga perilaku seksualnya dihadapan anak, misalnya: Bermesraan didepan anak, berciuman didepan anak atau perilaku-perilaku kecil lainnya yang dapat menimbulkan rasa penasaran dan rangsangan seks pada anak.
c. Anak tidak terlatih untuk meminta izin. Masih banyak orang tua yang tidak membiasakan anak untuk meminta ijin ketika masuk kamar orang tua, sehingga terkadang anak dapat melihat aktivitas seksual orang tua.
d. Tempat tidur yang berdekatan. Kebanyakan orang tua belum mengerti, bahwa membiarkan anak tidur dalam satu selimut dengan saudaranya, atau membiarkan anak laki-lakinya yang sudah remaja tidur dengan anak perempuannya dapat menyebabkan munculnya perilaku seks menyimpang.
e. Orang tua memandang remeh ciuman anak laki-laki dan perempuan pada periode terakhir masa kanak-kanak, padahal hal ini juga dapat memicu munculnya perilaku seks penyimpang.
f. Keluarga mengabaikan pengawasan terhadap media informasi, sehingga anak mudah meniru perilaku-perilaku berciuman bermesraan dan lain sebagainya yang tidak jarang diperagakan oleh artis-artis di TV.
g. Teman yang tidak baik juga sangat berpengaruh terhadap munculnya perilaku seks menyimpang.


MEMPERSIAPKAN PENDIDIKAN SEKS BAGI ANAK
Pendidikan seks harus dipersiapkan sejak dini sebelum anak memasuki masa remaja, hal ini dimaksudkan untuk mempersipakan anak dalam menghadapi gejolak-gejolak seksual yang diakibatkan oleh tumbuhnya kelenjar seks pada periode itu. Persiapan pendidikan anak tersebut dapat berupa menghindarkan anak dari melihat sesuatu yang dapat merangsang tumbuhnya kelenjar seksual, memberikan penjelasan kepada anak tentang bertumbuhan fisik yang dialaminya, mengajarkan anak bagaimana cara menggunakan "pembalut" yang baik pada saat haid dan lain sebagainya. Para ilmuwan Barat dan para perumus hukum Islam telah menekankan pentingnya kedua orang tua untuk bersikap sopan dihadapan anak-anaknya yang masih kecil, karena hal tersebut mempunyai pengaruh positif dalam membentuk perilaku seksual bagi setiap individu ketika dia telah mancapai usia matang. Namun demikian yang perlu ditekankan disini bahwa pendidikan seks harus terus diberikan sampai anak menginjak dewasa.

Freud dalam gagasannya tentang libido sexual yang walaupun sulit dibuktikan secara ilmiah, menegaskan bahwa manusia lahir dengan membawah dorongan-dorongan seksual. Menurut Freud ada tiga fase dalam penyaluran dorongan seksual yaitu fase oral (kepuasan terletak di mulut), fase anal (pada fase ini anak sangat suka memainkan "dubur" atau anus) dan fase phalic (pada fase ini kepuasan seksual ada pada kelamin). Para seksolog Barat dan Islam sepakat dengan gagasan Freud tersebut, sehingga mereka menekankan pentingnya mempersiapkan pendidikan sejak dini. Tetapi para seksolog Islam tidak sepakat dengan gagasan Freud bahwa pendidikan seksual harus lebih difokuskan pada periode awal masa anak. Sebaliknya para seksolog Islam lebih sepakat untuk memfokuskan pendidikan seks pada periode akhir masa anak, dengan dasar-dasar sebagai berikut:

Nabi Muhammad saw. bersabda, anak-anak adalah raja pada usia 7 tahun (7 tahun pertama), hamba pada 7 tahun kedua dan menteri pada 7 tahun berikutnya. Kamu harus merasa senang kalau pada usia 11 tahun akhlaknya baik. Jika tidak pukullah perutnya, karena kamu harus telah meluruskan akhlaknya pada usia 11 tahun. Al-Hadist


Maksud hadis diatas adalah: Pada 7 tahun pertama anak dimanjakan, pada 7 tahun kedua anak diajarkan disiplin, dan pada 7 tahun ketiga anak diperlakukan layaknya teman (untuk berdiskusi, diseri tanggung jawab, dan lain sebagainya).


TUJUAN PENDIDIKAN SEKS
Mungkin sebagian dari kita masih menganggap bahwa pendidikan seks justru akan mengarahkan anak pada perilaku seksual penyimpang, pandangan seperti ini dapat disebabkan oleh kurangnya pengertian tentang tujuan dari pendidikan seks itu sendiri. Pendidikan seks bukan berarti mengajarkan anak untuk berperilaku seksual penyimpang, tetapi sebaliknya memberikan pengertian yang benar kepada anak tentang aturan-aturan dalam berhubungan seksual, apa saja yang boleh dilakukan dan apa saja yang boleh dilakukan oleh anak sesuai dengan tingkat perkembanganny. Menurut Profesor Gawshi, pendidikan seks adalah bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang benar kepada anak dan menyiapkannya untuk beradaptasi secara baik dengan sikap-sikap seksual dimasa depan kehidupannya; dan pemberian pengetahuan ini menyebabkan anak memperoleh kecenderungan logis yang benar terhadap masalah-masalah seksual dan reproduksi.


BEBERAPA ASPEK YANG PERLU DIBERIKAN DALAM PENDIDIKAN SEKS
Dalam memberikan pendidikan seks orang tua harus memasukkan aspek-aspek ketuhanan, misalnya memberikan penjelasan kepada anak, tentang asal mula kehidupan ini, apa yang harus dilakukan oleh manusia di dunia dan kemana manusia akan kembali untuk mempertanggung jawabkan perilaku yang telah diperbuat semasa hidupnya. Hal ini perlu diberikan sebagai doktrin dan sekaligus sebagai energi yang akan mengarahkan arah perilaku anak. Selain itu orang tua juga perlu memasukkan aspek kemanusiaan, menjelaskan tentang pentingnya menjaga kehormatan diri dihadapan orang lain, seperti tidak membiarkan orang lain melecehkannya secara seksual, tidak memperlihatkan bagian tubuhnya yang sesual kepada orang lain (dalam Islam telah diatur tentang perlunya menjaga aurat).


UPAYA PREVENTIF UNTUK MENCEGAH PERILAKU SEKSUAL PENYIMPANG
Upaya pendegahan dapat dilakukan sejak dini oleh orang tua, dengan memperhatikan faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya perilaku seksual penyimpang sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Penggunaan sentuhan spiritualitas ketika orang tua melakukan hubungan seksual juga sangat dianjurkan sebagai upaya preventif, seperti membaca do'a sebelum bersenggama, membaca do'a memohon anak dan lain sebagainya.

Agar pemahaman pembaca tentang pendidikan seks untuk anak lebih lengkap, tidak ada salahnya jika pembaca membeli bukunya he he he bukan promosi lho...

Judul Asli: Attarbiyah Al-Jinsiyah Lil-Athfaal Wa Al-Baalighiin
Judul Terjm : Pendidikan Seks Untuk Anak dalam Islam
Penerbit : Pustaka Zahra:Jakarta
Tebal : 262 halaman.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...

Senin, 23 Februari 2009

TUTORIAL ANALISIS DATA PENELITIAN EKSPERIMEN



PENGERTIAN PENELITIAN EKSPERIMEN
Penelitian Eksperimental merupakan bentuk penelitian dimana peneliti (eksperimenter) dengan sengaja memberikan perlakukan (treatmen) kepada responden (subyek), selanjutnya mengamati dan mencatat reaksi subyek, dan kemudian melihat hubungan antara perlakuan yang diberikan dan reaksi (perilaku=variabel tergantung) yang muncul dari subyek. Hakekat tujuan penelitian eksperimental adalah meneliti pengaruh perlakuan terhadap perilaku yang timbul sebagai akibat perlakuan (Alsa, 2004). Manurut Latipun (2002) Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dilakukan dengn melakukan manipulasi yang bertujuan untuk mengetahui akibat manipulasi terhadap perilaku individu yang diamati. Sementara Hadi (1985) mendefinisikan penelitian eksperimen sebagai penelitian yang dilakukan untuk mengetahui akibat yang ditimbulkan dari suatu perlakuan yang diberikan secara sengaja oleh peneliti. Kesimpulannya penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian suatu treatment atau perlakuan terhadap subjek penelitian.

Wilhelm Wundt (dalam Alsa, 2004) mengemukakan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian eksperimental, yaitu:
1.Peneliti harus dapat menentukan secara sengaja kapan dan di mana ia akan melakukan penelitian.
2.Penelitian terhadap hal yang sama harus dapat diulang dalam kondisi yang sama.
3.Peneliti harus dapat memanipulasi (mengubah, mengontrol) variabel yang diteliti sesuai dengan yang dikehendakinya.
4.Diperlukan kelompok pembanding (control group) selain kelompok yang diberi perlakukan (experimental group).

Untuk lebih jelasnya mengenai cara penggunaan penelitian eksperimen, cara pemilihan desain eksperimen dan cara penentuan subjek penelitian dapat dibaca pada beberapa buku berikut:

Latipun.2002, Psikologi Eksperimen, (Malang:UMM Press).

Sutrisno Hadi. 1985, Metodologi Research Jilid 4, (Yogyakarta:Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM).

Asmadi Alsa. 2004, Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dalam Penelitian Psikologi, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar).

Fred N. Kerlinger, Asas-Asas Penelitian Behavioral, (Yogyakarta:Gajah Mada University Press).


ANALISIS DATA PENELITIAN EKSPERIMEN
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk melakukan nalisis data dalam penelitian eksperimen, tergantung pada berapa jumlah variabel yang diteliti. Dalam tutorial ini saya akan memulai dengan analisis data penelitian eksperimen dengan menggunakan dua varibel penelitian. Sebagai contoh seorang peneliti bermaksud melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh penggunaan musik klasik (Mozart) terhadap kemampuan menghafal pada anak-anak. Penelitian tersebut diberi judl: PENGARUH PENGGUNAAN MUSIK KLASIK (MOZART) TERHADAP KEMAMPUAN MENGHAFAL PADA ANAK DI TK KEMALA BAYANGKARI JOMBANG, dengan hipotesis ADA PENGARUH PENGGUNAAN MUSIK KLASIK TERHADAP KEMAMPUAN MENGHAFAL.Untuk keperluan penelitian tersebut seorang peneliti harus melakukan beberapa tahapan penelitian sebagai berikut:
1. Menentukan subjek penelitian yang akan dijadikan sebagai kelompok eksperimen atau kelompok yang akan didengarkan musik selama pelajaran menghafal (diambil secara random dengan menggunakan teknik simple random atau teknik undian).

2. Menentukan subjek penelitian yang akan dijadikan sebagai kelompok kontrol atau kelompok pembanding (diambil secara random dengan menggunakan teknik simple random atau teknik undian).

3. Menentukan treatment atau perlakuan yang akan diberikan (dalam penelitian ini semua subjek penelitian diminta untuk menghafal surat Ad-Dhuha).

4. Menentukan berapa lama eksperimen akan dilakukan (dalam kasus ini peneliti menentukan lama eksperimen 5 hari).

5. Menentukan dua ruangan yang memiliki fasilitas yang sama (1 ruangan untuk kelompok eksperimen dan 1 ruangan untuk kelompok kontrol).

Setelah langkah-langkah tersebut diatas dijalankan peneliti baru dapat memulai penelitian. Dalam kasus ini desain penelitiannya adalah sebagai berikut: Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok berjumlah 20 anak. Kelompok 1 disebut sebagai kelompok kontrol dan kelompok 2 disebut sebagai kelompok eksperimen. Kedua kelompok ditempatkan pada ruangan dengan falisilitas yang sama dan akan mendapatkan perlakuan yang sama yaitu menghafalkan surat Ad-Dhuha. Bedanya para kelompok eksperimen selama menghafal diiringi dengan musik Mozart, sementara pada kelompok kontrol tidak. Setelah penelitian berakhir, masing-masing subjek, baik pada kelompok kontrol maupun pada kelompok eksperimen diminta untuk menghafalkan surat Ad-Dhuha yang telah diberikan oleh guru. Jumlah ayat surat Ad-Dhuha yang dihafal oleh masing-masing subjek kemudian dicatat dan diperoleh data sebagai berikut:




LANGKAH-LANGKAH ANALISIS DATA
1. Klik File - New - Data
2. Klik varibel view (kanan bawah) lalu isikan nama variabel (misal: kontrol untuk kelompok kontrol dan eksper untuk kelompok eksperimen).
3. Kolom Type, klik numeric karena penghitungannya berupa angka.
4. Kolom Widht isikan 8 dan Decimal isikan 2.
5. Pada kolom label isikan Kelompok kontrol dan Kelompok Eksperimen karena dalam penelitian ini terdapat dua kelompok.
6. Klik Data View (Kanan bawah), akan terlihat dua kolom yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
7. Isikan data tersebut diatas.
8. Klik File - Save untuk menyimpan data.
9. Klik Analyze - Compare Means - Paired Samples T Test.
10. Klik kedua variabel Kelompok Kontrol & Kelompok Eksperimen dan pindah ke kotak Grouping Variables.
11. Kik Option untuk memilih Convodence Interval selang kepercayaan yang akan digunkan - pilih 95%.
12. Klik Continue
13. Klik OK
14. Klik File - Save untuk menyimpan hasil.

Hasil analisis diperoleh data sebagai berikut:




INTERPRETASI

Hasil analisis yang telah dilakukan diperoleh nilai Mean kelompok kontrol sebesar 3.4500 sedang pada kelompok ekperimen diperoleh Mean sebesar 4.4000. Hal ini berarti bahwa rata-rata subjek yang berada dalam kelompok eksperimen (kelompok yang diperdengarkan musik klasik selama pelajaran menghafal) mampu menghafalkan sebanyak 4 ayat pada surat Ad-Dhuha, sementara pada rata-rata subjek yang berada dalam kelompok kontrol hanya mampu menghafalkan sebanyak 3 ayat.

Hasil analisis diperoleh nilai t hitung sebesar -3.567. Untuk mengetahui apakah niali t hitung tersebut signifikan dengan selang kepercayaan 95 % atau 0.05 harus dibandingkan dengan nilai pada t tabel. Dan untuk melihat t tabel harus didasarkan pada (dk) atau degree of freedom (df) yang besarnya adalah n-1, dalam kasus ini berarti 20-1 = 19. Setelah dikonsultasikan pada tabel nilai t (dapat diperoleh dibuku-buku metode penelitian) dengan df 19 dan selang kepercayaan 95% diperoleh nilai t tabel sebesar 2.093.

Dengan demikian hasil analisis diperoleh nilai t hitung 3.567 > 2.093 yang berarti ada pengaruh yang signifikan penggunaan musik klasik terhadap kemampuan menghafal pada anak di TK Kemala Bayangkari Jombang.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...

BROKEN WINDOWS UNTUK MELAWAN EPIDEMI PERILAKU DELINKUEN DIKALANGAN REMAJA



Broken Windows merupakan salah satu teori yang cukup efektif digunakan untuk mengurangi perilaku kriminal atau perilaku delinkuen dikalangan remaja. Teori ini merupakan buah pikiran kriminolog James Q. Wilson dan George Kelling. Wilson dan Kelling berpendapat bahwa kriminalitas merupakan akibat tak terelakkan dari ketidakteraturan. Jika jendela rumah pecah namun dibiarkan saja, siapapun yang lewat cenderung menyimpulkan pastilah disitu tidak ada yang peduli atau bahwa rumah itu tidak berpenghuni. Dalam waktu singkat akan ada lagi jendela yang pecah, dan belakangan berkembang anarki yang menyebar kesekitar tempat itu.

CONTOH KEBERHASILAN PENGGUNAAN TEORI BROKEN WINDOWS
William Bratton adalah seorang polisi, dia diangkat sebagai komandan oleh Transit Authority pada kisaran tahun 1990-an, tugas utama Bratton adalah membasmi tindak kejahatan yang begitu marak di sistem kereta bawah tanah. Kita mungkin berpikir Bratton akan membawa pasukannya ke sistem kereta bawah tanah dan menghabisi semua pelaku kejahatan disana. Tetapi yang dilakukan Bratton justru kebalikannya, karena Bratton adalah salah satu dari penganut teori Broken Windows yang beranggapan bahwa perilaku kriminalitas diakibatkan oleh adanya ketidakteraturan. Bratton memulai tugasnya dengan memutuskan untuk membasmi kebiasaan naik kereta tanpa karcis karena menurutnya naik kereta tanpa karcis juga merupakan simbul ketidakteraturan yang bisa menjadi pangkal pelanggaran-pelanggaran yang lebih serius. Dalam sehari sekitar 170.000 orang menggunakan jasa kereta tanpa membayar ongkos. Sebagian adalah anak-anak yang sengaja melompati palang pintu pemasukan karcis turnstile. Lainnya adalah orang-orang dewasa yang sengaja mengakali mesin penjual karcis atau bahkan mendobrak palang pintu. Orang-orang dibelakang mereka, tanpa merasa bersalah, ikut-ikutan masuk kereta tanpa membayar. Alasan mereka sederhana sekali: kalau ada beberapa orang naik kereta tanpa membayar ditambah beberapa orang lagi tentu bukan masalah.

Langkah yang dilakukan Bratton ternyata membuahkan hasil yang gemilang, tidak ada lagi orang yang naik kereta tanpa membeli karcis, tidak ada lagi para penumpang yang membawah senjata, tidak ada lagi orang mabuk didalam kereta. Penangkapan terhadap para pelaku kejahatan ringan juga meningkat lima kali lipat selama kurun waktu 1990 - 1994, yang pada tahun-tahun sebelumnya tidak pernah dihiraukan. Berkat penggunaan teori Broken Windows ini pada tahun 1994 setelah Rudolph Giuliani terpilih sebagai wali kota New York, Bratton diangkat sebagai kepala kepolisian New York City.

BAGAIMANA MENGAPLIKASIKAN TEORI BROKEN WINDOWS UNTUK MENGURANGI PERILAKU DELINKUEN DIKALANGAN REMAJA KITA
Sesuai dengan gagasan teori ini, maka perilaku-perilaku delinkuen seperti membolos sekolah, keluyuran dijalanan pada jam sekolah, mencuri, perkelahian antar pelajar, seks bebas, penyalah gunaan narkoba dan lain sebagainya adalah disebabkan oleh adanya ketidakteraturan dlam lingkungan dimana remaja berada. Adanya ketidakteraturan di lingkungan rumah, lingkungan sekolah, dan lingkungan antara sekolah dan rumahlah yang menjadikan remaja berperilaku delinkuen. Dengan demikian untuk mengurangi atau mengatasi perilaku delinkuen dikalangan remaja para orang tua harus dapat menciptakan keteraturan di rumah, seperti tidak membiarkan anak menonton TV pada jam-jam belajar, tidak membiarkan anak tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengharuskan anak mengulang pelajaran sepulang sekolah, tidak membiarkan anak melanggar aturan-aturan yang ada dalam keluarga, tidak membiarkan anak bermain pada jam-jam belajar, tidak membiarkan anak meninggalkan sholat, tidak membiarkan anak melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat dan lain sebagainya. Karena perilaku menonton TV pada jam-jam belajar, perilaku tidak mengerjakan (PR), perilaku meninggalkan sholat dan ...adalah suatu ketidakteraturan yang jika dibiarkan akan mengakibatkan terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang lebih serius, seperti perilaku membolos, perkelahian pelajar dan lain sebagainya.

Para guru atau pendidik juga harus mampu menciptakan suatu keteraturan di lingkungan sekolah, dengan memberi sangsi yang tegas bagi siswa yang melanggar aturan-aturan sekolah, seperti membuat gaduh di kelas, tidak serius dalam mengikuti pelajaran, tidak mendengarkan penjelasan guru, terlambat masuk, tidak mengerjakan pekerjaan rumah dan lain sebagainya. Karena perilaku-perilaku tersebut adalah merupakan suatu ketidakteraturan sehingga perlu mendpat perhatian yang ketat, karena jika dibiarkan tentu saja akan mengakibatkan pelanggaran yang lebih serius, seperti yang baru baru ini kita saksikan di TV berupa perilaku agresiv dengan menelanjangi teman di kelas, perkelahian pelajar dan lain sebagainya.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...

TIPPING POINT:MENINGKATNYA EPIDEMI PERILAKU DELINKUEN DIKALANGAN PELAJAR-2



3. KEKUATAN KONTEKS
Pada awal 1970-an, sekelompok sosiolog di Stanford University, dibawah pimpinan Philip Zimbardo, memutuskan membuat semacam penjara di basement gedung Fakultas Psikologi. Penjara ini tidak digunakan untuk memenjarakan orang, tetapi akan digunakan sebagai eksperimen untuk menjawab pertanyaan "kenapa penjara sering menjadi tempat menjijikkan dan tidak menyenangkan". Setelah memasang iklan dibeberapa surat kabar lokal akhirnya diperoleh 75 orang yang bersedia menjadi subjek penelitian, dari 75 orang tersebut kemudian melalui prosedur pengetesan ditentukan 21 orang diantara mereka dengan kondisi psikologis yang paling normal dan paling sehat untuk menjadi subjek penelitian.Dari 21 subjek yang ada kemudian dibagi menjadi dua kelompok secara acak, dimana kelompok pertama akan berperan sebagai polisi dan kelompok kedua akan berperan sebagai tahanan. Hasil dari penelitian ini sungguh sangat mengejutkan, subjek-subjek penelitian yang berperan sebagai polisis yang pada awalnya mengaku sebagai orang yang paling pasif, tiba-tiba dapat menjadi orang yang sangat agresif dan sadis, pada tengah malam mereka membangunkan para tahanan dan menyuruh mereka untuk push up. Kemudia pada pagi harinya para polisis tersebut melucuti pakaian para tahanan karena para tahanan memberontak dan pada hari-hari berikutnya perilaku para polisi tersebut semakin bertambah sadis.

Kenapa orang-orang yang pada awalnya memiliki kepribadian paling normal dan paling sehat, ketika diberi peran sebagai polisi dalam penjara tiba-tiba berubah menjadi seorang yang sadis. Menurut Zimbardo ada situasi-situasi khusus dengan pengaruh begitu hebat sehingga mampu mengalahkan predisposisi yang telah ada sejak lahir. Kata kunci dalam hal ini adalah situasi. Zimbardo tidak menyangkal bahwa cara kita dibesarkan oleh orang tua kita berpengaruh terhadap perilaku dan kepribadian kita, tetapi menurutnya sekolah tempat kita belajar, teman sepergaulan, dan tentangga yang tinggal disekitar rumah kita juga sangat berpengaruh terhadap perilaku kita.

YANG BISA DIAMBIL PELAJARAN BAGI ORANG TUA & PARA PENDIDIK
Situasi dimana para pelajar dan remaja kita berada juga sangat berpengaruh terhadap kepribadian dan perilaku mereka. Untuk itu sebagai orang tua dan sebagai pendidik kita dituntut untuk selalu menghadirkan sebuah situasi lingkungan yang sehat , nyaman dan tidak membuat para pelajar dan remaja kita merasa tertekan (lingkungan sekolah, lingkungan rumah, lingkungan antara sekolah dan rumah). Suatu kondisi atau situasi yang menekan akan dapat memunculkan perilaku-perilaku yang tidak kita inginkan.Oleh karena itu sebagai orang tua tentunya sangat dituntut untuk mampu menghadirkan situasi atau kondisi lingkungan rumah yang menyenangkan, hangat dan tidak kaku, jika tidak ingin para remajanya melakukan perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma sosial, disebabkan oleh kondisi rumah yang tidak menyenangkan dan tidak hangat.SUHADIANTO.BLOGSPOT.COM.


KENAPA PEMBERITAAN PERILAKU DELINKUEN DI TV DAN MEDIA CETAK JUSTRU MENINGKATKAN JUMLAH KASUS-KASUS PERILAKU DELINKUEN

Mungkin sebagaian dari kita pernah mengalami hal ini. Pada saat kita sedang berhenti di lampu merah, terkadang kita berfikir untuk menerobos lampu merah karena terburu-buru atau merasa jenuh menunggu lampu merah yang terlalu lama. Tiba-tiba ada seseorang yang menerobos lampu merah tersebut dan sadar atau tanpa sadar tiba-tiba kita melakukan hal yang sama.Kenapa pada saat melihat orang lain menerobos lampu merah, tiba-tiba kita meniru melakukan hal yang sama. Jawabannya adalah KARENA KITA MERASA MEMPEROLEH PEMBENARAN DARI ORANG LAIN ATAS PERILAKU MELANGGAR YANG BARU SAJA KITA LAKUKAN. Disinilah jawabannya mengapa setiap pemberitaan tentang perkelahian pelajar oleh televisi maupun media cetak selalu diikuti oleh kasus yang serupa di tempat lain, karena pemberitaan tentang perkelahian pelajar, pencurian yang dilakukan oleh pelajar dan lain sebagainya justru dapat menjadi pembenaran bagi para pelajar lain yang mempunyai pikiran untuk melakukan hal yang sama.

David Philips, seorang sosiolog di University of California di San Diego, yang telah memimpin sejumlah penelitian tentang bunuh diri. Ia diantaranya menyimpulkan bahwa setiap pemberitaan tentang bunuh diri di televisi, selalu diikuti oleh kasus bunuh diri di tempat lain dengan modus yang lebih canggih daripada kasus sebelumnya. Kenapa ini bisa terjadi, jawabannya adalah setiap pemberitaan tentang bunuh diri justru dianggap sebagai pembenaran terhadap perilaku bunuh diri.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...

TIPPING POINT:MENINGKATNYA EPIDEMI PERILAKU DELINKUEN DIKALANGAN PELAJAR-1



Setelah menyaksikan berita tentang perilaku agresivitas, perilaku mencuri, perilaku seks bebas, perilaku membolos sekolah, perilaku merokok ,perilaku perkelahian pelajar dan bentuk-bentuk perilaku delinkuen yang lain, yang kian hari kian meningkat dilakalangan pelajar kita. Membuat saya terusik, dan selanjutnya merenung serta berfikir untuk mencari jawaban dari fakta tersebut. Satu hal yang membuat saya dan mungkin "para pembaca" bingung adalah KENAPA SEMAKIN BANYAK PEMBERITAAN TENTANG ADANYA PELAJAR-PELAJAR YANG DITANGKAP OLEH POLISI AKIBAT PERILAKU KENAKALAN YANG DILAKUKAN JUSTERU PERILAKU KENAKALAN DIKALANGAN PELAJAR SEMAKIN MENINGKAT?. Pertanyaan ini mengingatkan kepada saya dengan salah satu koleksi buku yang saya miliki. ,TIPPING POINT, itulah judul buku tersebut, pengarang buku ini adalah Malcolm Gladwell, buku yang dialihbahasakan oleh Alex Tri Kantjino Widodo dan diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta ini adalah salah satu buku yang masuk dalam kategori Bestseller.

TIPPING POINT menggambarkan dan menjelaskan bagaimana sebuah ide, sebuah pesan, dan sebuah perilaku tiba-tiba menyebar seperti wabah penyakit menular yang menjangkiti semua orang yang ikut melihat dan menerima pesan tersebut. Pada bagian buku ini Malcolm Gladwell menggambarkan bagaimana perilaku kriminalitas yang dilakukan oleh Bernhard Goetz pada tanggal 22 Desember 1984, tiba-tiba menyebarkan epidemi perilaku kriminal disemua penjuru kota New York City, tepatnya setelah perilaku kriminal Goetz tersebut diberitakan disemua media masa yang ada di New York City. Akibat pemberitaan tersebut angka kriminalitas tiba-tiba meningkat drastis. Selama tahun 1980-an, di New York City, rata-rata lebih dari 2000 pembunuhan dan 600.000 tindak kekerasan telah terjadi dalam setahun.

Lalu apa hubungannya TIPPING POINT dengan pertanyaan saya diatas?, jawabannya ada dalam buku ini. Dalam buku ini Malcolm Gladwell memberikan penjelasan dengan gamblang, BAGAIMANA SEBUAH PESAN, BAGAIMANA SEBUAH IDE DAN BAGAIMANA PERILAKU YANG DIBERITAKAN dapat dengan cepat mempengaruhi perilaku orang lain.

TIGA KAIDAH EPIDEMI
Pada bagian ini Gladwell menjelaskan tentang kaidah-kaidah yang harus ada dalam pesan, ide dan perilaku tertnetu. Jika ide, pesan atau perilaku tersebut diharapkan dapat mempengaruhi perilaku orang lain. Ada tiga kaidah epidemi menurut Gladwell:

1. HUKUM TENTANG YANG SEDIKIT
Pada suatu petang tanggal 18 April 1775 ada desas desus bahwa Inggris akan segera melakukan serangan besar-besaran Ke Lexington, di barat daya Boston, untuk menangkap para pemimpin gerakan kemerdekaan John Hancock dan Samuel Adams, yang akan diteruskan ke kota Concord. Mendengar berita tersebut kelompok gerakan gemerdekaan segera mengutus dua orang untuk menyebarkan informasi tentang penyerangan yang akan dilakukan oleh Inggris kepada semua rakyat Amerika. William Dawes dan Paul Revere adalah dua orang yang dipilih untuk melaksanakan tugas tersebut. Namun demikian dua orang tersebut menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda, Revere mampu menumbuhkan semangat disemua kota yang dilewatinya sehingga kota-kota yang dilewati oleh Revere hampir semua memenangkan peperangan dan membuat pihak Inggris dipermalukan, tetapi hal serupa tidak terjadi di kota-kota yang dilewati oleh Dawes. Kenapa hal ini bisa terjadi, jawabannya adalah bahwa keberhasilan seseorang dalam memberikan pesan sangat ditentukan oleh keterampilan sosial yang dimiliki, dan popularitas yang dimiliki. Revere memiliki keterampilan sosial dan popularitas yang luar biasa, sehingga dia diidolahkan oleh hampir semua rakyat Lexington, itulah sebabnya kenapa pesan yang disampaikan oleh Revere dapat menjadi suatu epidemi "ketok tular" (word of-mouth) dan mampu mempengaruhi perilaku semua orang.

YANG BISA DIAMBIL PELAJARAN BAGI ORANG TUA & PARA PENDIDIK
Sebuah pesan, ide dan perilaku, menurut kaidah diatas, akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain, apabila ide tersebut disampaikan oleh orang yang memiliki keterampilan sosial luar biasa dan memiliki popularitas (atau diidolahkan). Jika kita mengacu pada kaidah ini, tentu saja sebagai orang tua dan pendidik kita dituntut untuk memiliki suatu keterampilan yang baik dalam berhubungan dengan para remaja atau pelajar kita, selain itu kita juga dituntut untuk mampu menjadi sebagai sosok yang dapat diidolahkan oleh para remaja atau para pelajar kita, kalau kita ingin semua pesan, ide dan contoh perilaku yang kita berikan dapat diterima oleh para remaja atau palajar kita. Tentu saja kita tidak mungkin bisa memiliki keterampilan yang baik dalam menjalin hubungan sosial dengan para pelajar dan remaja kita, jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang perkembangan fisik maupun psikis yang sedang dialami oleh para remaja kita.

Kaidah hukum yang sedikit ini tampaknya telah digunakan oleh para perusahaan TV swasta dan para perusahaan dibidang media, baik cetak maupun elektronik untuk mendongkrak keuntungan usaha mereka. Lihat saja iklan-iklan di TV semua menggunakan orang-orang yang dianggap memiliki keterampilan sosial dan memiliki popularitas atau diidolahkan oleh para pelajar kita. Sehingga tidak heran pesan, ide dan perilaku-perilaku mereka kerap kali dijadikan referensi oleh para remaja kita yang tidak jarang ide, pesan atau perilaku-perilaku tersebut "sangat bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan yang kita berikan". TENTU SAJA DENGAN DEMIKIAN BERKURANG ATAU SEMAKIN MENINGKATNYA PERILAKU DELINKUEN DIKALANGAN REMAJA AKAN SANGAT TERGANTUNG DENGAN KETERAMPILAN KITA DALAM BERHUBUNGAN SOSIAL DENGAN MEREKA. JIKA KITA TIDAK DAPAT MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN TERSEBUT, TENTU PERILAKU REMAJA KITA AKAN DIKENDALIKAN OLEH PARA ARTIS IDOLAH MEREKA.

2. FAKTOR KELEKATAN
Disekitar penghujung tahun 1960-an, seorang produser televisi bernama Joan Gantz Cooney berniat memicu sebuah epidemi. Cooney berniat membuat sebuah program televisi yang fokus pada mengajarkan anak-anak usia tiga, empat dan liam tahun untuk membaca dan menulis. Program tersebut diberi nama Sesame Street dan untuk tujuan tersebut Cooney mengajak para profesional untuk bergabung. Cooney juga melibatkan seorang psikolog dari Harvad University yaitu Gerald Lesser. Lesser yang notabene adalah seorang psikolog pada mulanya merasa pesimis bahwa program Sesame Streeet ini akan berhasil, karena menurutnya untuk mengembangkan keterampilan membaca dan menulis butuh banyak proses, mulai dari identifikasi kapasitas intelektual anak sampai pada pengenalan pribadi masing-masing anak.
Tetapi yang sangat mengejutkan, ternyata program ini berhasil, tidak hanya berhasil menciptakan budaya membaca dan menulis pada anak-anak, program ini juga berhasil meningkatkan prestasi belajar anak di sekolah. Apa rahasia dari keberhasilan ini?, jawabannya adalah Sesame Street mampu menjadikan program yang dibuatnya menjadi sesuatu yang melekat sticky dikalangan anak-anak. Kelekatan itu terbentuk dari penggunaan animasi hidup ala kartun-kartun yang ada di surat kabar untuk mengajarkan cara belajar alfabet, program ini juga menghadirkan para selebriti untuk berdansa dan bernyanyi, selain itu program ini juga melibatkan komedian untuk mengajarkan manfaat kerjasama atau bicara soal emosi.

YANG BISA DIAMBIL PELAJARAN BAGI ORANG TUA & PARA PENDIDIK
Sebuah pesan akan mampu mempengaruhi perilaku, jika pesan tersebut disampaikan dengan memanfaatkan media atau sesuatu yang dapat menciptakan kelekatan pada orang yang menerima pesan, sebagaimana telah digambarkan oleh Gladwell diatas. Coba kita perhatikan sekarang, kenapa para remaja dan pelajar kita lebih suka menghabiskan waktunya untuk mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Pasyah ungu, Peterpan, The Titan, Kangen Band, Ada Band, Hijau Daun, D' Masiv, Changcutter, St-12 dan masih banyak lagi dan kenapa para pelajar kita lebih suka dan lebih mudah menghafalkan lagu-lagu percintaan daripada harus menghafal materi pelajaran di sekolah. Jawabannya adalah, karena para group band yang saya sebutkan diatas mampu menghadirkan sesuatu yang melekat pada remaja dan para pelajar kita lewat lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Tentu saja sebagai orang tua dan para pendidik pada akhirnya kita dituntut untuk mampu menghadirkan sesuatu yang dapat membuat para pelajar dan remaja kita lekat dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Untuk tujuan ini tentu saja orang tua dan para pendidik harus memiliki pemahaman tentang minat, kepribadian, serta bakat yang dimiliki mereka, sehingga kita dapat mengarahkan mereka pada suatu kegiatan yang melekat pada diri mereka.

Kalau sebagai orang tua dan para pendidik kita tidak mampu menghadirkan sesuatu yang melekat pada diri mereka. Tentu saja mereka akan lebih memilih pesan-pesan yang disampaikan lewat lagu-lagu yang dinyanyikan oleh band-band kesukaannya daripada harus mendengarkan psan-pesan yang kita sampaikan yang menurut mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan (tidak ada kelekatan). Bisa dibayangkan kalau remaja kita lebih terpengaruh dengan pesan-pesan yang disampaikan lewat lagu-lagu group band idolah mereka, dimana pesan yang disampaikan tidak jarang bertentangan dengan nilai-nilai yang kita ajarkan. Ambil contoh lirik lagu berikut: "Putus nyambung-putus nyambung...." "Jadikan aku yang kedua..." dan masih banyak lagi, tentunya para pembaca lebih tau....belum lagi pesan-pesan yang disampaikan lewat film-film remaja yang belakangan ini semakin tidak mempertimbangkan dampak negatif terhadap perkembangan para remaja kita. Tentu saja tidak menjadi sesuatu yang mengherankan jika semakin hari kenakalan remaja semakin meningkat.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...

Jumat, 20 Februari 2009

DIAGNOSIS GANGGUAN PERKEMBANGAN PERVASIF

Pedoman diagnosis gangguan perkembangan pervasif, ADHD, Retardasi Mental, Speech Delay,dan Celebral Palsy ini sengaja saya hadiahkan untuk para pengunjung blog suhadianto.blogspot.com dan h2dy.wordpress.com yang lagi pingin mendalami ilmu tentang penanganan anak dengan berkebutuhan khusus. Mengingat banyaknya tulisan dan biar pembaca langsung bisa mengkopi paste ke PC tanpa harus mengatur ulang, maka saya persembahkan tulisan ini kepada pembaca dalam bentuk MS. Word.UNDUH FILE-NYA DISINI.


Biar lebih mantap untuk mengunduh filenya, silahkan lihat daftar isinya dibawah ini:
1. Early Infantile Autism
a. Pengertian Autisme
b. Gejala-gejala yang nampak
c. Tahap Perkembangan Motorik Halus Pada Anak Normal
d. Tahap Perkembangan Bahasa Pada Anak Normal
e. Kriteria diagnostik
f. Pedoman dalam Melakukan Observasi Untuk Keperluan Diagnosis
g. Penyebab Autisme
h. Beberapa Gangguan yang Menyertai Autis
i. Penggolongan Autism
j. Penanganan
k. Terapi yang Terpadu

2. Asperger
a. Sejarah
b. Kriteria Diagnostik Asperger
c. Skala Asperger

3. Kriteria Diagnostik Gangguan Rett

4. Kriteria Diagnostik Gangguan Disintegratif Masa Anak-Anak

5. ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders)
a. Pola Perhatian
b. Prevalensi Kejadian
c. Kriteria Diagnostik
d. Faktor Penyebab
e. Gangguan yang Menyertai

6. Retardasi Mental
a. Kriteria Diagnostik
b. Klasifikasi RM
c. Faktor Penyebab
d. Karakteristik Perkembangan Orang RM

7. Celebral Palsy
a. Gejala-gejala Gangguan
b. Klasifikasi CP
c. Gangguan yang Menyertai
8. Speech Delay
a. Kriteria Diagnostik
b. Penyebab

9. Metode Appliade Behavioral Analisys
a. Sejarah
b. Dasar-dasar Teori Loovas
c. Prosedur Pengajaran
- Shaping
- Chaining
- Prompting
- Fading
- Differential Reinforcment
d. Beberapa Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Melakukan Terapi
- Perilaku Autistik
- Metode Pengajaran
- Persiapan
- Kurikulum
- Instruksi

UNTUK PEMBACA SETIA SUHADIANTO BLOGSPOT.COM YANG TINGGAL DI SURABAYA DAN SEKITARNYA. KALAU PEMBACA PINGIN MENDALAMI CARA PENANGANAN ATAU PINGIN MENJADI TERAPIS UNTUK ANAK DENGAN KEBUTUHAN KHUSUS DAPAT BERGABUNG DENGAN QUANTUM SPECIAL NEED TRAINING CENTER. ALAMATNYA DI JALAN RAYA KEDUNGASEM PN-05 RUNGKUT SURABAYA. ATAU BISA TELPON KE 031 878713188.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...

Kamis, 19 Februari 2009

PERKELAHIAN PELAJAR: SIAPA YANG HARUS DISALAHKAN

PERKELAHIAN PELAJAR: SIAPA YANG HARUS DISALAHKAN
FAKTA
Perkelahian pelajar memang bukan merupakan masalah baru di Indonesia, tilik saja data Bimmas Polri Metrojaya Jakarta misalnya mencatat jumlah kasus perkelahian pelajar sebanyak 157 pada tahun 1992, meningkat menjadi 183 pada tahun 1994, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 tercatat sebanyak 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas (Tambunan, 2001). Terlihat dari tahun ke-tahun jumlah kasus perkelahian pelajar semakin meningkat, belakangan justeru perkelahian pelajar tidak hanya terjadi pada para pelajar putra tetapi juga banyak terjadi dikalangan pelajar putri. Mungkin para pembaca belum lupa dengan kasus perkelahian gank Nero di Pati, perkelahian pelajar putri di Yogyakarta, dan terakhir kemarin (17/02/2009) liputan 6 SCTV kembali memberitakan perkelahian pelajar putri di Nusa Tenggara Timur, dan hari ini (18/02/2009) sebelum saya memutuskan untuk menulis masalah perkelahian pelajar, Lipulan 6 siang kembali memberitakan tentang pelecehan seksual dengan motif menelanjangi salah satu temannya secara beramai-ramai di dalam kelas. Fakta-fakta ini sungguh sangat menggelikan dan mencoreng lembaga pendidikan di Indonesia dan harus mendapat perhatian yang serius dari berbagai kalangan.

Kalau dulu Paul W Tappan (dalam Atmasasmita, 1985) dan Hurlock (1993) menegaskan bahwa yang membedakan kenakalan antara remaja putra dan putri adalah lebih pada jenis kenakalannya, dimana perilaku-perilaku seperti gelandangan, pergi dari rumah, melanggar lalu lintas lebih sering dilakukan oleh remaja putra. Tampaknya gagasan tersebut semakin tidak relevan dengan kondisi sekarang, hal ini dapat diartikan bahwa perilaku-perilaku remaja kita saat ini telah terlalu jauh mengabaikan nilai-nilai sosiokultural bangsa. Lalu siapa yang harus disalahkan?, apakah masalah kelas ekonomi yang harus disalah?, seperti hipotesis-hipotesis yang selama ini beredar bahwa perkelahian pelajar hanya terjadi pada para siswa dari kelas ekonomi bawah sebagaimana pendapat Albert K. Cohen yang mengatakan bahwa perilaku kenakalan dikalangan remaja adalah disebabkan oleh kecemburuan mereka terhadap remaja-remaja dari kelas ekonomi menengah keatas, sebagai usaha untuk mendapatkan perhatian dari lingkungan sosialnya (Suyatno, 2006). Tentu saja tidak hanya faktor ekonomi yang harus disalahkan, karena faktor ekonomi hanya mempunyai sumbangsih yang tidak begitu signifikan terhadap munculnya perilaku perkelahian pelajar, justeru para orang tua dan para gurulah yang harus disalahkan.

Kenapa harus orang tua yang disalahkan? BACA PENGARUH POLAH ASUH DISINI. dan kenapa harus guru yang disalahkan? mungkin beberapa pertanyaan ini perlu kita renungkan. Sudahkan sekolah mempunyai tenaga Bimbingan dan Konseling?, Kalau sudah, sudahkan tenaga Bimbingan Konseling (BK) menjalankan prosedur penanganan siswa?, Sudahkah tenaga BK melakukan deteksi permasalahan siswa?, Sudahkah tenaga BK melakukan deteksi sosiometri terhadap siswa?, Sudahkah tenaga BK memberikan layanan orientasi, layanan informasi, layanan bimbingan karir, layanan bimbingan belajar, layanan bimbingan sosial, layanan bimbingan pribadi dan layanan konseling?, dan sudahkah sekolah memiliki kualitas pengajaran yang baik?. Kalau beberapa pertanyaan tersebut jawabannya adalah Ya tidak akan kita jumpai lagi kasus-kasus perkelahian pelajar atau sejenisnya.


FAKTOR PENYEBAB PERILAKU DELINKUEN
setidaknya ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan pelajar terlibat pada perilaku perkelahian antar pelajar:
1. Faktor internal, Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks, Kompleks disini berarti adanya keaneka ragaman pandangan, budaya, sosial, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Pada remaja yang terlibat perkelahian adalah disebabkan oleh ketidak mampuan remaja dalam memanfaatkan situasi yang ada untuk mengembangkan dirinya (Tambunan, 2001). Jelasnya bahwa pelajar yang terlibat perkelahian mengindikasikan adanya gangguan emosional yang kurang baik, sehingga mereka sulit untuk mengontrol emosi dan cenderung menghadapi tekanan dengan agresif. Menurut Goleman (1997) koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Seorang yang pandai menyesuaikan diri atau dapat berempati, ia memiliki tingkat emosional yang baik. Kecerdasan emosional lebih untuk memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan serta mengatur kejiwaan. Disinilah pentingnya lembaga pendidikan memiliki tenaga Bimbingan dan Konseling yang selalu siap untuk memberikan bimbingan pribadi dan bimbingan sosial kepada peserta didiknya, supaya tidak terjadi perkelahian pelajar atau perilaku-perilaku agresif lainnya yang disebabkan oleh ketidak matangan pribadi siswa.

2. Faktor keluarga, Rumah tangga yang dipenuhi dengan kekerasan, rumah tangga yang broken home, rumah tangga yang tidak memberikan kehangatan dan ruang untuk berdiskusi juga sangat berpengaruh terhadap munculnya perilaku perkelahian pelajar. Menurut Santrock & Warsak (1979) anak-anak yang mendapatkan pendidikan secara otoriter pada perkembangannya justeru akan memiliki perilaku-perilaku yang antisosial (Santrock, 1995). disinilah pentingnya pemahaman tentang polah asuh bagi orang tua.

3. Faktor sekolah, Apakah sekolah telah memiliki fasilitas-fasilitas belajar yang dibutuhkan oleh siswa, apakah lingkungan sekolah mendukung untuk pengajaran, apakah lingkungan kelas dirasa aman dan nyaman oleh para siswa, apakah materi pelajaran tidak terlalu memberatkan siswa, apakah siswa telah mendapatkan layanan orientasi, bimbingan belajar dan lain sebagainya juga perlu diperhatikan, karena jika kondisi-kondisi tersebut tidak diperhatikan akan dapat menyebabkan terjadinya perilaku kenakalan. Aturan-aturan yang tegas di sekolah juga sangat diperlukan, sebab jika sekolah tidak menerapkan aturan-aturan yang tegas, maka akan sangat mungkin terjadi pelanggaran-pelanggaran atau muncul perilaku-perilaku agresif di sekolah. disinilah pentingnya sekolah memiliki tenaga guru Bimbingan Konseling dan disinilah pentingnya guru BK yang ada disekolah melakukan identifikasi permasalahan siswa, melakukan identifikasi kondisi sosial siswa atau sosiometri untuk mendeteksi permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi oleh siswa dan untuk mengetahui kemungkinan adanya kelompok-kelompok gank di sekolah. Sebagai bentuk usaha pencegahan terhadap munculnya perilaku-perilaku asosial di sekolah.

4. Faktor lingkungan, menurut teori pertukaran sosial sesama individu dapat saling bertukar baik berupa materi maupun non materi (Klein dan White, 1996 dalam Puspitawati, 2006). Pendapat ini didukung oleh teori Differential Association menurut teori yang digagas oleh E. Suthedand ini perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja pada dasarnya adalah merupakan sesuatu yang dapat dipelajari. Asumsi yang mendasarinya adalah "a criminal act accors when situation apropriate for it, as defined by the person, is present' (Rose Gialombardo, 1972 dalam Suyatno, 2006). Artinya lingkungan diantara sekolah dan rumah juga perlu mendapatkan perhatian baik oleh pihak orang tua maupun oleh pihak sekolah, dengan memberikan bimbingan-bimbingan keterampilan sosial supaya siswa tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik. Dengan bimbingan dan kontrol yang tegas dari orang tua, remaja tidak akan sampai terjerumus kepada cara penyelesaian masalah yang salah, seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini. Menurut teori kontrol pada dasarnya individu dalam masyarakat mempunyai kecenderungan yang sama kemungkinannya, yakni tidak melakukan penyimpangan perilaku (baik) dan berperilaku menyimpang (tidak baik). Baik tidaknya perilaku individu sangat bergantung pada kondisi masyarakatnya. Artinya perilaku baik dan tidak baik diciptakan oleh perilaku masyarakatnya sendiri (Hagan, 1987 dalam Suyatno, 2006). Telah cukup jelas kiranya disini siapa yang harus disalahkan. Sekali lagi yang dapat membuat siswa berperilaku agresif atau tidak adalah lingkungan dimana siswa itu berada.


KESIMPULAN
Perkelahian pelajar pada dasarnya tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi saja, tetapi yang lebih banyak mempengaruhi terjadinya perkelahian pelajar adalah faktor internal (ketidak matangan diri), faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor lingkungan. Demi masa depan anak-anak bangsa yang nantinya akan menjadi generasi penerus, mari kita berasama-sama introspeksi diri, apakah kita sudah menjadi orang tua yang baik buat anak-anak kita?, apakah kita sudah menyediakan lingkungan keluarga yang sehat dan penuh kehangatan buat anak-anak kita?, apakah kita sudah mau mendengarkan keluh kesah anak-anak kita?, apakah kita sudah menjadi guru yang baik?, apakah sekolah sudah memberikan layanan orientasi, layanan informasi, layanan bimbingan dan layanan konseling untuk siswa-siswa kita?, dan apakah lingkungan sekolah kita sudah memberikan rasa aman dan nyaman untuk kegiatan belajar mengajar?. Mudah-mudahan tulisan ini bisa mengusik ketenangan kita terhadap kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan, menuju suatu perubahan untuk kesejahteraan bersama dan tidak ada lagi yang namanya perkelahian pelajar, amin.



PROSEDUR PEMBERIAN BIMBINGAN DAPAT DILIHAT DISINI.Materi dalam bentuk power point, materi ini sangat bagus jadi wajib dibaca oleh para pendidik, saya mendapatkannya dari om google, tapi saya lupa alamat web-nya, jadi saya mohon maaf pada sang penulis karena tidak bisa menyertakan alamat web anda.

PRINSIP PEMBERIAN BIMBINGAN DAN PROSES KONSELING DAPAT DILIHAT DISINI.Materi dalam bentuk power point, materi ini sangat bagus jadi wajib dibaca oleh para pendidik, saya mendapatkannya dari om google, tapi saya lupa alamat web-nya, jadi saya mohon maaf pada sang penulis karena tidak bisa menyertakan alamat web anda.

IDENTIFIKASI SOSIOMETRI SISWA DAPAT DILIHAT DISINI.Materi dalam bentuk file PDF, materi ini sangat bagus jadi wajib dibaca oleh para pendidik, saya mendapatkannya dari om google, tapi saya lupa alamat web-nya, jadi saya mohon maaf pada sang penulis karena tidak bisa menyertakan alamat web anda.


DAFTAR PUSTAKA
Tambunan, Raimon.2001, Perkelahian Pelajar, dalam http://e-psikologi.com, diakses 2004.

Hurlock, EB. 1993, Psikologi Perkembangan Edisi-5, (Jakarta:Erlangga).

Atmasasmita, Romli. 1985 , Problem-problem Kenakalan Anak atau Remaja, (Bandung:Armiko)

Suyatno, Bagong. 2006, Memahami Remaja Dari Berbagai Perspektif Kajian Sosiologis, dalam http://bkkbn.go.id., diakses 2006.

Santrock, John W. 1995.Perkembangan Masa Hidup jilid 2. Terjemahan oleh Juda Damanika & Ach. Chusairi, (Jakarta:Erlangga).

Puspitawati, Herien. 2006, Perilaku Kenakalan Remaja:Pengaruh Lingkungan Keluarga dan Atau Pengaruh Lingkungan Teman.



KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...

Selasa, 17 Februari 2009

KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

Selain memberikan materi cara belajar efektif saya juga memberikan materi Kesehatan Reproduksi Remaja pada siswa siswi SMP Ta'miriyah, hal ini dilandasi oleh alasan pentingnya informasi tentang kesehatan reproduksi bagi para remaja, sebagai upaya pencegahan.

Rasional

Kesehatan Reproduksi adalah termasuk salah satu dari sekian banyak problem remaja yang perlu mendapat perhatian bagi semua kalangan, baik orang tua, guru, dan maupun konselor sekolah. Mengingat belakangan ini perilaku & pergaulan remaja dengan lawan jenisnya (pacaran) telah mengarah pada perilaku seks dan mengabaikan substansi dalam menjalin hubungan, yang pada dasarnya adalah sebagai ruang belajar dalam bersosialisasi, komunikasi, mengungkapkan emosi, dan berkomitmen.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh SMA Negeri 2 Denpasar kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, World Population Foundation (WPF), lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang berkantor pusat di Belanda, dan Kita Sayang Remaja (Kisara) Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali pada April 2007 yang lalu, diperoleh informasi bahwa dari 766 responden terdapat 526 responden yang menyatakan mereka telah melakukan aktivitas seksual seperti pelukan, 458 responden sudah berciuman bibir, 202 responden sudah pernah mencium leher (necking), disusul 138 responden sudah menggesek-gesekkan alat kelamin tanpa berhubungan seks (petting), 103 responden sudah pernah hubungan seksual, dan 159 menyatakan aktivitas seksual lain selain yang disebutkan tadi.

Hasil penelitian Persatuan Keluarga Berencana Indonesia pada tahun 2002 diperoleh informasi bahwa minimnya pengetahuan remaja mengenahi kesehatan reproduksi remaja dapat menjerumuskan remaja pada perilaku seks pra nikah dan sebaliknya, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja dapat menunda prilaku seks pra nikah dikalangan remaja. Sementara itu hasil penelitian Soetjiningsih terhadap 398 siswa SMA di Yogyakarta menunjukkan bahwa dari 84% siswa yang tidak setuju dengan perilaku seks pra nikah, 95% dari mereka menyatakan pernah mendapat pendidikan yang berkaitan dengan seksualitas, dan mereka (94.80%) juga setuju dengan pemberian pendidikan seks bagi kalangan remaja dan figure yang dianggap cocok memberikan pendidikan seks adalah dokter, psikolog dan seksolog.Berangkat dari fakta diatas maka sangat dianggap penting untuk memberikan materi KESPRO kepada peserta didik.


Tujuan

Siswa dapat memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta memiliki wawasan mengenai fungsi, peran, serta sistem reproduksi remaja.

Target

Siswa memiliki kesadaran pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta memiliki keberanian dalam mengkomunikasikan masalah-masalah yang berkaitan dengan reproduksi kepada orang tua dan guru pembimbing di sekolah.


Cara Pelaksanaan Kegiatan
Materi diberikan dalam bentuk ceramah dan diskusi agar dapat terjalin komunikasi dan diperoleh informasi yang akurat mengenai masalah-masalah kesehatan reproduski remaja yang sedang dialami oleh siswa-siswi. Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan program ini adalah sebagai berikut:
1) Penyampaian materi dan diskusi.
2) Melakukan evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami materi yang telah diberikan.
3) Meminta siswa untuk melaporkan masalah KESPRO yang sedang dialami dalam bentuk tulisan.
4) Melakukan konseling kepada siswa yang mempunyai permasalahan KESPRO.


Materi
Materi yang akan disampaikan terdiri dari beberapa sub pokok bahasan, sebagai berikut: Pengertian kesehatan reproduksi remaja, tumbuh kembang remaja, pacaran sehat, penyakit menular seksual MATERI KESPRO DAPAT DIUNDUH DISINI..

Alat yang Diperlukan
Laptop, LCD Prjector, Alat tulis.


DAFTAR PUSTAKA

Qomariyah, 2002. Siti Nurul, Ringkasan Penelitian Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Dikalangan Siswa SMP, dalam http://www.bkkbn.com, diakses 22 Oktober 2008.

Soetjiningsih, 2008, Remaja Usia 15 - 18 Tahun Banyak Lakukan Perilaku Seksual Pranikah, dalam http://www.gadjahmada.edu.

http://www.resep.web.id. (Menyuguhkan informasi seputar tips-tips untuk menjaga kesehatan reproduksi).

http://www.bnn.com. (Menyuguhkan informasi & video seputar peredaran narkoba di Indonesia dan bahaya penyalah gunaan narkoba).



KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.

Continue Reading...

KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA



Selain memberikan materi cara belajar efektif saya juga memberikan materi Kesehatan Reproduksi Remaja pada siswa siswi SMP Ta'miriyah, hal ini dilandasi oleh alasan pentingnya informasi tentang kesehatan reproduksi bagi para remaja, sebagai upaya pencegahan.

Rasional

Kesehatan Reproduksi adalah termasuk salah satu dari sekian banyak problem remaja yang perlu mendapat perhatian bagi semua kalangan, baik orang tua, guru, dan maupun konselor sekolah. Mengingat belakangan ini perilaku & pergaulan remaja dengan lawan jenisnya (pacaran) telah mengarah pada perilaku seks dan mengabaikan substansi dalam menjalin hubungan, yang pada dasarnya adalah sebagai ruang belajar dalam bersosialisasi, komunikasi, mengungkapkan emosi, dan berkomitmen.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh SMA Negeri 2 Denpasar kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, World Population Foundation (WPF), lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang berkantor pusat di Belanda, dan Kita Sayang Remaja (Kisara) Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali pada April 2007 yang lalu, diperoleh informasi bahwa dari 766 responden terdapat 526 responden yang menyatakan mereka telah melakukan aktivitas seksual seperti pelukan, 458 responden sudah berciuman bibir, 202 responden sudah pernah mencium leher (necking), disusul 138 responden sudah menggesek-gesekkan alat kelamin tanpa berhubungan seks (petting), 103 responden sudah pernah hubungan seksual, dan 159 menyatakan aktivitas seksual lain selain yang disebutkan tadi.

Hasil penelitian Persatuan Keluarga Berencana Indonesia pada tahun 2002 diperoleh informasi bahwa minimnya pengetahuan remaja mengenahi kesehatan reproduksi remaja dapat menjerumuskan remaja pada perilaku seks pra nikah dan sebaliknya, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja dapat menunda prilaku seks pra nikah dikalangan remaja. Sementara itu hasil penelitian Soetjiningsih terhadap 398 siswa SMA di Yogyakarta menunjukkan bahwa dari 84% siswa yang tidak setuju dengan perilaku seks pra nikah, 95% dari mereka menyatakan pernah mendapat pendidikan yang berkaitan dengan seksualitas, dan mereka (94.80%) juga setuju dengan pemberian pendidikan seks bagi kalangan remaja dan figure yang dianggap cocok memberikan pendidikan seks adalah dokter, psikolog dan seksolog.Berangkat dari fakta diatas maka sangat dianggap penting untuk memberikan materi KESPRO kepada peserta didik.


Tujuan

Siswa dapat memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta memiliki wawasan mengenai fungsi, peran, serta sistem reproduksi remaja.

Target

Siswa memiliki kesadaran pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta memiliki keberanian dalam mengkomunikasikan masalah-masalah yang berkaitan dengan reproduksi kepada orang tua dan guru pembimbing di sekolah.


Cara Pelaksanaan Kegiatan
Materi diberikan dalam bentuk ceramah dan diskusi agar dapat terjalin komunikasi dan diperoleh informasi yang akurat mengenai masalah-masalah kesehatan reproduski remaja yang sedang dialami oleh siswa-siswi. Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan program ini adalah sebagai berikut:
1) Penyampaian materi dan diskusi.
2) Melakukan evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami materi yang telah diberikan.
3) Meminta siswa untuk melaporkan masalah KESPRO yang sedang dialami dalam bentuk tulisan.
4) Melakukan konseling kepada siswa yang mempunyai permasalahan KESPRO.


Materi
Materi yang akan disampaikan terdiri dari beberapa sub pokok bahasan, sebagai berikut: Pengertian kesehatan reproduksi remaja, tumbuh kembang remaja, pacaran sehat, penyakit menular seksual MATERI KESPRO DAPAT DIUNDUH DISINI..

Alat yang Diperlukan
Laptop, LCD Prjector, Alat tulis.


DAFTAR PUSTAKA

Qomariyah, 2002. Siti Nurul, Ringkasan Penelitian Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Dikalangan Siswa SMP, dalam http://www.bkkbn.com, diakses 22 Oktober 2008.

Soetjiningsih, 2008, Remaja Usia 15 - 18 Tahun Banyak Lakukan Perilaku Seksual Pranikah, dalam http://www.gadjahmada.edu.

http://www.resep.web.id. (Menyuguhkan informasi seputar tips-tips untuk menjaga kesehatan reproduksi).

http://www.bnn.com. (Menyuguhkan informasi & video seputar peredaran narkoba di Indonesia dan bahaya penyalah gunaan narkoba).



KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT
.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF
.
Continue Reading...

CARA BELAJAR EFEKTIF


Dua bulan terakhir saya juga memberikan materi cara belajar efektif pada sebagian siswa SMP Ta'miriyah Surabaya. Tetapi karena keterbatasan waktu, saya belum sempat melakukan penelitian tentang pengaruh pemberian materi ini terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Ya... meskipun secara teoritis telah sangat jelas bahwa pemahaman siswa tentang cara belajar efektif akan sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar, tetapi karena belum melakukan pengukuran, rasanya....masih kurang sreg. Daripada BeTe akhirnya saya putuskan untuk berbagi dengan para pengunjung setia blog ini, ya....siapa tau ada yang mau menggunakan materi ini untuk pemberian bimbingan belajar pada siswa atau adik-adiknya, atau......saya akan lebih senang lagi kalau ada yang mencoba meneliti pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa, ya....beginiliah saya....lebih senang berbagi.....meskipun mungkin materi ini masih terlalu jelek... tapi muda-mudahan bermanfaat. He...kok jadi ngelantur ya, kembali ke topik utama, buat yang tertarik dengan materi ini silahkan lanjutkan bacanya dan unduh materinya.


Rasional

“buat apa saya belajar?, setiap hari saya belajar tapi nilai saya tetap jelek, setiap hari saya belajar tetapi pada waktu ujian saya masih mengalami kesulitan”. Ungkapan seperti ini sering kita dengar dari para siswa di sekolah. Kenapa keluhan-keluhan seperti ini selalu dialami oleh para siswa, salah satu penyebabnya adalah cara belajar siswa yang belum memenuhi kaedah-kaedah belajar efektif. Kebanyakan para siswa belajar dengan kondisi yang tidak menyenangkan, emosi yang negatif, tidak mengenali gaya belajarnya, dan kebanyakan siswa kurang memperhatikan pengaruh kondisi fisik terhadap kerja otak, sehingga informasi yang diterima tidak dapat tersimpan dengan baik dalam ingatan. Bobbi De Porter & Mike Hernacki (2003) dalam Quantum Learning menegaskan akan pentingnya memperhatikan emosi, kondisi fisik & lingkungan saat belajar karena hal itu dapat mempengaruhi kemampuan otak dalam menyimpan informasi yang diterima.


Menurut MacLean, otak manusia memiliki tiga bagian dasar yang seluruhnya dikenal sebagai triune brain atau three in one brain (dalam Mu’tadin, 2002). Bagian pertama adalah batang otak, bagian kedua sistem limbik dan bagian ketiga adalah neokorteks. Ketiga-tiganya harus diperhatikan dalam proses belajar, karena kesemuanya memiliki fungsi yang saling berkaitan dalam mempertahankan informasi yang telah diterima oleh indera manusia.


Tujuan

Siswa memiliki sikap serta kebisaaan belajar yang efektif dan efisien, baik dalam mencari informasi maupun sumber-sumber belajar yang lain.


Target

1) Siswa dapat memahami pentingnya belajar efektif untuk mengoptimalkan hasil belajar.
2) Siswa memiliki pengalaman belajar efektif yang selanjutnya dapat menerapkan dalam kegiatan belajarnya di rumah.


Cara Pelaksanaan Kegiatan

Materi cara belajar efektif ini disampaikan dengan beberapa metode, yaitu: 1. metode ceramah untuk memberi wawasan kepada siswa tentang hal-hal yang harus diketahui dalam belajar efektif, 2. Metode praktek model untuk meberikan pengalaman kepada siswa tentang cara belajar efektif (aplikasinya adalah dengan memperdengarkan musik kitaro dan musik Mozart sebagai pengiring belajar), 3. Metode game atau permainan, 4. Metode pembimbingan untuk memberikan bimbingan kepada siswa agar dapat mengetahui gaya belajarnya masing-masing.

Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan program ini adalah sebagai berikut:
1) Penyampaian materi dengan media LCD Projector dan dengan iringan musik kitaro dan Mozart.

2) Membimbing siswa untuk mengetahui gaya belajar mereka dengan menggunakan pedoman ciri-ciri gaya belajar menurut Deporter & Hernacki (2003).PEDOMAN DETEKSI GAYA BELAJAR DAPAT DILIHAT DISINI.

3) Melakuka evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami materi yang telah diberikan.



Materi
Materi cara belajar efektif yang akan diberikan terdiri dari sub pokok bahasan sebagai berikut: Pengertian belajar efektif, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam belajar efektif, pengaturan jadual belajar efektif, membuat rencana jadwal belajar efektifMATERI DAPAT DILIHAT DISINI. Adapun game yang digunakan adalah game untuk manajemen waktu GAME YANG DIGUNAKAN DAPAT DILIHAT DISINI.


Alat yang Diperlukan
Laptop, LCD Projektor, Alat tulis, 1 buah toples kecil, beras secukupnya, 8 buah bola pingpong.


DAFTAR PUSTAKA

DePorter, Bobbi & Mike Hernacki 2003, Quantum Learning, Bandung:Kaifa.

Mu’tadin Zainul, 2002. Mengenal Cara Belajar Individu, dalam http://www.e-Psikologi.com, diakses 22 Oktober 2008.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...

PENTINGNYA MENGENAL KEPRIBADIAN SISWA UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI


KENAPA MENGETAHUI TIPE KEPRIBADIAN MENJADI PENTING?

Sebagian dari kita mungkin masih menyimpan tanda tanya Kenapa mengenal kepribadian siswa menjadi penting untuk meningkatkan prestasi?. Baik, saya akan mencoba menjelaskan sebisa saya. Diantara kita mungkin pernah mengalami hal-hal sebagai berikut:
1. Merasa kesal dengan siswa yang susah diatur.

2. Merasa kesal dengan siswa yang cerewet sedikit-sedikit bertanya, sedikit-sedikit bertanya.

3. Merasa kesal dengan siswa yang bersikap dingin pada kita.

4. Merasa kesal dengan siswa yang "bodoh" atau sulit sekali memahami pelajaran yang kita berikan.

5. Merasa kesal dengan siswa yang keras hati dan mudah emosi.

6. Merasa kesal dengan siswa yang bicaranya kasar.

7. Merasa kesal dengan siswa yang tidak bertanggung jawab.

8. Merasa kesal dengan siswa yang hanya diam saja dikelas, kalau tidak ditanya tidak bicara.

9. Merasa kesal dengan siswa yang mudah tersinggun.

10. Merasa kesal dengan siswa yang lamban dalam mengerjakan tugas.


Kekesalan-kekesalan kita pada dasarnya adalah disebabkan oleh ketidak tahuan kita terhadap tipe kepribadian masing-masing siswa, sehingga kita sering kesal dengan sikap-sikap siswa yang tidak sesuai dengan keinginan kita, kemudian memarahi, tanpa memahami, dan tanpa memberikan solusi yang sesuai dengan pribadi dan kebutuhan siswa. Inilah yang saya maksudkan dengan pentingnya mengenal tipe kepribadian siswa. Mungkin kita tidak sadar, bahwa sikap memarahi yang kita lakukan kepada siswa kita yang tidak pernah bertanya di kelas, bisa menyebabkan siswa malah menjadi minder, malas belajar dan semakin tidak memiliki keberanian di kelas, kenapa ini bisa terjadi?, karena pada dasarnya siswa yang bersangkutan diam bukan disebabkan karena dia tidak tertarik dengan pelajaran, tetapi lebih disebabkan oleh tipe kepribadian introvert yang ada pada dirinya sehingga dia cenderung pendiam. Kesalahan kita adalah, sebenarnya kita harus memotivasinya dan bukan sebaliknya memarahinya. Semoga contoh ini bisa memberi pengertian pada pembaca tentang pentingnya mengenal tipe kepribadian siswa.


APA ITU KEPRIBADIAN

Atkinson (1996) dalam bukunya Pengantar Psikologi Jilid-2 mendefinisikan kepribadian sebagai pola perilaku dan cara berfikir yang khas, yang menentukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan. Istilah khas menyiratkan adanya konsistensi perilaku, bahwa orang cenderung untuk bertindak atau berfikir dengan cara tertentu dalam berbagai situasi. Sementara itu menurut Kelly (dalam Koeswara, 1991) kepribadian diartikan sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Menurut Wheeler (dalam Patty, 1982) kepribadian adalah pola khusus atau keseimbangan daripada reaksi-reaksi yang teratur yang menampakkan sifat khusus individu diantara individu-individu yang lain.Sedangkan menurut Sigmund Freud sang pendiri aliran Psikoanalisa (dalam Koeswara, 1991) memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem, yakni id (dorongan, atau nafsu), Ego (diri) dan superego (nilai yang diintroyeksikan melalui pendidikan). Menurutnya tingkah laku, tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kepribadian tersebut.

Menurut Hall (1998) kepribadian merupakan hakekat keadaan manusiawi, yaitu bahwa kepribadian merupakan bagian dari individu yang paling mencerminkan atau mewakili pribadi, bukan hanya dalam arti bahwa ia membedakan individu tersebut dari orang lain, tetapi yang lebih penting, bahwa itulah ia yang sebenarnya. Alport (1971) dalam Sarwono (2002) mendefinisikan kepribadian sebagai berikut: "Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical system that determine his unique adjustments to his environment" berdasar pada definisi Alport tersebut kepribadian memiliki unsur-unsur sebagai beikut (Sarwono (2002):
1. Organisasi yang dinamis. Tidak statis, tetapi selalu berubah setiap waktu.

2. Organisasi itu terdapat dalam diri individu, dan tidak meliputi hal-hal diluar individu.

3. Organisasi itu terdiri atas sistem psikis, yaitu sifat, bakat, dan sebagainya, dan sistem fisik yaitu anggota dan organ-organ tubuh yang saling terkait.

4. Organisasi itu menentukan corak penyesuaian diri yang unik dari tiap individu terhadap lingkungannya.


TIPE KEPRIBADIAN

Menurut Mahmud (1990) kepribadian terbagi menjadi dua belas kepribadian, yang meliputi kepribadian sebagai berikut:
1. Mudah menyesuaikan diri, baik hati, ramah, hangat VS dingin.

2. Bebas, cerdas, dapat dipercaya VS bodoh, tidak sungguh-sungguh, tidak kreatif.

3. Emosi stabil, realistis, gigih VS emosi mudah berubah, suka menghindar evasive, neurotik.

4. Dominat, menonjolkan diri VS suka mengalah, menyerah.

5. Riang, tenang, mudah bergaul, banyak bicara VS mudah berkobar, tertekan, menyendiri, sedih.

6. Sensitif, simpatik, lembut hati VS keras hati, kaku, tidak emosional.

7. Berbudaya, estetik VS kasar, tidak berbudaya.

8. Berhati-hati, tahan menderita, bertanggung jawab VS emosional, tergantung, impulsif, tidak bertanggung jawab.

9. Petualang, bebas, baik hati VS hati-hati, pendiam, menarik diri.

10. Penuh energi, tekun, cepat, bersemangat VS pelamun, lamban, malas, mudah lelah.

11. tenang, toleran VS tidak tenang, mudah tersinggung.

12. Ramah, dapat dipercaya VS curiga, bermusuhan.

Menurut Eysenck (1964) tipe kepribadian dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Kepribadian Ekstrovert :dicirikan dengan sifat sosiabilitas, bersahabat, menikmati kegembiraan, aktif bicara, impulsif, menyenangkan spontan, ramah, sering ambil bagian dalam aktivitas sosial.

2. Kepribadian Introvert :dicirikan dengan sifat pemalu, suka menyendiri, mempunyai kontrol diri yang baik.

3. Neurosis : dicirikan dengan pencemas, pemurung, tegang, bahkan kadang-kadang disertai dengan simptom fisik seperti keringat, pucat, dan gugup.


PEMBAHASAN

Diatas telah dibahas tentang pengertian kepribadian dan tipe-tipe kepribadian. Telah sangat jelas bahwa yang dimaksud dengan kepribadian adalah suatu cirikhas yang menetap pada diri seseorang dalam berbagai situasi dan dalam berbagai kondisi, yang mampu membedakan antara individu yang satu dengan individu yang lain. Dan diatas juga telah dijelaskan mengenai tipe-tipe kepribadian, ada individu-individu yang bersahabat, menyenangkan, ramah, banyak bicara, impulsif dan sebagainya.

Lalu bagaimana kaitannya dengan peningkatan prestasi belajar?, tentu saja sangat berkaitan. Dalam dunia pendidikan, sebagai seorang pendidik atau dalam lingkup lebih kecil dalam rumah tangga sebagai orang tua kita pasti akan dihadapkan pada berbagai karakteristik kepribadian, ada siswa-siswa yang menyenangkan, periang, mau terbuka terhadap permasalahan yang sedang dihadapinya, aktif dalam berbagai organisasi yang ada di sekolah dan sebaliknya ada siswa-siswa yang terkesan membosankan, pendiam, tidak terbuka, tidak hangat dan lain sebagainya. Tentu saja sebagai seorang pendidik kita sangat dituntut untuk memahami karakteristik kepribadian setiap siswa, sehingga selaku pendidik kita dapat memberikan stimulasi atau perlakuan yang sesuai dengan tipe kepribadian siswa yang kita hadapi. Dengan begitu treatment-treatment yang kita berikan kepada siswa akan mengantarkan siswa kepada suatu kondisi optimal, baik dalam bidang prestasi akademik maupun prestasi non akademik. Tetapi akan menjadi kebalikannya jika treatment-treatment yang kita berikan tanpa mempertimbangkan aspek kepribadian siswa, mungkin karena terguran kita yang terlalu kasar, karena cara kita menyampaikan kurang sesuai dengan pribadi anak, justeru akan mengantarkan peserta didik kedalam kondisi destruktif, delinkuen, tidak berprestasi.

Sebagai contoh Fulan adalah siswa yang peringan, banyak bertanya, tidak mudah puas dengan penjelasan guru di kelas sehingga tidak jarang dia membuat guru bingung dengan pertanyaan-pertanyaannya. Tetapi karena guru tidak memahami kepribadian Fulan yang memang seperti itu, guru sering menegurnya dan memberi peringatan dengan tuduhan terlalu berani dengan guru dan tidak sopan. Pada akhirnya, karena selalu mendapat teguran dari guru yang dianggapnya sebagai sesuatu yang menakutkan (karena disisi lain Fulan adalah pribadi yang cenderung menarik diri) Fulan menjadi siswa yang pendiam takut bertanya, dan malas belajar, dan pada akhirnya prestasinya jeblok. Ini hanya sebuah contoh realitas yang sering terjadi disekitar saya. Mungkin dan bisa jadi pasti, para pembaca juga mempunyai banyak cerita tentang kegagalan dalam memberikan respon, kegagalan dalam memberi perlakuan kepada orang lain, kegagalan dalam berkomunikasi, kegagalan dalam bersosialisasi, kegagalan dalam menjalin hubungan asmara, kegagalan dalam mendidik anak, kegagalan dalam mendidik murid, kegagalan dalam mendidik santri dan lain sebagainya yang disebabkan oleh ketidak fahaman pembaca terhadap karakteristik kepribadian orang yang sedang menjadi lawan bicara kita, patner kerja kita, dan .......


"Berbicara kehidupan manusia sebagai individu memang tidak akan pernah keluar dari kerangka mengenai kepribadian. Kepribadian merupakan konsep dasar psikologs yang berusaha menjelaskan keunikan manusia. Kepribadian mempengaruhi dan menjadi kerangka acuan dari pola pikir, perasaan, perilaku, serta bertindak sebagai aspek fundamental dari setiap individu".




DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, Rita L. 1996, Pengantar Psikologi Jilid-2, Terjemahan oleh Taufiq, (Jakarta:Erlangga).

Koeswara, E. 1991, Teori-teori kepribadian, (Bandung:Eresco).

Patty, F. dkk.1982, Pengantar Psikologi Umum, (Surabaya:Usaha Nasional).

Hall, Calvin S.1998, Teori-teori Psikodinamik, (Yogyakarta:Kanisius).

Sarwono, Sarlito W. 2002, Psikologi Sosial, (Jakarta:Balai Pustaka).

Mahmud, DImyati. 1990, Psikologi Suatu Pengantar, (Yogyakarta:BPFE).



KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA


Pada posting kali ini saya akan berbagi pengalaman kepada para pembaca tentang hasil dari beberapa kegiatan pemberian bimbingan yang telah saya lakukan pada siswa-siswi SMP Ta'mriyah Surabaya pada dua bulan terakhir. Pada posting ini saya akan berbagi pengalaman pemberian motivasi belajar kepada siswa dan manfaatnya terhadap peningkatan motivasi belajar. Adapun alasan pelaksanaan program dan cara pelaksanaannya dapat dilihat dibawah ini.


RASIONAL

MC. Donald (dalam Hamalik, 1992) mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afeksi dan reaksi untuk mencapai tujuan. Menurutnya terdapat tiga unsur yang berkaitan dengan motivasi, yaitu:
1) Motif dimulai dari adanya energi dalam pribadi.
2) Motif ditandai dengan timbulnya perasaan (afectif arousal).
3) Motif ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.

Samuel Soeitoe mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan energi yang berciri timbulnya suatu perasaan yang didahului oleh reaksi-reaksi yang ingin mencapai tujuan. Sementara menurut George R. Terry, Ph.D (dalam Moekjizat, 1984) motivasi adalah keinginan didalam diri individu yang mendorong individu untuk bertindak. Senada dengan Terry, Santrock (2007) mendefinisikan motivasi sebagai suatu proses yang memberi semangat, arah dan kegigihan perilaku.

Terlepas dari beberapa definisi mengenai motivasi sebagaimana telah dijelaskan diatas, motivasi adalah merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu proses belajar mengajar dan perlu mendapat perhatian serius dari para pendidik, karena tanpa motivasi mustahil seorang siswa dapat berhasil di sekolah (Wighfield&Eccles, 2002 dalam Santrock, 2007).

Menurut Sardiman (1996) siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dapat dicirikan sebagai berikut:

1) Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).

2) Ulet menghadapi kesulitan (tidak cepat putus asa).

3) Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapainya).

4) Lebih senang kerja mandiri.

5) Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin.

6) Dapat memperthanankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu).

7) Tidak mudah melepaskan hal yang sudah diyakininya.

8) Senang mencari dan memecahkan soal-soal.
Berdasar akan pentingnya motivasi belajar untuk mencapai suatu tujuan pendidikan maka dibuat program peningkatan motivasi belajar siswa.



TUJUAN
Program ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa SMP Ta’miriyah Surabaya.


TARGET
Setelah pelaksanaan program ini diharapkan siswa dapat lebih bersemangat dan lebih termotivasi dalam mengikuti proses belajar mengajar di sekolah.


CARA PELAKSANAAN KEGIATAN
Program peningkatan motivasi belajar siswa ini dilaksanakan dengan menggunakan dua metode, yaitu: 1. Metode ceramah, dengan cara memberikan cerita-cerita tentang motivasi kepada para siswa, 2. Metode game, dengan cara memberikan game-game yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan program ini adalah sebagai berikut:
1)Penyampaian materi, materi diberikan sebanyak 6 (enam) kali pertemuan pada 10 (sepuluh) kelas yang menjadi tanggung jawab penulis selama melaksanakan praktek kerja, dimana setiap pertemuannya berdurasi 40 menit dan khusus untuk materi cerita akan disampaikan dengan menggunakan media LCD prjector.

2)Evaluasi, evaluasi dilakukan dengan cara pemberian skala motivasi belajar yang disusun berdasar pada ciri-ciri siswa yang memiliki motivasi tinggi menurut Sardiman sebagaimana telah dijelaskan(skala sebelumnya telah dilakukan uji validitas & reliabilitas)kepada 60 siswa yang telah mendapat materi program peningkatan motivasi belajar (diambil dengan teknik random sampling dan menggunakan teknik simple random, yitu dengan menggunakan undian untuk menentukan anggota sampel) dan kemudian dibandingkan dengan nilai skala motivasi belajar pada 60 siswa yang tidak mendapat materi program peningkatan motivasi belajar untuk mengetahui signifikansi pemberian materi terhadap peningkatan motivasi belajar siswa.

SKALA MOTIVASI DIUNDUH DISINI.

CARA PENGHITUNGAN VALIDITAS & RELIABILITAS DAPAT DISINI.

MATERI
Beberapa materi yang akan diberikan adalah: cerita tentang keberhasilan perjuangan sekelompok katak kecil saat menaiki menara, cerita pianis yang hanya punya dua jari, cerita pendaki gunung mount everest dengan menggunakan kaki palsu, cerita pendaki gunung dengan kursi roda, cerita peloncat tinggi mesir yang hanya menggunakan satu kaki, game segitiga kotak dan lingkaran, game I AM SUPER, game elang, game balon besar. MATERI DAPAT DIUNDUH DISINI.



ALAT YANG DIPERLUKAN
Laptop, LCD Projector, Alat tulis, Balon.


PELAKSANAAN KEGIATAN
Kegiatan dilaksanakan selama 6 minggu atau 6 pertemuan pada 10 kelas, dengan perincian 5 kelas siswa kelas VII dan 5 kelas siswa kelas VIII.Selama proses pelaksanaan kegiatan siswa terlihat bersemangat dan antusias, hal ini salah satunya disebabkan oleh penggunaan media LCD Projector, penggunaan animasi,penggunaan cerita dan penggunaan game yang kesemuanya mampu menjadikan suasana kelas lebih menyenangkan, santai tapi tetap serius.


HASIL
Hasil uji-t atau uji perbedaan yang saya lakukan terhadap kedua kelompok, yaitu kelompok siswa yang mendapat materi ini dan kelompok siswa yang tidak mendapat materi ini, menunjukkan adanya perbedaan yang sangat signifikan dengan nilai t hitung sebesar 3.948 adapun taraf signifikansi yang saya gunakan adalah 0.05 atau 5%. Dengan kata lain siswa yang mendapat materi ini memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapat materi ini. Hasil ini sesuai dengan gagasan Santock (2007) bahwa adakalanya siswa dapat termotivasi dari dalam diri (intrinsik) adakalanya siswa termotivasi karena adanya stimulasi dari luar dirinya (ekstrinsik).


CATATAN
Tentu saja hasil percobaan yang saya lakukan ini masih banyak kekurangan disana sini, kritik dan saran sangat saya butuhkan untuk pengembangan materi. Tetapi paling tidak saya dapat berbagi pada pembaca, bahwa pemberian motivasi oleh guru kepada siswa dalam proses pembelajaran sangatlah penting. Guru tidak seharusnya hanya memberikan materi dikelas tanpa memberikan motivasi kepada siswanya. Guru tidak seharusnya hanya marah jika siswanya tidak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) tanpa memberikan motivasi. Guru tidak hanya mengharuskan siswa untuk membaca tanpa memotivasi dan memberikan penjelasan tentang pentingnya membaca serta relevansinya dengan kebutuhan siswa.Perlu diketahui bahwa ada sebagian siswa yang dapat memotivasi dirinya sendiri dan ada sebagian siswa yang perlu dimotivasi oleh lingkungan sekitarnya, dalam hal ini bisa guru dan bisa juga orang tua.


DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Oemar. 1992, Psikologi Belajar Mengajar, Bandung:Sinar Baru.

Santrock, John W. 2007, Psikologi Pendidikan, Terjemahan oleh: Tri Wibowo B.S., Jakarta:Kencana Prenada Media Group.

Sardiman. 1996, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta:Raja
Grafindo Persada.

Soenarno, Adi, 2006. Motivation Games Untuk Pelatihan Manajemen, Yogyakarta:Andi Offset.

Soeitoe, Samuel. Psikologi Pendidikan, Jakarta:Fakultas Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia.

Moekjizat. 1984, Dasar-Dasar Motivasi, Bandung:Sumur, 1984.



KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF.
Continue Reading...
 

Daftar Blog

Daftar Blog

  • PROGRAM BANGKIT - Telah di buka Program Bangkit dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) yang merupakan program pembinaan talenta digital untuk mahasiswa ...
    4 tahun yang lalu

Daftar Blog

suhadianto.blogspot.com Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template